Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Poci Retak


Kabut putih berkilauan dengan lemah gemulai perlahan menipis, menyibak dedaunan dan ranting- ranting pohon-pohon tua dipuncak gunung yang menjulur tegar. Sinar matahari mulai membias, hutan pegunugan hijau pekat berbaur warna keemasan. Sayup-sayup masih terdengar jangkrik dan belalang saling bersahut-sahutan. Burung-burung kecil pun turut mengambil bagian dalam membentuk paduan  suara  yang indah.

Di sela-sela pepohonan, terlihat sebuah bangunan tua. Seekor burung hinggap dengan lincahnya di pucuk atap bangunan. Atapnya walaupun diselimuti lumut tebal, masih terlihat ukiran-ukiran indah di tepiannya, burung itu terbang turun, dan hinggap di jendela sebuah menara. Cahaya mentari menghujam dengan beraninya ke dalam ruangan itu melalui kisi-kisi rapuh. Di dalamnya ada sebuah lonceng raksasa yang didalamnya dipenuhi ukiran-ukiran syair, menandakan bahwa bangunan ini adalah sebuah vihara kuno. Tiba-tiba terdengar suara melengking seperti suara peluit. Burung biru kembali terbang dan hinggap disebuah pintu. Burung seakan tertegun ke dalam ruangan. Apa ada gerangan?

Sebuah tangan mungil berbekas luka sayat mengangkat teko dan meletakkannya  diatas meja. Tak lama kemudian sebuah tangan yang penuh garis-garis tua mengangkat teko air dari atas teko dan menuangkan air mendidih ke dalam poci teh kecil. Bapak tua itu dengan luwesnya menyiapkan teh untuk dinikmati dengan putra angkatnya, Siao Hung. Keharuman teh bagaikan membius indera, tak terasa pagi makin matang. Selesai membereskan perlengkapan minum teh dan membersihkan meja, Siao Hung mengambil gelas kaleng berisi air bersih, dengan lincah melangkahkan kaki ke sebuah jendela ke sudut ruangan. Dengan penuh konsentrasi, perlahan ia menuangkan air menyirami sebuah tanaman kacang yang mulai tumbuh sehat didalam poci teh dekat jendela. Guratan tidak beraturan pada posisi poci menjelaskan bahwa poci itu telah retak. Segala kesibukannya dipagi bersama ayahnya berakhir selalu diakhiri dengan menyirami dalam poci yang retak. Siao Hung tersenyum memandang keluar jendela…hening menerawang…………

Empat tahun silam, pengalaman yang sangat berbeda dialami oleh Siao Hung. Setelah ayah kandungnya meninggal, ia tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali kakak laki-lakinya yang hampir berumur dua puluh tahun lebih tua darinya. Ibunya meninggal saat mereka masih bayi. Kakanya berperawakan besar, berkulit coklat, berambut kaku, dan bermata tajam penuh dengan kebencian. Sepeninggal ayahnya, kakanya menjual kebun sayur yang digarap ayahnya. Ia lebih senag bermata pencarihan sebagai pengadu ayam jantan. Siao Hung diajaknya untuk turut mengadu ayam. Kadang kala jika ayam jantan satu-satunya milik mereka itu menang dalam pertarungan, uang hasil kemenagannya dihamburkan kakaknya  untuk pesta arak. Siao Hung sehari-harinya harus mencari kayu bakar, mencuci pakaian dan merawat ayam. Tidak jarang ayamnaya kalah berkali-kali sehingga luka hewan malang itu luka parah. Jika sang ayam sembuh dalam waktu dua hari, kakanya akan merlampiaskan pada Siao Hung yang dianggapnya tidak mampu merawat ayam dengan baik. Pukulan tangan adalah hukuman yang telah biasa ia terima. Penganiayaan akan semakin keras jika Siao Hung menangis; baginya seorang anak laki-laki tidak pantas meneteskan air mata. Sebaliknya, kakanya akan menantang adiknya untuk melawan, padahal semakin ia menantang semakin marahlah kakanya. Hari demi hari berlalu, lama-kelamaan  Siao Hung yang masih berumur sembilan tahun menjadi anak yang nakal. Selagi menonton pertarungan ayam, Siao Hung sibuk mencopet ini pun berkat didikan kakanya. Hukuman fisik menanti jika Siao Hung pulang dengan tangan kosong.

Suatu hari petaka tak terelakkan lagi karena luka belum sembuh benar, ayam jantan mereka mati dalam pertarungan yang hanya berlangsung beberapa menit. Siao Hung turut menyaksikan pertarungan seru itu sehingga belum sempat untuk mencuri uang para penonton. Sesampainya dirumah, kakaknya marah besar. Matanya merah membara, nafasnya memburu, dan bau arak yang tajam tercium dari mulutnya. Siao Hung gemetar melihat pisau kecil di tangan kakanya. Kakaknya berteriak-teriak mengancam hendak menghabisi nyawa adiknya. Ayam jantan mereka telah mati, mata pencaharian mereka tamatlah sudah. Kakanya yang sudah kehilangan akal sehat itu berpikir dengan matinya Siao Hung, bebanya akan berkurang. Dengan sigap kakanya menagkap tangan Siao Hung. Tak kalah gesitnya Siao Hung berteriak mengelak dan lari keluar rumah melalui jendela. Saat tanganya menggapai daun jendela, pisau yang dilemparkan ke arahnya melukai punggungnya. Siao Hung berteriak kesakitan, darah bercucuran. Ia berlari sekencang-kencangnya sambil menangis dan memanggil-manggil nama ayahnya, tidak berani menoleh ke belakang lagi, tidak tau apakah kakanya mengejar atau tidak. Ia sudah tidak peduli lagi tiba- tiba ia hampir menabrak sebuah gerobak. Tidak jelas apa yang terjadi, semua berlangsung begitu cepat, sepertinya ada seseorang yang menarik tubuhnya ke atas gerobak. Setelah itu semuanya gelap………

Dari kejahuan terdengarlah suara-suara sekelompok orang berkumandang penuh kedamain. Sesekali terdengar seperti bunyi gong. Siao Hung perlahan membuka matanya, dengan pandangan terheran heran, bingung, ia melihat sekeliling ruangan yang asing baginya. Luka di tangan kananya terbalut rapi. Tiba-tiba suara langkah kaki dan  batuk-batuk seseorang mendekat. Siou Hung terkejut dan takut. Dilihatnya bapak tua dengan hati-hati menghampirinya. Wajahnya penuh dengan kerutan, rambutnya hampir tidak ada lagi, yang ada hanya beberapa helai yang sudah berwarna perak. Bapak itu tersenyum, rasa iba  dan kasih terpancar jelas dari wajahnya. Ia membawakan semangkuk air.

Seketika itu juga hilanhglah rasa takut yang ada dalam diri Siao Hung, pancaran mata itu sama dengan pancaran mata ayahnya yang masih melekat dalam benak Siao Hung. Ia merasa seperti bertemu lagi dengan ayahnya. Belumlah bibir mungilnya menyentuh mangkuk air, Siao Hung menangis tersedu-sedu, teringat apa yang telah terjadi sehari sebelumnya. Sang Bapak membelai dan memeluk rambutnya yang lusuh dan kotor. Persis seperti ayah kandungnya yang dulu sering membelainya. Di dalam isakan,  Siao Hung hanya bisa berkata lirih “tolognglah saya”. Sang bapak dengan penuh haru menjawab, “kau ditempat yang tepat, anakku…..kau berada di tempat yang tepat”. Sang bapak menarik nafas panjang.

Sehari penuh dilalui Siao Hung bersama sang bapak. Barulah Siao Hung menyadari bahwa ia berada di dalam sebuah vihara tua di pegunungan dan sang bapak adalah seorang tukang kayu disana. Siao Hung tidak begitu peduli dengan bagaimana bisa sampai di vihara itu, yang penting ia merasa sangat tertolong oleh sang bapak. Ia menceritakan semua yang pernah dialaminya. Sang bapak mendengarkan dengan seksama, sambil sesekali menarik napas panjang. Ia bisa merasakan duka dan luka batin dalam diri anak malang itu.

Pagi berganti siang, siang berganti malam. Hari-hari berlalu dengan perlahan namun pasti. Siao Hung menjadi sorang anak pendiam walaupun ia rajin mengerjakan apa saja yang ditugaskan padanya. Sesekali sang bapak tua yang kini dipanggilnya ”Ayah” menemukan Siao Hung duduk seorang diri sambil merenung di bawah Pohon Bodhi di halaman Vihara. Kadang kala bisa terlihat rasa takut dan was-was terpancar dari mata anak itu bila ada orang asing yang mengajaknya bicara. Ia hanya bisa berbicara lebih leluasa dengan ayah angkatnya. Sang ayah dengan prihatin memperhatikan setiap gerak-geriknya sambil mencari jalan untuk mengobati batin Siao Hung yang telah terluka itu. Ia sangat memahami goncangan jiwa anak angkatnya yang sangat disayanginya itu.

Dengan penuh kesabaran, sedikit demi sedikit sang ayah yang rajin ibadah itu mengajarkan apa yang dimengertinya mengenai ajaran Sang Buddha kepada putranya. Yang paling sering diperkenalkan padanya adalah riwayat dan sabda Sakyamuni Buddha dan welas asih Avalokitesvara Bodhisattva yang tiada tara, sampai-sampai Siao Hung pernah mengatakan bahwa Sakyamuni Buddha dan Avalokitesvara Bodhisatva adalah juga orang tua angkatnya. Sang ayah menganggapnya sebagai suatu ekspresi keluguan seorang anak yang penuh dengan harapan baru. Siao Hung mulai mengerti alur dan liku-liku kehidupannya. Ia menyesali segala perbuatan buruknya: membangkang, mencuri, menyakiti binatang, berbohong, dan masih banyak lagi. Akan tetapi dari kesemuanya itu, yang paling mengganjal dihatinya adalah kebimbangannya untuk kembali kepada kakaknya atau tetap tinggal di vihara.

Ia merasa bersalah telah lari dari kakak satu-satunya, seharusnya ia bisa lebih tegar dan berusaha untuk menolong kakaknya. Ia merasa dirinya tidak bermanfaat bagi keluarganya. Suatu hari, tidak tahan lagi, hal ini ditanyakan pada sang ayah.

Degan bijaksana sang ayah menjelaskan bahwa bila ia berada berada di rumah bersama kakaknya akan berbuat karma yang lebih buruk lagi dari apa yang telah diperbuatnya selama itu. Siao Hung lari dari rumah bukan atas dasar kebencian. Ia lari untuk menyelamatkan dirinya dan tanpa disadarinya ia juga telah menyelamatkan kakaknya. Dijelaskan pula bahwa selama itu ia telah menjalankan kewajibannya sebagai seorang anak dan adik dengan cukup baik, walau pada akhirnya berada di jalan yang salah. Bila Siao Hung tetap tinggal di vihara, ia bukan hanya dapat belajar Buddha Dharma, taat beribadah, berbuat kebajikan untuk orang banyak, bahkan semua makhluk, ia juga dapat berbuat demi keselamatan dan kebahagiaan orang tua dan kakak kandungnya dengan mengembangkan jasa kebajikan yang ia pupuk selama ini untuk mereka. Mendengar ini, maka Siao Hung berkaca-kaca, sang ayah menariknya kedalam pelukannya.

Disuatu pagi di musim dingin, seperti biasa, Siao Hung bangun tepat waktu untuk kemudian bersama-sama ayah angkatnya melakukan sembahyang pagi. Namun dilihatnya ada sebuah kotak kecil disampingnya. Dengan penuh rasa ingin tahu ia membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah poci kecil berwarna coklat, poci itu telah retak.

Ia kenal betul dengan poci itu karena sering dipakai oleh ayah angkatnya untuk minum teh bersamanya setelah sembahyang pagi. Ia mengusap-usap matanya, dalam hati ia bertanya-tanya, apa makna hadiah ini, dan mengapa ayah menghadiahkan poci yang retak? kemudian dibukanya tutup poci itu, di dalamnya terdapat sebuah kertas kecil bertuliskan:
‘’Hadiah satu tahun menjadi putraku.’’
‘’Poci yang retak sepertinya tidak bermanfaat lagi.

Keretakan takkan mungkin bisa dihapus, ditambal dan diperbaiki seperti semula.
Akan tetapi jadikanlah poci yang retak ini sebuah pot kecil. 
Janganlah bersedih, menyesal dan rendah diri menjadi poci yang retak.
Bagaikan keretakan, karma dalam kehidupan takkan dapat dihapus.
Namun  jika poci ini dijadikan pot mungil, bahkan sebuah poci yang retakpun dapat menjadi tempat tumbuh suburnya sebuah kehidupan baru, sebuah bibit baru, bibit kebuddhaan. (V3)

Sumber: 
http://www.bodhidharma.or.id/dharma-bodhi/70-poci-retak.html

0 comments:

Post a Comment