Chat Here

Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Bikkhu dan Makhluk Halus Penghuni Hutan

Ketika Sang Buddha sedang berdiam di Savatthi bersama dengan murid-muridnya, Sang Buddha memerintahkan kelima ratus orang muridnya untuk berlatih diri, bermeditasi di hutan untuk mencapai tingkat kesucian. Kelima ratus orang bhikkhu itu lalu pergi menuju ke suatu desa yang cukup besar. Penduduk desa yang ketika mengetahui murid-murid Sang Buddha mendatangi desa mereka, segera menyambutnya dengan menyiapkan tempat untuk beristirahat, dan mempersembahkan bubur dan makanan lainnya. Mereka lalu bertanya:
“Kemanakah Bhante akan pergi?”.

Para bhikkhu itu menjawab:
“Kami akan pergi ke suatu tempat yang nyaman”.

Penduduk desa itu menyarankan:
“Bhante, tinggallah di hutan di dekat desa kami ini selama tiga bulan, sehingga kami dapat mempelajari Dhamma dibawah bimbinganmu”.

Para bhikkhu menyetujuinya, dan para penduduk berkata lagi:
“Bhante, di dekat desa kami ada hutan kecil, Bhante dapat tinggal di sana”.

Kelima ratus orang bhikkhu itu lalu pergi menuju hutan yang ditunjukkan penduduk desa.
Di dalam hutan itu banyak terdapat makhluk halus penghuni hutan, mereka mengetahui kedatangan para bhikkhu,
“Sekumpulan bhikkhu akan datang ke hutan ini, apabila para bhikkhu itu tinggal di sini, pasti tidak enak lagi kita berdiam di sini bersama anak dan istri”.

Mereka turun dari pohon dan duduk di bawah, mereka berpikir lagi:
“Kalau bhikkhu-bhikkhu itu tinggal di sini hanya satu malam, besok mereka pasti pergi dari hutan ini”.

Mereka lalu duduk diam di bawah pohon. Tetapi keesokkan harinya setelah para bhikkhu berpindapata ke desa di dekat hutan itu dan makan hasil pindapatanya, ternyata mereka kembali ke hutan itu. Para makhluk halus penghuni hutan itu berpikir:
“Besok, kalau ada yang mengundang mereka, mereka pasti pergi dari sini. Kalau hari ini mereka tidak jadi pergi, besok mereka pasti pergi”. Setelah berpikir demikian, mereka duduk kembali di bawah pohon sepanjang malam.

Makhluk halus penghuni hutan ragu-ragu, apakah para bhikkhu itu akan segera pergi dari tempat tinggal mereka, lalu berpikir kembali:
“Apabila para bhikkhu ini tinggal di sini selama tiga bulan, pasti tidak enak lagi tinggal di sini, lagipula kita sudah lelah sekali duduk di bawah. Bagaimana yah, caranya supaya para bhikkhu ini pergi dari sini?”.

Karena merasa terganggu akhirnya makhluk halus penghuni hutan itu mengganggu para bhikkhu supaya mereka pergi dari tempat tinggal mereka. Siang dan malam hari para bhikkhu itu diganggu, ada yang melihat kepala-kepala beterbangan, ada pula yang melihat badan tanpa ada kepalanya berjalan-jalan, lalu terdengar suara-suara yang menyeramkan.
Pada waktu yang bersamaan, para bhikkhu itu banyak yang menderita bermacam-macam penyakit, ada yang sakit batuk, pilek atau sakit-sakit lainnya. Mereka lalu saling bertanya:
“Saudaraku, kamu sakit apa?”.

“Saya sakit pilek”.

“Saya batuk-batuk”.

“Saudaraku, hari ini saya melihat banyak kepala beterbangan”.

“Saudaraku, di malam hari saya melihat badan tanpa kepala berjalan-jalan”.

“Saya mendengar suara-suara yang menyeramkan”.

“Saudaraku, kita harus meninggalkan tempat ini, tempat ini tidak cocok untuk kita. Mari kita menemui Guru kita, Sang Buddha”.

Mereka meninggalkan hutan itu dan menemui Sang Buddha, setelah memberikan hormatnya dengan bernamaskara, mereka lalu duduk dan menceritakan mengapa mereka kembali, Sang Buddha lalu berkata:
“Bhikkhu, mengapa kalian tidak dapat tinggal di hutan itu?”.

Para bhikkhu menjawab:
“Yang Mulia, kami tidak dapat lagi tinggal di sana, tempat itu amat menyeramkan, banyak hal menakutkan yang kami lihat dan alami. Tempat itu tidak nyaman untuk kami, jadi kami memutuskan untuk pergi dari sana dan kembali menemui Yang Mulia”.

“Bhikkhu, kamu harus kembali ke tempat itu”.

“Maaf Yang Mulia, kami tidak mau kembali ke sana”.

“Bhikkhu, ketika kamu pergi ke hutan itu untuk pertama kalinya, kamu tidak membawa “senjata”. Dan sekarang kamu harus membawa “senjata” bila kamu kembali ke sana”.

“Senjata apakah itu Yang Mulia?”

Sang Buddha lalu menjawab,
“Aku akan memberikan senjata yang dapat kamu bawa kemana pun kamu pergi”.

Sang Buddha mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta:

Inilah yang harus dilaksanakan
oleh mereka-mereka yang tekun dalam kebaikan.
Dan telah mencapai ketenangan bathin.
Ia harus pandai, jujur, sangat jujur.

Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.
Merasa puas, mudah dirawat
Tiada sibuk, sederhana hidupnya
Tenang indrianya, selalu waspada

Tahu malu, tidak melekat pada keluarga
Tak berbuat kesalahan walaupun kecil
yang dapat dicela oleh para Bijaksana.
Hendaklah ia selalu berpikir:
“Semoga semua makhluk sejahtera dan damai,
semoga semua makhluk berbahagia” 

Makhluk apapun juga
Baik yang lemah atau yang kuat tanpa kecuali
Yang panjang atau yang besar
yang sedang, pendek, kurus atau gemuk 

Yang terlihat atau tidak terlihat
Yang jauh maupun yang dekat
Yang telah terlahir atau yang akan dilahirkan
Semoga semuanya berbahagia 

Jangan menipu orang lain
Atau menghina siapa saja,
Janganlah karena marah dan benci
Mengharapkan orang lain mendapat celaka 

Bagaikan seorang ibu mempertaruhkan nyawanya
Untuk melindungi anaknya yang tunggal
Demikianlah terhadap semua makhluk
Dipancarkannya pikiran kasih sayang tanpa batas 

Hendaknya pikiran kasih sayang
Dipancarkannya ke seluruh penjuru alam,
ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling
Tanpa rintangan, tanpa benci, atau permusuhan 

Sewaktu berdiri, berjalan, atau duduk
Atau berbaring sesaat sebelum tidur
Ia tekun mengembangkan kesadaran ini
Yang dinamakan “Kediaman Brahma” 

Tidak berpegang pada pandangan yang salah
Tekun dalam sila dan memiliki kebijaksanaan,
Hingga bathinnya bersih dari segala nafsu indria
Maka ia tak akan lahir lagi dalam rahim manapun juga 

Selesainya Sang Buddha mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta, Sang Buddha berkata:
“Bhikkhu, bacakanlah Karaniya Metta Sutta ini, ketika kamu hendak masuk ke dalam hutan, dan ketika hendak memasuki tempat meditasi”.

Setelah berkata demikian, Sang Buddha melepaskan para bhikkhu kembali ke hutan.
Para bhikkhu menghormat Sang Buddha dan kembali ke hutan dengan membawa “senjata” yang telah Sang Buddha ajarkan. Dengan membacakan Karaniya Metta Sutta bersama-sama, mereka masuk ke dalam hutan.

Makhluk halus penghuni hutan mendengar Karaniya Metta Sutta, yang menggambarkan cinta kasih dan belas kasihan kepada semua makhluk. Sesudahnya mereka amat senang dan merasa bersahabat dengan para bhikkhu. Kemudian mereka mendatangi para bhikkhu dan minta ijin agar diperbolehkan membawakan mangkok-mangkok dan jubah-jubah. Mereka membersihkan tangan dan kaki para bhikkhu, lalu menempatkan penjagaan yang kuat di sekelilingnya. Mereka duduk bersama-sama para bhikkhu, berjaga-jaga. Suara-suara dan bayangan-bayangan menakutkan tidak ada lagi, para bhikkhu menjadi tenang dan nyaman.

Mereka segera duduk bermeditasi, melatih diri pada siang dan malam hari, untuk mendapatkan Pandangan Terang. Dengan pikiran yang terpusat dan terkendali mereka merenungkan kematian, tentang tubuh yang mudah rusak dan membusuk, lalu mereka menarik kesimpulan,
“Tubuh ini rapuh bagaikan tempayan”.

Mereka lalu mengembangkan Pandangan Terang.

Sang Buddha yang sedang bermeditasi mengetahui bahwa murid-muridnya mulai mengembangkan Pandangan Terang, lalu ia berbicara kepada mereka:
“Demikianlah bhikkhu. Tubuh ini rapuh bagaikan tempayan”.
Sambil berkata demikian, Sang Buddha mengirimkan bayangan dirinya yang dapat terlihat dengan jelas oleh murid-muridnya.

Meskipun Sang Buddha berada amat jauh, tetapi para bhikkhu dapat melihat Sang Buddha dalam bentuk yang nyata, dengan memancarkan sinar yang amat terang, Sang Buddha mengucapkan syair:

“Dengan menyadari bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan, maka hendaknya seseorang memperkokoh pikirannya bagaikan benteng kota dan menyerang mara dengan senjata kabijaksanaan”

(Dhammapada, Citta Vagga no. 8)
Ia harus menjaga apa yang telah ditaklukkannya dan tidak melekat pada apapun juga.

Sumber: samaggi-phala.or.id

Buddha Jaya Mangala Gatha

Bāhum sahassam-abhinimmita-sāyudhantam
Grīmekhalam udita-ghora-sasena-māram
Dānādi-dhamma-vidhinā jitavā munindo
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.
Baca Kisah >>

Mārātirekam-abhiyujjhita-sabba-rattim
Ghorampanāḷavaka-makkham-athaddha yakkham
Khantī-sudanta-vidhinā jitavā munindo
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.
Baca Kisah >>

Nāḷāgirim gaja-varam atimattabhūtam
Dāvaggi-cakkam-asanīva sudāruṇantam
Mettambuseka-vidhinā jitavā munindo
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.
Baca Kisah >>

Ukkhitta-khaggam-atihattha sudāruṇantam
Dhāvan-ti-yojana-pathanguli-mālavantam
Iddhībhisankhata-mano jitavā munindo
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.
Baca Kisah >>

Katvāna kaṭṭham-udaram iva gabbhinīyā
Ciñcāya duṭṭha-vacanam jana-kāya-majjhe
Santena soma-vidhinā jitavā munindo
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.
Baca Kisah >>

Saccam vihāya mati-saccaka-vāda-ketum
Vādābhiropita-manam ati-andhabhūtam
Paññā-padīpa-jalito jitavā munindo
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.
Baca Kisah >> 

Nandopananda-bhujagam vibudham mahiddhim
Puttena thera-bhujagena damāpayanto
Iddhūpadesa-vidhinā jitavā munindo
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.
Baca Kisah >>

Duggāha-diṭṭhi-bhujagena sudaṭṭha-hattham
Brahmam visuddhi-jutim-iddhi-bakābhidhānam
Ñāṇāgadena vidhinā jitavā munindo
Tan-tejasā bhavatu te jaya-mangalāni.
Baca Kisah >>

Etā'pi Buddha-jaya-mangala-aṭṭha-gāthā
Yo vācano dinadine sarate matandī
Hitvānaneka-vividhāni cupaddavāni
Mokkham sukham adhigameyya naro sapañño.

Terjemahan Indonesia

Dengan seribu tangan,
yang masing-masing memegang senjata
Dengan menunggang gajah Girimekhala,
Māra bersama pasukannya meraung menakutkan;
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan Dhamma-Dāna
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Baca Kisah >>

Lebih dari Māra yang membuat onar sepanjang malam
Adalah Yakkha Āḷavaka yang menakutkan, bengis dan congkak
Raja para Bijaksana menaklukkannya, menjinakkannya dengan kesabaran;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Baca Kisah >>

Nāḷāgiri gajah mulia menjadi sangat gila
Sangat kejam bagaikan hutan terbakar,
bagai senjata roda atau halilintar;
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan percikan air cinta kasih;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Baca Kisah >>

Sangat kejam, dengan pedang terhunus dalam tangan yang kokoh kuat;
Angulimāla berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana
dengan berkalung untaian jari;
Raja para Bijaksana menaklukkannya
dengan kemampuan pikiran sakti yang mengagumkan;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Baca Kisah >>

Setelah membuat perutnya gendut seperti wanita hamil
dengan mengikatkan sepotong kayu;
Ciñcā memfitnah di tengah-tengah banyak orang
Raja para Bijaksana menaklukkannya
dengan sikap kesatria dan kedamaian;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Baca Kisah >>
 
Saccaka, yang biasanya berkata menyimpang dari kebenaran
Dengan pikiran buta, mengembangkan teorinya bagaikan bendera;
Raja para Bijaksana menaklukkannya
dengan terangnya pelita kebijaksanaan;
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Baca Kisah >>

Nandopananda naga berpengertian salah memiliki kekuatan besar;
Putra Sang Buddha yang terkemuka (Moggallāna Thera)
sebagai naga pergi untuk menjinakkan;
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan kekuatan sakti
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Baca Kisah >>

Bagaikan ular yang melilit pada lengan,
demikian pandangan salah dimiliki;Oleh Bakā,
dewa Brahma yang memiliki sinar dan kekuatan
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan obat pengetahuan
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Baca Kisah >>

Inilah delapan Syair Kemenangan Sempurna Sang Buddha
Yang seharusnya dibaca dan direnungkan setiap hari tanpa rasa malas;
Hingga mampu mengatasi berbagai rintangan
Orang bijaksana dapat mencapai Pembebasan dan Kebahagiaan.

Kisah Menaklukkan Dewa Brahma Baka

Duggahaditthi bhujagena sudattha hattham
Brahmam visudhi jutimiddhi bakabhidhanam
Nanagadena vidhina jitava munindo
Tan tejasa bhavatu te jayamangalani
Bagaikan ular yang melilit pada lengan,
Demikian pandangan salah dimiliki oleh Baka, Dewa Brahma yang memiliki sinar dan kekuatan
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan obat pengetahuan
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna
Ketika Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Beliau mengetahui bahwa Dewa Brahma Baka, mempunyai pandangan yang salah. Ia berpendapat bahwa Brahma-loka (=Alam Brahma) adalah kekal, tetap untuk selama-lamanya, abadi, tidak berubah; selain di alam Brahma tidak ada penyelamatan atau pembebasan secara menyeluruh.

Di dalam kelahirannya yang terdahulu, Dewa Brahma Baka yang berlatih meditasi, terlahir kembali di Surga Vehapphala. Beliau berada di sana selama lima ratus kalpa 2), lalu terlahir kembali di Surga Subhakinna. Sesudah berada di sana selama enam puluh empat kalpa, ia terlahir kembali di Surga Abhassara, di sana ia berada selama delapan kalpa. Di Surga Abhassara inilah ia mempunyai pandangan salah. Ia lupa bahwa ia pindah dari Alam Brahma yang tertinggi dan terlahir di Alam Surga yang lebih rendah yaitu Surga Abhassara.

Sang Buddha mengetahui pandangan yang salah ini. Beliau lalu menghilang dari Vihara Jetavana dan muncul di Alam Brahma. Vasavatti Mara mengetahui maksud Sang Guru Agung ini; dan ia berniat untuk menghalangi, ia lalu pergi ke Alam Brahma yang sama.

Ketika Sang Buddha mulai berbicara dengan Dewa Brahma Baka, Mara menyela pembicaraan dengan mengatakan bahwa Dewa Brahma Baka amat bijaksana dan mempunyai kekuatan terhadap Dewa Brahma lainnya. Bahwa ialah yang menciptakan dunia ini, menciptakan Gunung Maha Meru (nama gunung tertinggi di dunia ini), dan menciptakan dunia-dunia lain; ia pula yang menentukan kasta atau tingkatan suatu mahluk; ia pula yang menciptakan bermacam-macam binatang.

Mara berkata kepada Sang Buddha :
“Tidak ada seorang pertapapun sebelum Kamu yang berpikir bahwa dunia ini tidak abadi. Dan sesudah mempelajari bahwa segala sesuatu itu tidak abadi, mereka langsung masuk ke neraka. Ada beberapa Dewa Brahma yang menyangkal hal ini, mereka menyatakan bahwa segala sesuatu adalah abadi, maka mereka terlahir kembali di Alam Brahma. Karena itu, lebih baik Kamu mengajarkan hal yang sama, seperti yang para Dewa Brahma lakukan. Saya memberiMu nasehat ini, kalau Kamu mengajarkan doktrin yang sama, maka Kamu akan memperoleh hadiah yang sama pula; tetapi kalau Kamu menyangkalnya maka Kamu akan hancur.”

Tetapi Sang Buddha menjawab :
“Saya tahu siapa kamu ini. Kamu adalah Mara si Penggoda, janganlah kamu berpikir kamu dapat mengelabuiKu.”

Kemudian Dewa Brahma Baka berkata bahwa Alam Brahma selalu ada, di mana tidak ada kehancuran ataupun kematian. Tidak ada perpindahan dari satu alam ke alam lain; segala sesuatunya selalu kekal, tetap, abadi, mutlak dan tidak berubah; selain di Alam Brahma tidak ada keselamatan. Dan banyak Para Buddha sebelum Buddha Gotama, kemanakah mereka lenyap? Tidak ada seorangpun yang dapat mengatakan mereka pergi kemana; dan akan lebih baik apabila Buddha Gotama merasa malu dengan doktrinNya, dan lebih baik menerima doktrin yang sama dengan para Dewa Brahma.

Tetapi Sang Buddha Gotama memperlihatkan kemampuanNya yang luar biasa kepada Dewa Brahma Baka, dengan menjelaskan tentang enam kelahiran Dewa Brahma Baka yang terdahulu, dimana Beliau sendiri menghilang tanpa diketahui berada di mana.

Sang Buddha lalu menjelaskan :
Dalam salah satu kelahirannya, Dewa Brahma Baka adalah seorang pertapa yang bertempat tinggal di tepi sungai. Pada waktu itu, ada lima ratus orang pedagang datang dengan membawa keretanya ke tempat yang sama pula, mereka amat sopan dan ramah. Tidak lama kemudian, sapi jantan pertama yang menarik kereta, pulang kembali ke rumah dan diikuti sapi-sapi jantan lainnya. Keesokan paginya, para pedagang itu tidak mempunyai minyak, makanan ataupun air minum, mereka amat kelaparan dan kehausan. Mereka amat lemas, hanya berbaring saja dengan berpikir mereka akan mati di sana. Tetapi pertapa yang melihat mereka dalam kesulitan membawakan air minum, sehingga para pedagang itu selamat dari kematian.

Pada lain waktu, beberapa pencuri mencuri di suatu desa, mereka mengambil barang yang mereka sukai. Si Pertapa yang mengetahui perbuatan para pencuri itu, lalu menciptakan suara-suara dari barang-barang yang mereka curi itu, dalam lima tangga nada yang cukup keras, sehingga para pencuri itu terkejut dan membuang barang-barang yang mereka curi. Dengan ketakutan mereka melarikan diri, karena mengira raja datang.

Pada kesempatan lain, penduduk dari dua desa yang bersisian di tepi sebuah sungai setuju pergi bersama-sama naik sebuah kapal untuk berdagang. Kepergian mereka diketahui oleh Naga jahat yang berniat ingin menghancurkan mereka, tetapi pertapa yang mengetahui niat jahat Naga itu lalu menampakkan dirinya sebagai garuda raksasa. Garuda itu menakut-nakuti dan menyerang Naga jahat itu, sehingga Naga tersebut terbang ketakutan tanpa menyentuh para pedagang. Mereka selamat dari mara bahaya.

Karena tindakan-tindakannya yang penuh dengan cinta kasih kepada mahluk lain inilah, yang menyebabkan pertapa itu terlahir kembali di Alam Brahma.

Sang Buddha Gotama menunjukkan kemampuanNya yang luar biasa sebagai seorang Buddha dalam membabarkan Dhamma, menjelaskan tentang Empat Kesunyataan Mulia. Sehingga pada akhirnya pikiran dari seribu dewa di Alam Brahma terbebas dari kemelekatan dan pandangan keliru.

Dewa Brahma Baka mengakui bahwa apa yang Sang Buddha Gotama katakan adalah benar, dan mengakui pengetahuan Sang Guru Agung yang luar biasa, sehingga ia menyatakan diri berlindung kepada Sang Tri Ratna, demikian pula para Dewa Brahma lainnya. Sang Buddha lalu pulang kembali dari Alam Brahma ke Vihara Jetavana.

Sumber: samaggi-phala.or.id

Kisah Menaklukkan Raja Naga Nandopananda

Nandopananda bhujagam vibudham mahiddhim
Puttena Thera bhujagena damapayanto
Iddhupadesa vidhina jitava munindo
Tan tejasa bhavatu te jayamangalani
Nandopananda naga berpengertian salah memiliki kekuatan besar
Putra Sang Buddha yang Terkemuka (Moggallana Thera) sebagai naga pergi untuk menjinakkan
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan kekuatan kesaktian
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna
Pada suatu hari, jutawan Anathapindika, sesudah mendengarkan Ajaran Sang Buddha di Vihara Jetavana, mengundang Sang Guru Agung dengan lima ratus bhikkhu untuk menerima dana pada esok harinya.

Pagi-pagi sekali, pada saat Sang Buddha memeriksa keadaan di dunia ini, Beliau melihat Raja Naga Nandopananda mempunyai pandangan salah, tetapi mempunyai karma baik untuk berlindung kepada Sang Tri Ratna. Sang Guru juga melihat hanya Bhikkhu Moggallana yang mempunyai kemampuan untuk menaklukkan Raja Naga itu.

Sang Buddha meminta Bhikkhu Ananda untuk memanggil lima ratus muridNya untuk menyertai Beliau ke Surga Tavatimsa 2). Sang Buddha beserta para bhikkhu terbang di udara. Dalam perjalanan menuju Surga Tavatimsa, mereka melintas di atas kediaman Nandopananda. Ketika itu, ia sedang menikmati makanannya yang enak. Ia sangat marah melihat para bhikkhu terbang melintas di atas kediamannya, dan berniat untuk menghalangi perjalanan mereka.
 
Ia lalu bergelung melingkari Gunung Sineru sebanyak tujuh kali dan kepalanya berada di puncak gunung. Ia menciptakan kegelapan, membuat segala sesuatu tidak kelihatan, sehingga menyebabkan Surga Tavatimsa tidak dapat terlihat. Kegelapan yang terjadi dengan mendadak ini, menyebabkan Bhikkhu Ratthapala berkata kepada Sang Buddha, bahwa tidak ada surga maupun Istana Vejayanta dapat terlihat pada hari itu. Sang Buddha lalu menjelaskan kepadanya bahwa Raja Naga Nandopanandalah yang menyembunyikan gunung tersebut. Setelah mendengar penjelasan Sang Guru, Bhikkhu Ratthapala berkata ia akan pergi dan menaklukkan Raja Naga itu, tetapi Sang Buddha tidak mengijinkannya.

Kemudian Bhikkhu Bhaddiya maju ke depan, menawarkan diri untuk menaklukkannya, tetapi Sang Buddha juga tidak mengijinkannya. Kemudian Bhikkhu Rahula dan beberapa bhikkhu lainnya juga tidak diijinkan oleh Sang Buddha untuk menaklukkan Raja Naga itu.

Dengan seijin Sang Buddha, Bhikkhu Moggallana pergi untuk menaklukkan Raja Naga Nandopananda. Beliau lalu mengubah dirinya seperti Raja Naga juga, lalu mendekati Nandopananda. Ia lalu melingkari Nandopananda sebanyak empat belas kali dengan ekornya.

Ia menaruh kepalanya di atas kepala Nandopananda dan menekannya ke bawah ke Gunung Sineru. Raja Naga berusaha keras untuk melepaskan diri dengan menyemburkan bisanya. Tetapi Bhikkhu Moggallana mengirimkan serangan balasan, yang lebih kuat daripada Raja Naga yang membuat Raja Naga itu amat menderita. Kemudian Raja Naga menyemburkan api, dan Bhikkhu Moggallana juga melakukan hal yang sama. Semburan api itu amat menyakiti Raja Naga, tetapi sebaliknya semburan api Raja Naga tidak menyakiti Bhikkhu Moggallana.

Nandopananda lalu berteriak dengan marah : “Siapakah engkau?”

“Saya adalah Moggallana,” jawab Bhikkhu Moggallana yang sudah kembali ke wujudNya semula.
Sesudah itu Bhikkhu Moggallana masuk ke dalam salah satu kuping Raja Naga dan keluar dari kuping lainnya. Ketika Raja Naga membuka mulutnya, Bhikkhu Moggallana memasuki perutnya, dan mulai berjalan naik turun, dari kepala sampai ke ekor dan dari ekor sampai ke kepala. Sang Buddha menegur Bhikkhu Moggallana dan mengingatkanNya akan kekuatan Raja Naga itu.

Raja Naga amat marah dengan gangguan pada ususnya yang amat menyakitkan. Ia lalu memutuskan untuk menekan sampai mati kalau Bhikkhu Moggallana keluar dari mulutnya. Ia lalu berkata :
“Yang Mulia, keluarlah dan jangan berjalan naik turun di dalam perutku ini.”

Tetapi Bhikkhu Moggallana keluar tanpa diketahuinya. Ketika Raja Naga itu melihatNya sudah berada di luar, ia lalu menyemburkan racun berbisanya yang lain. Bhikkhu Moggallana dengan segera masuk ke Jhana Keempat 3), di sana semburan racun berbisa itu tidak dapat menyentuh selembar rambutpun di tubuhNya.

Selain Sang Buddha, hanya Bhikkhu Moggallana yang dapat masuk ke Jhana Keempat dengan segera. Para bhikkhu lainnya harus mempersiapkan diri terlebih dahulu dengan bermeditasi. Bagaimanapun mereka tidak akan dapat dengan segera memasuki Jhana Keempat agar dapat terhindar dari semburan racun berbisa Raja Naga itu, karena apabila terlambat mereka akan hangus menjadi abu. Sang Buddha telah mengetahui kejadian yang amat kritis ini, dan tidak mengijinkan para bhikkhu yang lain, kecuali hanya Bhikkhu Moggallana yang dapat menaklukkan Raja Naga ini.
Nandopananda menerima kekalahannya dan mengubah dirinya menjadi seorang pemuda dan berkata :
“Yang Mulia, saya ingin berlindung kepadaMu.”

Ia bersimpuh di kaki Bhikkhu Moggallana. Kemudian Bhikkhu Moggallana mengatakan bahwa Sang Buddha ada di sini dan mereka lalu pergi menemui Beliau.
Bhikkhu Moggallana membawa Raja Naga ke hadapan Sang Buddha, lalu bersujud :
“Yang Mulia, saya ingin berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha.”

Sang Buddha bersabda :
“O, Raja Naga, semoga kamu bahagia.”

Dengan diiringi ke lima ratus bhikkhu, Sang Buddha lalu melanjutkan perjalanan menuju Surga Tavatimsa menemui Raja Sakka.

Setelah selesai, Sang Buddha kemudian kembali ke Savatthi. Jutawan Anathapindika yang sedang menunggu kedatangan Sang Buddha untuk memberikan dananya, mendengar bahwa Bhikkhu Moggallana dapat menaklukkan Raja Naga Nandopananda merasa amat gembira, lalu ia mempersembahkan dana kepada Sang Buddha dan ke lima ratus bhikkhu terus-menerus selama satu minggu.

Keterangan :
1.Naga : Mahluk Asura yang mempunyai kesaktian
2.Surga Tavatimsa : Alam 33 Dewa yang diketuai oleh Dewa Sakka
3.Jhana Keempat : Salah satu tingkat pencapaian meditasi

Sumber: samaggi-phala.or.id

Kisah Menaklukkan Saccaka

Saccam vihãya matisaccaka vãdaketum
Vãdãbhiropitamanam atiandabhutam
Paññãpadipa jalito jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni
Saccaka, yang biasanya berkata menyimpang dari Kebenaran
Dengan pikiran buta, mengembangkan teorinya bagaikan bendera
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan terangnya pelita kebijaksanaan
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna
Seorang pertapa yang mempunyai kemampuan untuk mengingat lima ratus argumentasi dan perdebatan, tiba di Vesali dan ia disambut dengan baik di tempat itu. Seorang pertapa wanita yang mempunyai kemampuan yang sama juga datang ke Vesali. Para pemimpin bangsa Licchavi lalu mempertemukan keduanya dalam suatu perdebatan seru. Ketika mereka terbukti sebanding sebagai pendebat, tidak dapat saling mengalahkan, orang-orang Licchavi lalu mendapatkan ide bahwa pasangan yang demikian pasti akan menghasilkan anak-anak yang pandai. Mereka lalu mengatur pernikahan di antara keduanya. Mereka mempunyai empat orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Anak-anak perempuan itu bernama : Sacca, Lola, Avavadaka dan Patacara, sedangkan anak laki-laki diberi nama Saccaka. Kelima anak ini ketika mencapai usia dewasa telah mempelajari seribu argumentasi dan perdebatan, lima ratus dipelajari dari ibu mereka dan lima ratus dari ayah mereka. Orang tua mereka mengajarkan kepada anak-anak perempuannya demikian : “Bila ada pria yang dapat membuktikan kekeliruan dari pendapatmu, maka engkau harus menjadi istrinya, namun bila ia seorang pertapa, engkau harus menjadi muridnya.”

Setelah beberapa waktu kemudian, orang tua mereka meninggal dunia. Ketika orang tuanya telah meninggal dunia, Saccaka tetap tinggal di tempat yang sama, mempelajari pengetahuan dan tradisi bangsa Licchavi dan mengajar para pangeran Licchavi. Ke empat orang saudara perempuan Saccaka membawa sebuah cabang pohon apel, mengembara sebagai pendebat dari kota ke kota dan pada akhirnya tiba di Savatthi. Mereka lalu menanam cabang pohon apel tersebut di depan gerbang kota dan berkata kepada para pemuda yang berada di sana : “Bila ada seorang pria, apakah dia orang biasa ataupun seorang pertapa yang dapat menandingi kami di dalam mempertahankan suatu pendapat, biarkan ia mengacak tumpukan tanah dan menginjak cabang pohon ini.”

Setelah berkata demikian mereka memasuki kota untuk mengumpulkan dana makanan.
Ketika itu Yang Mulia Sariputta, setelah merapikan dan membersihkan vihara, dan mengunjungi orang-orang sakit, Beliau memasuki kota Savatthi untuk berpindapatta. Yang Mulia Sariputta lalu melihat dan mendengar tentang cabang pohon tersebut, Beliau lalu meminta para pemuda yang ada di situ untuk mencabut cabang pohon dan melemparkannya ke tanah. Beliau lalu berkata :
“Katakanlah kepada yang telah menanam cabang pohon ini, apabila mereka telah selesai bersantap untuk datang dan menemuiKu di ruangan di atas gerbang Vihara Jetavana.”

Yang Mulia Sariputta lalu memasuki kota dan setelah selesai bersantap, Beliau duduk menunggu di ruangan di atas gerbang Vihara Jetavana. Demikian pula dengan para pertapa wanita itu, setelah mereka kembali dari mengumpulkan dana makanan, mereka menemukan cabang pohon yang mereka tanam telah tercabut dan tergeletak di tanah. Mereka segera menanyakan siapa yang telah berani melakukannya. Para pemuda di situ mengatakan bahwa Yang Mulia Sariputtalah yang telah melakukannya, bila mereka ingin berdebat, mereka ditunggu di ruangan di atas gerbang vihara.

Para pertapa wanita itu lalu kembali ke kota, diikuti dengan banyak penonton yang ingin menyaksikan perdebatan itu. Mereka lalu menuju ke tempat di mana Yang Mulia Sariputta menunggu. Mereka segera mengajukan seribu macam pertanyaan kepada Yang Mulia Sariputta, dan Beliau dapat menjawab semua pertanyaan itu dengan baik, sampai akhirnya tidak ada lagi yang dapat mereka tanyakan. Yang Mulia Sariputta bertanya, apa lagi yang akan mereka utarakan, mereka menjawab : “Tidak ada lagi yang akan kami tanyakan Yang Mulia.”

Yang Mulia Sariputta berkata : “Saya akan mengajukan satu pertanyaan kepada kalian.”

Tetapi mereka tidak dapat menjawab pertanyaan itu, akhirnya mereka mengaku kalah:
“Yang Mulia, kami mengaku kalah, Andalah pemenangnya.”

“Apa yang akan kalian lakukan sekarang?” tanya Yang Mulia Sariputta.

Mereka menjawab :
“Orang tua kami menasihatkan demikian : ‘Apabila kamu dikalahkan di dalam suatu perdebatan oleh orang biasa, maka kamu harus menjadi istrinya, tetapi apabila ia seorang pertapa, kamu harus menjadi muridnya.’ Oleh karena itu, kami mohon kepada Yang Mulia untuk membimbing kami memasuki kehidupan suci.”

Yang Mulia Sariputta menyetujui dan mentahbiskan mereka dalam Sangha Bhikkhuni yang bernama Uppalavana. Dan dalam waktu yang singkat, mereka semua mencapai Tingkat Kesucian Arahat.

Saudara laki-laki mereka, Saccaka belajar lebih banyak dibandingkan saudara-saudara perempuannya. karena selain ia belajar dari orang tuanya, ia juga belajar kepada guru-guru yang lain. Saccaka menetap di Vesali menjadi guru bagi para pangeran. Ia terkenal sebagi pendebat ulung, yang tak terkalahkan dan ia ditakuti oleh lawan-lawannya. Karena ia merasa semakin banyak ilmu yang dipelajari, ia takut tubuhnya akan meledak, karena itu ia memakai ikat pinggang besi. Kepada semua orang ia memproklamirkan : “Tidak seorangpun yang mempunyai ilmu yang melebihi diriku.”
Dan banyak orang yang menjadi pengikutnya.

Pada suatu hari, Saccaka bertemu dengan Yang Mulia Assaji, yang sedang berpindapatta di kota Vesali. Ketika melihat Beliau, ia berpikir alangkah baiknya kalau ia dapat melakukan perdebatan dengan Sang Buddha. Ia telah sering mendengar tentang Sang Buddha, tetapi ia ingin mengetahui terlebih dahulu apa yang diajarkan oleh Sang Guru Agung. Ia lalu menghampiri Yang Mulia Assaji dan bertanya : “Yang Mulia, bagaimanakah Bhikkhu Gotama mengajar murid-muridNya? Apakah Ajaran Beliau yang paling mutakhir dan paling populer?”

Yang Mulia Assaji menjawab : “Yang Maha Suci menerangkan : Bentuk (=Rupã) adalah tidak kekal (=Aniccã); Kelompok perasaan (=Vedanã) adalah tidak kekal; Pencerapan (=Saññã) adalah tidak kekal; Bentuk batin yang berhubungan dengan keinginan (=Sankhãrã) adalah tidak kekal; Kesadaran (=Viññãna) adalah tidak kekal; dan Segala yang berwujud adalah tanpa jiwa / inti (=Anattã).

Demikianlah Yang Maha Suci mengajarkan murid-muridNya dan inilah Ajaran Beliau yang paling mutakhir dan paling populer.”

Ketika Saccaka mendengar pernyataan ini, ia berkata : “Sebelumnya saya tidak pernah mendengar doktrin seperti itu, saya akan menemui Bhikkhu Gotama dan meyakinkan Beliau akan kesalahan besar ini.”

Sebelumnya Saccaka takut mengadakan perdebatan dengan Sang Buddha karena ia belum mengetahui Ajaran Beliau, tapi sekarang rasa takutnya telah lenyap dan dengan membual tentang apa yang akan dicapainya, ia membujuk para pangeran untuk menyertainya menemui Sang Buddha. Ia berangkat ke Vihara Mahavana, dengan diiringi lima ratus orang pangeran Licchavi.

Sang Buddha telah mengetahui Saccaka akan datang menemuiNya, sekembali dari berpindapatta Beliau lalu meminta para bhikkhu untuk menyiapkan tempat duduk di bawah sebuah pohon di hutan yang berdekatan dengan vihara tersebut. Ketika Saccaka datang, ia dipersilakan menuju ke tempat tersebut. Para penduduk yang mendengar bahwa Saccaka datang dengan disertai lima ratus orang pangeran, untuk berdebat dengan Sang Buddha, berduyun-duyun datang ke hutan itu untuk menyaksikan perdebatan seru itu.

Setelah Saccaka memberikan salam hormat kepada Sang Buddha, Saccaka meminta ijin untuk mulai mengajukan pertanyaan. Sang Buddha berkata, ia dapat bertanya apa saja yang ingin ditanyakannya. Saccaka lalu mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakannya kepada Yang Mulia Assaji. Sang Buddha menjawab pertanyaan itu dengan memberi penjelasan yang menyeluruh dan terperinci mengenai dasar-dasar Ajaran Beliau, dan menunjukkan kekeliruan pandangan Saccaka. Untuk orang-orang tertentu, hanya seorang Samma Sambuddha yang dapat meyakinkan dan meluruskan pandangan mereka yang keliru, dan Saccaka adalah salah seorang di antaranya.

Setelah perdebatan berlangsung beberapa saat, Sang Buddha mengajukan sebuah pertanyaan kepada Saccaka, tetapi ia diam tidak menjawab. Untuk kedua kalinya Sang Buddha bertanya, Saccaka tetap diam. Kemudian Sang Buddha bertanya untuk ketiga kalinya, pada saat itu raja para dewa yaitu Dewa Sakka dengan memegang kapak di tangannya, berdiri melayang di udara, tepat di atas kepala Saccaka dan berkata :
“Saccaka, apabila kamu tidak mau menjawab pertanyaan Sang Tathagata yang telah diajukan untuk ketiga kalinya, maka Aku akan membelah kepalamu menjadi tujuh bagian.”
Hanya Sang Buddha dan Saccaka yang dapat melihat Dewa Sakka.

Akhirnya Saccaka mengakui bahwa Ajaran Sang Buddha benar, ia mengaku kalah. Keringat membasahi tubuhnya sehingga jubahnya basah kuyup. Melihat kejadian ini, Sang Buddha menunjukkan bahwa jubah Saccaka basah kuyup oleh keringat sedangkan Beliau sendiri tidak berkeringat sedikitpun. Merasa terkalahkan Saccaka tertunduk dan diam seribu bahasa.

Seorang pangeran Licchavi bernama Durmukha mengibaratkan Saccaka sebagai seekor kepiting yang semua kakinya telah patah. Saccaka mengakui kekalahannya. Kemudian ia bertanya lagi tentang Ajaran Sang Buddha yang lebih terperinci.

Ia lalu mengundang Sang Buddha berserta murid-muridNya untuk menerima dana makanan yang dipersembahkan di tempat kediamannya.

Pada kesempatan lain, Saccaka seorang diri mengunjungi Sang Buddha untuk mendengarkan uraian lebih lanjut tentang Dhamma Yang Mulia. Uraian Dhamma ini tercantum di dalam Maha Saccaka Sutta.

Sumber: samaggi-phala.or.id

Kisah Mengalahkan Cinca

Katvãna katthamudaram iva gabbhiniyã
Ciñcãya duttha vacanam janakãya majjhe
Santena somaviddhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni
Setelah membuat perutnya gendut seperti wanita hamil dengan mengikatkan sepotong kayu
Cinca memfitnah di tengah-tengah banyak orang
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan sikap kesatria dan kedamaian
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Pada saat para pertapa kehilangan banyak pengikut yang menyokong kehidupan mereka, mereka amat iri melihat banyak orang, baik kaya maupun miskin mendatangi Sang Buddha untuk menyampaikan hormat dan mendengarkan Dhamma. Mereka lalu melakukan perbuatan buruk, dan berteriak-teriak di tengah jalan : “Hai saudara-saudara ….. Apakah hanya Bhikkhu Gotama saja yang dapat menjadi seorang Buddha? Kami adalah para Buddha juga! Apakah hanya dengan berdana kepadaNya saja yang akan memperoleh kebajikan? Yang berdana kepada kami, juga akan memperoleh kebajikan yang sama. Karena itu kamu harus memberikan dana dan penghormatan kepada kami juga.”

Tetapi penduduk di desa itu tetap tidak memperhatikan mereka. Akhirnya para pertapa dengan diam-diam berkumpul bersama dan berunding : “Dengan cara bagaimana kita dapat mencela Bhikkhu Gotama di depan orang banyak, sehingga orang-orang akan berhenti memberikan dana dan penghormatan kepadaNya?”

Pada waktu itu di Savatthi, tinggallah seorang pertapa wanita bernama Cinca Manavika. Ia mempunyai kecantikan dan keelokan yang luar biasa. Dari tubuhnya memancar sinar terang seperti seorang dewi. Seorang penasihat pertapa yang kasar mengusulkan, dengan bantuan Cinca mereka akan dapat mencela Sang Buddha Gotama. Para pertapa yang lain menyetujui usulannya. Mereka lalu memanggil Cinca Manavika.

Cinca Manavika mendatangi para pertapa, lalu memberi hormat dan berdiri menanti, tetapi para pertapa itu diam saja. Ia lalu bertanya : “Ada masalah apakah Anda ingin bertemu dengan saya?”

Pertanyaan ini diulangnya tiga kali, tetapi para pertapa itu diam saja. Kemudian ia berkata lagi : “Tuan yang mulia, saya datang menghadap untuk memperoleh jawaban. Ada masalah apakah Anda ingin bertemu dengan saya? Mengapa Anda tidak mau menjawab pertanyaanku?”

“Saudari,” jawab salah seorang pertapa, “Tahukah kamu, kalau Bhikkhu Gotama sangat merugikan kami, sehingga penghasilan dan penghormatan orang-orang kepada kami menjadi hilang?”

“Tidak yang mulia, saya tidak mengenalnya, tetapi adakah yang dapat saya bantu dalam hal ini?”

“Saudari, kalau kamu mengharapkan kami hidup sejahtera, gunakanlah segala kemampuanmu, susunlah rencana untuk mencela Bhikkhu Gotama, sehingga orang-orang tidak memberikan dana dan penghormatan lagi kepadaNya.”

Cinca Manavika menjawab : “Baiklah yang mulia, saya akan melakukannya, jangan khawatir.” Setelah berkata demikian, ia pergi dari pertapaan itu.

Sejak saat itu, Cinca meningkatkan keahliannya dalam bidang kewanitaan untuk mencapai maksudnya. Ia lalu menyusun rencana, apabila penduduk Savatthi kembali dari Vihara Jetavana setelah mendengarkan Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha, ia dengan sengaja mengenakan mantel panjang yang berwarna merah menyala, menyemprotkan minyak wangi dan mengenakan untaian bunga di tangannya, dan berjalan menuju ke arah Vihara Jetavana. Orang-orang bertanya : “Mau kemana kamu pada malam hari begini?”

“Saya mau pergi kemana saja, apa urusannya denganmu?”

Ia lalu menghabiskan malam itu di dekat Vihara Jetavana, di tempat para pertapa. Keesokan harinya ketika para penduduk keluar dari rumah menuju ke vihara untuk menyampaikan hormatnya kepada Sang Buddha, ia berjalan balik pulang masuk ke kota, seperti ia baru saja kembali dari Vihara Jetavana. Orang-orang bertanya : “Tidur di mana kamu semalam?”

“Apa urusannya dengan kamu, di mana saya tidur semalam?” jawabnya.

Setelah satu setengah bulan berlalu, apabila orang bertanya dengan pertanyaan seperti di atas, ia selalu menjawab :
“Oh, saya menghabiskan malam ini di Vihara Jetavana sendirian bersama Bhikkhu Gotama di Ruang Dhammasala.”

Karena jawabannya itulah membuat orang-orang mempunyai perasaan curiga dan khawatir, tetapi mereka tidak percaya akan apa yang dikatakan Cinca. Mereka bertanya-tanya : “Ini benar atau salah…?”

Ketika tiga minggu sampai empat bulan berlalu, Cinca lalu membalut perutnya dengan kain, sehingga terlihat ia sedang hamil muda. Ia lalu pergi dan berkata kepada para penduduk : “Saya mengandung bayi dari Bhikkhu Gotama.”

Jadi ia menipu dengan melakukan perbuatan yang sangat bodoh. Ketika delapan sampai sembilan bulan berlalu, ia mengikat dengan kuat sepotong kayu di perutnya, dan menutupinya dengan jubah panjang. Ia lalu membuat seluruh tubuhnya membengkak, dengan cara memukuli tangan, kaki dan punggungnya dengan sepotong tulang kerbau. Ia merasa tubuhnya seperti orang yang sedang hamil tua.

Pada malam itu ia mendatangi Ruang Dhammasala dan berdiri di hadapan Sang Buddha. Saat itu Sang Buddha sedang duduk di tempat duduknya yang indah, di tengah Ruang Dhammasala dan sedang membabarkan Dhamma. Dengan berdiri di hadapan Sang Buddha, Cinca Manavika membuka mulutnya, mencerca dengan berkata: “Hai Bhikkhu Yang Perkasa, kekuatanMu adalah mengumpulkan orang ketika sedang mengajarkan AjaranMu; dengan suaraMu yang halus dan lembut keluar dari bibirMu. Sayang sekali ternyata Kamu adalah orang yang menjadikan saya hamil dan saya akan melahirkan tidak lama lagi. Tetapi, Kamu juga tidak berusaha untuk menyediakan tempat berbaring di ruangan ini untukku, ataupun menawarkan kepadaku susu, minyak ataupun keperluan lainnya yang aku butuhkan. Batalkan semua tugas yang harus Kamu kerjakan, tidakkah Kamu katakan ke orang-orang yang menjadi pengikutMu, seperti Raja Kosala, Anathapindika dan Visakha pendukungMu yang terkenal itu. Katakanlah : ‘Berikanlah apa yang perempuan muda ini butuhkan.’ Kamu mengetahui dengan baik bagaimana membuat kesenangan, tetapi Kamu tidak mengetahui bagaimana memelihara anak yang menjadi keturunanMu ini.”

Cinca mencerca Sang Tathagata di tengah-tengah orang banyak, seperti seorang perempuan yang membawa kotoran di tangannya dan ingin mengotori permukaan bulan.

Sang Buddha yang diganggu oleh Cinca saat Beliau membabarkan Dhamma hanya berkata :
“Saudari, apa yang kamu katakan itu benar atau salah, hanya Tathagata 1) dan kamu yang tahu.”
“Ya, Bhikkhu Yang Perkasa, siapakah yang dapat memutuskan apakah hal ini benar atau salah kalau hanya saya dan Kamu yang tahu?” jawab Cinca.

Pada saat itu juga tempat duduk Dewa Sakka 2) terasa panas. Dewa Sakka mencari sebabnya mengapa tempat duduknya menjadi panas, Beliau segera menyadari bahwa : “Cinca Manavika berbohong dengan menuduh Sang Tathagata.”

Dewa Sakka lalu berkata sendiri : “Saya akan membuat masalah ini menjadi terang dan jelas.”

Dewa Sakka beserta keempat dewa lainnya pergi ke Ruang Dhammasala itu. Para Dewa itu lalu mengubah dirinya menjadi tikus-tikus kecil. Dengan satu gigitan dari tikus-tikus kecil itu, tali yang mengikat kayu di perut perempuan itu putus. Pada waktu itu juga angin bertiup dengan kencangnya sehingga jubah panjang itu terlepas dari tubuh Cinca, dan sepotong kayu segera jatuh dari perutnya. Kayu itu menimpa kaki dan memutuskan jari-jari kakinya. Orang-orang berteriak :
“Perempuan jahat ini telah mencerca Yang Maha Sempurna, usir dia dari sini.”

Dengan segera mereka lalu mencengkeram kepalanya, dengan segumpal tanah dan tongkat di tangan mereka mengusir Cinca, lalu melemparkan Cinca keluar dari Vihara Jetavana.

Ketika ia tidak terlihat lagi oleh Sang Tathagata, bumi di hadapannya merekah terbelah dua dan membenamkannya sampai di kedua lututnya, dan api Neraka Avici 3) segera menyambarnya. Tubuh Cinca lalu ditelan kobaran api, dan seperti diselimuti oleh selimut yang indah, dengan segera ia terlahir kembali di Neraka Avici.

Sejak saat itu orang-orang tidak menghormati para pertapa itu lagi, sebaliknya pengikut Sang Buddha bertambah banyak.

Keesokan harinya, para bhikkhu berdiskusi di Ruang Dhammasala :
“Bhante, Cinca Manavika karena kesalahannya menuduh Yang Maha Suci, Yang Maha Sempurna, ia menjadi hancur.”

Sang Guru Agung mendekati mereka dan bertanya :
“O, Para Bhikkhu, apa yang kalian bicarakan?”

Ketika mereka menjelaskan apa yang mereka perbincangkan, Sang Buddha lalu menjelaskan :
“O, Para Bhikkhu, ini bukanlah yang pertama kali ia melakukan kesalahan dengan melakukan tuduhan bohong kepadaKu dan menjadi hancur. Ia telah melakukan hal yang sama pada kelahirannya yang terdahulu.”

Setelah berkata demikian, Sang Guru lalu bersabda :

Kalau seorang raja melihat dengan jelas kesalahan pada suatu bagian
Sesudah ia sendiri menyelidiki semua fakta dengan teliti
Baik kecil maupun besar, ia tidak harus memberikan hukuman

Setelah berkata demikian, Beliau menjelaskan hal ini secara terperinci di dalam Maha Paduma Jataka (No. 472), di Nipata Dua Belas.
Keterangan :
  1. Tathagata : Yang Maha Sempurna; Sebutan untuk Sang Buddha yang digunakan oleh Beliau apabila berbicara untuk diriNya.
  2. Dewa Sakka : Raja para dewa
  3. Neraka Avici : Salah satu dari neraka yang menakutkan
Sumber: samaggi-phala.or.id

Kisah Menaklukkan Angulimala

Ukkhitta khagga matihattha sudãrunantam
Dhãvantiyo janapathan gulimãla vantam
Uddhibhisankhatamano jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni
Sangat kejam dengan pedang terhunus dalam tangan yang kokoh kuat
Angulimala berlari mengejar sepanjang jalan tiga yojana dengan berkalung untaian jari
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan kesaktian
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Istri kepala penasehat (Purohita Brahmana) Raja Pasenadi Kosala yang bernama Mantani, melahirkan seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, semua senjata di dalam kota berkilau mengeluarkan cahaya yang terang benderang. Kejadian ini menyebabkan ayahnya bertanya kepada ahli perbintangan, mereka meramalkan bahwa anak tersebut di kemudian hari akan menjadi perampok. Keesokan harinya, ketika ia mengunjungi istana, sang ayah bertanya kepada Raja Pasenadi, apakah tadi malam Raja dapat tidur nyenyak. Raja menjawab, tadi malam ia tidak dapat tidur dengan nyenyak karena melihat semua senjata di dalam gudang berkilauan. Hal ini menandakan adanya bahaya yang akan menimpa Raja sendiri atau kerajaannya. Brahmana tersebut lalu menyampaikan kepada Raja, bahwa semalam istrinya telah melahirkan seorang anak laki-laki. Pada saat kelahirannya, tidak hanya pedang kerajaan, semua senjata yang ada di seluruh kota berkilauan, yang menandakan bahwa anaknya kelak akan menjadi perampok.

Brahmana tersebut bertanya kepada Raja, apakah Raja menghendaki agar ia membunuh anaknya yang baru lahir itu. Raja lalu bertanya, apakah anak tersebut kelak akan menjadi kepala perampok ataukah menjadi perampok tunggal. Ia menjawab bahwa anak tersebut akan menjadi perampok tunggal.

Raja tidak terlalu khawatir, karena beliau beranggapan bahwa kerajaannya tidak akan dapat dikacaukan hanya oleh seorang perampok. Jadi beliau membiarkan anak tersebut hidup dan tumbuh menjadi dewasa.

Anak itu diberi nama Ahimsaka, yang berarti tidak melukai siapapun (=tanpa kekerasan). Anak itu diberi nama demikian karena ia berasal dari keluarga yang tidak pernah dinodai dengan kejahatan dan juga karena sifat anak itu sendiri.

Ketika Ahimsaka dewasa, ia disekolahkan di Taxila, suatu pusat pendidikan yang terkenal pada masa lampau. Ahimsaka amat pandai, dapat melampaui murid-murid yang lain dan menjadi murid yang paling menonjol, dan ia amat disayang oleh gurunya.

Teman-temannya menjadi iri kepadanya. Mereka berusaha mencari kesalahan agar Ahimsaka dapat dihukum. Mereka tidak dapat mencela kemampuan maupun reputasi baik keluarga Ahimsaka.

Mereka lalu memfitnah bahwa Ahimsaka telah melakukan hal yang tidak pantas dengan istri gurunya. Mereka lalu membagi kelompoknya menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memberitahukan kepada guru mereka tentang kesalahan Ahimsaka, kelompok kedua dan ketiga membenarkan apa yang dikatakan oleh kelompok yang pertama. Ketika guru mereka tidak mempercayai apa yang mereka katakan, mereka mengusulkan supaya guru mereka membuktikannya sendiri.

Guru Ahimsaka kemudian melihat istrinya berbicara dengan ramah kepada Ahimsaka, hal ini menambah kecurigaannya, sehingga ia merencanakan untuk melenyapkan Ahimsaka. Sebagai orang terpelajar, di dalam usahanya untuk melenyapkan Ahimsaka, ia tidak melakukannya secara terbuka, karena ia takut tidak ada lagi murid yang mau berguru kepadanya.

Oleh karena itu ia berkata kepada Ahimsaka :
“Muridku, saya tidak sanggup lagi mengajarmu lebih lanjut, kecuali kamu dapat mengumpulkan seribu buah jari tangan kanan manusia sebagai biaya pendidikanmu.”

Guru Ahimsaka mengira bahwa Ahimsaka tidak akan pernah berhasil melaksanakan keinginannya. Dan di dalam usahanya untuk mengumpulkan jari manusia, ia pasti akan tertangkap oleh pengawal raja.

Ahimsaka menjawab, bahwa di dalam keluarga mereka tidak mempunyai kebiasaan untuk melakukan kejahatan kepada orang lain. Berulang-ulang Ahimsaka memohon kepada gurunya, agar ia dapat membayar biaya pendidikannya dengan cara yang lain, tetapi gurunya tetap pada pendiriannya. Apabila ia menolak melaksanakannya, ia akan mendapat kutukan. Karena ia mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar dan tidak ada jalan lain lagi untuk melanjutkan pendidikannya, ia lalu mempersenjatai dirinya dan masuk ke hutan Jalini di Kosala, yang merupakan pertemuan dari delapan jalan dan mulai membunuh siapapun yang lewat di situ untuk mengumpulkan jari tangan manusia sesuai dengan permintaan gurunya.

Jari yang terkumpul digantungnya pada sebuah pohon. Namun karena jari-jari tersebut selalu dihancurkan oleh burung gagak dan burung pemakan bangkai, ia lalu membuat untaian jari untuk memastikan jumlah jari yang telah dikumpulkannya. Sejak itu ia dikenal dengan nama Angulimala (=Untaian Jari).

Rakyat lalu pergi ke Savatthi, menghadap Raja untuk memberitahukan bahwa jumlah penduduk semakin berkurang, karena kekejaman seorang perampok yang selalu membunuh penduduk yang lewat di hutan itu. Mereka memohon supaya Raja mengirim pasukan untuk menangkapnya. Raja mengabulkan permohonan rakyat dan segera memerintahkan pasukan kerajaan untuk menyelidiki perampok tersebut.

Brahmana yang merupakan ayah Ahimsaka, berkata kepada istrinya bahwa ia amat khawatir kalau-kalau perampok yang kejam itu adalah anak mereka sendiri, dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Istrinya lalu berkata, sebaiknya ia cepat-cepat pergi ke hutan, sebelum pasukan kerajaan tiba, untuk menyadarkan anaknya. Namun brahmana itu menolak untuk pergi. Istri brahmana itu lalu memutuskan untuk masuk ke hutan seorang diri. Dengan kecintaan seorang ibu terhadap anaknya yang amat besar, ia meratap dan berseru agar anaknya mau mengikuti tradisi keluarga, berhenti melakukan pembunuhan dan berkata bahwa pasukan raja sedang dalam perjalanan untuk menangkapnya.

Pada waktu yang sama, Sang Buddha yang sedang bersemayam di Vihara Jetavana melihat dengan Mata Buddha (melalui Maha Karuna Samapatti), bahwa dari kumpulan karma baik yang dimiliki pada kehidupannya yang lampau, Angulimala memiliki cukup banyak kebajikan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang bhikkhu dan mempunyai kemampuan untuk mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi yaitu menjadi Arahat pada kehidupan ini juga. Sang Buddha juga melihat bahwa ibu Angulimala dapat terbunuh apabila Angulimala melihatnya, karena ia sudah amat ingin melengkapi untaian jari yang diminta oleh gurunya.

Untuk mencegah hal ini, Sang Buddha lalu mengubah wujudNya menjadi seorang bhikkhu dan segera memasuki hutan. Para pengembala dan petani berusaha mencegah Sang Buddha untuk masuk ke hutan seorang diri, karena empat puluh orang yang pergi bersama-sama pun dapat dibunuh oleh Angulimala. Meskipun mendapat peringatan, Sang Buddha tetap melanjutkan perjalanNya dengan berdiam diri. Untuk kedua dan ketiga kalinya mereka berusaha mencegah Sang Guru masuk ke hutan tersebut, namun Sang Buddha dengan berdiam diri tetap meneruskan perjalananNya masuk ke dalam hutan.

Pada pagi hari itu, Angulimala telah mengumpulkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan buah jari dan telah merencanakan bahwa siapapun yang ditemuinya pada hari itu harus dibunuhnya. Tetapi ia mendapat kesulitan untuk menemukan orang yang dapat dibunuhnya, karena orang-orang selalu berjalan dalam rombongan yang besar dan bersenjata lengkap.

Akhirnya ia melihat seorang bhikkhu seeang berjalan seorang diri, tanpa membawa senjata. Ia berpikir tentu amat mudah untuk membunuhnya. Angulimala lalu membawa pedang, tameng, anak panah beserta busurnya mengikuti Sang Buddha dari jarak yang dekat.

Sang Buddha menunjukkan kesaktianNya, sehingga bagaimanapun Angulimala berusaha berlari sekuat tenaga, sedangkan Sang Buddha berjalan dengan kecepatan biasa, ia tetap tidak dapat menyusul Sang Buddha.

Angulimala lalu berpikir, “Saya telah mengejar gajah, kuda, kijang dan dapat mengalahkan mereka, sekarang meskipun saya sudah berlari sekuat tenaga, dan Bhikkhu ini berjalan dengan kecepatan biasa saja, saya tetap tidak dapat mendekatiNya.”

Dengan terengah-engah dan berkeringat, ia berteriak meminta Sang Buddha untuk berhenti : “Tittha (+Berhentilah) Samana!

Sang Buddha menjawab : “Saya sudah berhenti! Hentikan dirimu sendiri!”

Angulimala keheranan akan jawaban Sang Buddha dan bertanya : “Apa maksudMu?”

Sang Buddha menjawab :
“Saya telah bertekad untuk melimpahkan kasih sayang kepada semua mahluk, sedangkan kamu tidak mempunyai belas kasih terhadap mahluk lain. Oleh karena itu Saya sudah berhenti, sedangkan kamu belum berhenti melakukan pembunuhan.”

Karena tumpukan karma baik Angulimala yang amat besar pada kehidupannya yang lampau, bahwa ia diberi tahu oleh Buddha Padumuttara, bahwa ia akan menjadi seorang Arahat. Sebagai seorang yang mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang Arahat, setalah mendengar apa yang dikatakan oleh Sang Buddha, ia mengetahui bahwa pertapa mulia ini adalah Buddha Gotama yang karena cinta kasihNya yang amat besar datang untuk menolongnya.

Angulimala segera melemparkan untaian jari dan senjatanya, lalu bernamaskara di kaki Sang Buddha dan memohon untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu. Sambil mengangkat tanganNya, Sang Buddha berkata :
Ehi Bhikkhu (Mari, O Bhikkhu).”
Dengan demikian Angulimala dapat menerima delapan kebutuhan pokok seorang bhikkhu pada saat yang bersamaan dan langsung menerima Upasampada, tanpa terlebih dahulu menjadi seorang samanera. Dengan disertai oleh Angulimala, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana.

Sementara itu Raja Pasenadi Kosala didesak untuk menangkap perampok Angulimala. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menemui Sang Buddha apabila ada kejadian genting. Setalah Raja Pasenadi Kosala bernamaskara, lalu duduk di salah satu sisi, Sang Buddha bertanya :
“O, Raja, ada hal apakah yang membuat anda risau?
Apakah Raja Seniya Bimbisara dari Magadha menantang anda?
Apakah para Pangeran Licchavi dari Vesali?
Atau para bangsawan sainganmu?”

Raja lalu menjelaskan masalah yang sedang dihadapinya, ia mengakui tidak dapat menangkap Angulimala si perampok yang haus darah itu. Sang Buddha lalu bertanya :
“Apa yang akan anda lakukan kalau perampok itu memakai jubah seorang bhikkhu?”

Raja menjawab :
“Yang Mulia, saya akan menghormatinya seperti saya menghormat kepada seorang bhikkhu.”
Pada saat itu Bhikkhu Angulimala sedang duduk di dekat Sang Buddha. Beliau lalu berkata kepada raja :
“O, Raja, inilah Angulimala.”

Raja Pasenadi Kosala menjadi ketakutan, badannya gemetar, rambutnya berdiri. Sang Buddha lalu menenangkannya dan berkata bahwa ia tidak perlu takut lagi, karena Angulimala telah menjadi seorang bhikkhu. Raja lalu mendekati Bhikkhu Angulimala dan menanyakan tentang orang tuanya, dan menawarkan untuk memenuhi semua kebutuhannya. Pada saat itu Bhikkhu Angulimala telah menjalani latihan hidup di hutan, berpindapatta, memakai jubah dari kain perca yang terdiri dari tiga bagian. Oleh karena itu ia menolak tawaran raja, karena ia sudah tidak memerlukannya lagi. Kemudian Raja Pasenadi Kosala memberi hormat kepada Bhikkhu Angulimala dan menyatakan keheranannya kepada Sang Buddha akan perubahan yang dialami oleh Bhikkhu Angulimala. Ia lalu pulang ke istana dengan hati yang bahagia.

Pada suatu hari, ketika Bhikkhu Angulima sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau melihat seorang wanita yang sangat kesakitan karena akan melahirkan. Beliau melihat penderitaan wanita itu, tergerak hatinya, lalu berpikir :
“Betapa menderitanya mahluk hidup, betapa menderitanya mahluk hidup!”

Beliau yang pernah membunuh sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang, sekarang merasa amat kasihan melihat seorang wanita menderita kesakitan karena akan melahirkan. Ketika Beliau selesai berpindapatta dan makan pagi, Beliau pergi ke vihara menemui Sang Buddha dan menyampaikan apa yang dilihatnya. Sang Buddha lalu meminta Bhikkhu Angulimala pergi menemui wanita itu dan berkata :
“Saudari, sejak saat saya dilahirkan dalam Keluarga Ariya, saya tidak sadar, dengan sengaja telah membunuh mahluk hidup. Berdasarkan kebenaran ini, semoga anda selamat dan semoga anak anda selamat.”

Beliau lalu pergi menemui wanita yang akan melahirkan bayinya. Layar penyekat diletakkan melingkari sang ibu, Bhikkhu Angulimala duduk dan mengulang Paritta yang diajarkan Sang Buddha. Segera saja bayi tersebut lahir dengan mudah dan selamat. (Kemanjuran Paritta Angulimala Sutta ini masih terbukti hingga saat ini).

Tidak lama kemudian, Bhikkhu Angulimala mencapai Tingkat Kesucian Arahat.

Pada suatu hari, ketika Yang Mulia Angulimala sedang berpindapatta di Savatthi, Beliau dilempari bongkahan tanah, tongkat dan batu. Kepalanya terluka, bercucuran darah dan mangkokNya pecah. Beliau pulang kembali ke vihara dan mendekati Sang Buddha yang sedang duduk. Sang Buddha yang melihat keadaanNya lalu menjelaskan, bahwa semua kejadian ini adalah akibat dari perbuatan burukNya, yang sesungguhnya dapat membuatNya menderita di Alam Neraka selama ribuan tahun.

Sekarang Yang Mulia Angulimala hidup menyendiri, menikmati Kebahagiaan dari Kebebasan, mengucapkan pernyataan-pernyataan Kebijaksanaan, meninggal dunia dan mencapai Nibbana.

Para bhikkhu membicarakan tempat kelahiran kembali dari Yang Mulia Angulimala, Sang Buddha memberitahu mereka, bahwa Beliau telah mencapai Nibbana. Para bhikkhu keheranan, bagaimana mungkin seseorang yang telah melakukan begitu banyak pembunuhan dapat mencapai Nibbana. Sang Buddha menjawab bahwa pada masa yang lampau, karena bimbingan yang kurang baik, Angulimala telah melakukan perbuatan-perbuatan buruk namun kemudian ketika Beliau mendapat bimbingan yang baik, Beliau menjalani kehidupan suci. Dengan demikian Beliau dapat mengatasi perbuatan buruk dengan perbuatan baiknya. Setalah berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair :

“Mereka yang dapat mengatasi perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik, menyinari dunia ini, bagaikan bulan yang terbebas dari awan.” (Dhammapada 173).

 Sumber: samaggi-phala.or.id

Kisah Menaklukkan Gaja Nalagiri

Nãlãgirim gajavaram atimatta bhutam
Dãvaggi cakka masaniva sudãrunantam
Mettambuseka vidhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni
Nalagiri gajah mulia menjadi sangat gila
Sangat kejam bagaikan hutan terbakar, bagai senjata roda atau halilintar
Raja para Bijaksana menaklukkannya dengan kemampuan pikiran sakti yang mengagumkan
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Sang Buddha seperti biasa sedang berjalan ke suatu daerah untuk membabarkan Dhamma kepada umatNya. Beliau diiringi oleh murid-muridNya, yang penuh cinta kasih dan pengabdian yang besar kepada Sang Buddha, Sang Guru Agung.

Melihat Sang Buddha yang dicintai oleh murid-muridNya, menyebabkan Devadatta berpikir :
“Adalah suatu kenyataan, bahwa tidak ada satu mahlukpun yang dengan melihat Kesempurnaan Manusia Gotama mampu dan berani untuk menyentuhNya. Tetapi raja gajah Nalagiri adalah binatang yang amat galak dan liar, ia tidak mengetahui kesucian Buddha, Dhamma serta Sangha. Ia akan saya lepaskan untuk menghancurkan Bhikkhu Gotama.”

Kemudian Devadatta pergi menemui Raja Ajatasattu dan membicarakan masalah ini. Raja terpengaruh oleh penjelasannya dan memanggil penjaga gajah, lalu memberi perintah :
“Penjaga, besok kamu harus memberi minuman keras kepada Nalagiri. Dan lepaskanlah Nalagiri di jalan raya saat Bhikkhu Gotama sedang berjalan.”

Devadatta bertanya kepada penjaga itu berapa banyak air yang biasa diberikan kepada gajah itu, penjaga itu menjawab :
“Delapan guci.”

Devadatta lalu berkata :
“Besok, berikan kepada Nalagiri enam belas guci minuman keras dan lepaskan dia ke arah jalan raya yang akan dilalui oleh Bhikkhu Gotama.”
“Baiklah,” jawab penjaga itu.

Raja lalu menabuh tambur di seluruh kota dan mengumumkan :
“Besok gajah Nalagiri akan menjadi mabuk karena minum minuman keras dan akan dilepas ke dalam kota. Penduduk di kota ini dapat melakukan semua pekerjaannya hanya pada pagi hari, sesudah itu tidak boleh ada satu orangpun yang berada di jalan raya.”

Devadatta lalu turun dari istana dan mendatangi kandang gajah Nalagiri, ia mendekati penjaga gajah itu dan berkata :
“Saya katakan kepadamu, kita mampu untuk menghancurkan seseorang dari posisinya yang tinggi ke posisi yang rendah. Dan menaikkan posisi seseorang yang rendah menjadi posisi yang tinggi. Kalau kamu menginginkan kehormatan, besok pagi-pagi sekali, berikan Nalagiri enam belas guci minuman keras dan ketika Bhikkhu Gotama melewati jalan itu, lukailah gajah itu dengan tongkat berduri. Karena gajah yang kesakitan itu akan marah, ia akan menerobos kandangnya dan berlari keluar, arahkanlah ia ke jalan raya di mana Bhikkhu Gotama sedang berjalan. Maka gajah itu akan menghancurkanNya.”

Keduanya setuju dengan rencana seperti itu. Berita ini bergema ke seluruh kota. Pengikut Sang Buddha mendengar berita ini amat khawatir, lalu mendatangi Vihara dan meminta Sang Buddha untuk tidak masuk ke kota esok hari, karena ada bahaya besar yang menghadang Beliau. Mereka berjanji akan membawakan semua kebutuhan yang diperlukan oleh Sang Guru beserta murid-muridNya. Tatapi Sang Buddha menyatakan tetap akan menjalankan tugasNya seperti biasa. Para pengikutNya melihat bahwa mereka tidak akan merubah rencana Sang Guru Agung akhirnya mereka meninggalkan Vihara dengan perasaan amat khawatir.

Setelah mereka pergi, Sang Buddha merenungkan semua keluargaNya yang sudah mengerti akan Kebenaran. Beliau juga melihat apabila Nalagiri berhasil ditaklukkanNya, maka delapan puluh ribu mahluk akan mendapatkan pengertian yang jelas tentang Dhamma Yang Mulia.

Keesokan paginya, Beliau memanggil Ananda, dan berkata untuk memberitahukan kepada para bhikkhu di delapan belas vihara yang berada di sekitar Rajagaha untuk menyertaiNya masuk ke kota. Bhikkhu Ananda melaksanakan apa yang diminta oleh Sang Guru, dan semua bhikkhu berkumpul di Vihara Veluvana.

Sang Buddha dengan disertai oleh semua murid-muridNya, berjalan memasuki Rajagaha. Penjaga gajah itu bekerja sesuai dengan instruksi Devadatta dan banyak orang berkerumun di sekitar jalan raya. Para pengikut Sang Buddha berpikir :
“Hari ini mungkin akan terjadi pertempuran antara Sang Guru Agung dan gajah liar itu. Kami akan menyaksikan kekalahan gajah Nalagiri dari Sang Buddha yang tiada bandingannya.”

Penduduk lalu menaiki atap-atap rumah, gudang-gudang yang ada di sekitar jalan raya itu.
Tetapi ada pula pertapa lain yang berpikir :
“Nalagiri adalah gajah yang amat galak, binatang liar dan tidak mengetahui kebaikan dan cinta kasih yang besar dari seorang Buddha. Hari ini ia akan menghancurkan tubuh Bhikkhu Gotama dan Beliau akan meninggal. Hari ini kami akan melihat apa yang terjadi denganNya.”

Para pertapa lalu berdiri di atas sebuah gudang dan di tempat-tempat yang tinggi. Gajah Nalagiri melihat Yang Maha Sempurna berjalan menghampirinya, penduduk yang ada di sana amat ngeri melihat gajah tersebut. Gajah yang amat kesakitan itu berlari dengan liarnya, ia menghancurkan pagar rumah-rumah dan mengangkat belalainya tinggi-tinggi, serta menginjak-injak kereta menjadi hancur berantakan. Dengan kuping dan ekornya yang terangkat, ia berlari dengan kencangnya seperti gunung yang tinggi menghampiri Yang Maha Sempurna.

Para bhikkhu yang melihat gajah Nalagiri berlari mendatangi Sang Buddha, memberitahu Sang Guru Agung :
“Yang Mulia, gajah Nalagiri berlari di sepanjang jalan ini, ia adalah binatang yang amat galak dan liar, ia pembunuh manusia. Kami mohon Yang Mulia balik kembali.”

“O….Para Bhikkhu datanglah ke sini, jangan takut; tidak ada satu mahlukpun yang dapat menghancurkan Sang Tathagata dengan suatu serangan. Tathagata mencapai Parinibbana bukan karena suatu serangan.”

Para bhikkhu, tetap memperingatkan Sang Guru sampai tiga kali. Yang Mulia Sariputta lalu meminta Sang Buddha dengan berkata :
“Yang Mulia, apabila ada satu persembahan yang harus diberikan kepada seorang ayah, maka beban itu terletak pada anak sulungnya. Saya akan mengalahkan binatang ini.”

Sang Buddha lalu berkata :
“Sariputta, kekuatan seorang Buddha adalah satu hal dan pengikutnya adalah hal yang lain.”

Beliau menolak tawaran itu, dan berkata :
“Sariputta, tetaplah tinggal di sini.”

Para bhikkhu lainnya juga meminta ijin untuk mengalahkan gajah liar itu, tetapi Sang Guru menolak permintaan mereka. Kemudian Yang Mulia Ananda, pembantu Sang Buddha yang mempunyai pengaruh besar terhadap Sang Buddha, tidak mampu bersikap diam dalam menghadapi masalah ini, ia lalu berteriak :
“Biarkan gajah itu membunuh saya terlebih dahulu.”

Yang Mulia Ananda berdiri di depan Sang Buddha, siap untuk mengorbankan hidupnya untuk Sang Tathagata. Tetapi Sang Buddha berkata kepadanya :
“Bergeserlah Ananda, jangan berdiri di hadapanKu.”

Yang Mulia Ananda berkata :
“Yang Mulia, gajah ini amat galak dan liar, ia dapat membunuh orang, seperti nyala api pada permulaan suatu lingkaran. Biarkanlah ia membunuh saya terlebih dahulu dan sesudah itu ia baru dapat menghampiri Yang Mulia.”

Yang Mulia Ananda memohon tiga kali, dan Beliau tetap berdiri di depan Sang Tathagata, Beliau tidak mau mundur. Kemudian Sang Buddha dengan kekuatan kesaktianNya membuat Yang Mulia Ananda berada di belakang Beliau dan menempatkanNya di tengah-tengah para bhikkhu yang tengah berkerumun.

Pada waktu itu ada seorang ibu, terlihat oleh pandangan gajah Nalagiri, ibu itu amat ketakutan, ia ingin berlari karena ketakutan, tetapi anaknya terjatuh ketika ia ingin menggendong anak itu di pinggangnya. Posisinya berada di antara Sang Tathagata dan gajah Nalagiri, ibu itu berusaha berlari. Gajah itu mengejar ibu tersebut, ibu tersebut terpaku berdiri di tempatnya dengan amat ketakutan bersama anaknya yang menjerit sekeras-kerasnya.

Hati Sang Buddha bergetar, dengan penuh cinta kasih yang terpancar dengan kuatnya (odissakametta) dan dengan suaraNya yang penuh kelembutan seperti suara Dewa Brahma, memanggil Nalagiri :
“Ho..! Nalagiri…! Siapa yang mebuatmu menjadi gila dengan enam belas guci minuman keras, kamu tidak diperintahkan untuk menyerang orang lain, tetapi diarahkan untuk menyerangKu. Jangan keluarkan kekuatanmu dengan merusak tanpa tujuan, datanglah kepadaku.”

Mendengar suara Sang Buddha, Nalagiri membuka matanya dan melihat tubuh Sang Buddha yang bersinar terang. Ia menjadi gelisah dan dengan kekuatan cinta kasih Sang Buddha yang amat besar, maka pengaruh minuman keras yang amat kuat itu hilang. Dengan menurunkan belalainya dan mengoyang-goyangkan kupingnya ia mendatangi dan berlutut di kaki Sang Tathagata. Kemudian Sang Tathagata berkata :
“Nalagiri, kamu adalah gajah jahat, Aku adalah Gajah Buddha, tidak jahat dan liar, tidak membunuh manusia, tetap mengembangkan cinta kasih.”

Sambil berkata demikian Sang Tathagata lalu mengulurkan tangan kananNya dan mengelus-elus kepala gajah itu dan mengajarkan Dhamma kepadanya dengan bersabda :
“Jangan menyerang Sang Buddha, O, gajah..! Dengan pikiran akan melukaiNya, akan membuatmu menderita. Pembunuh seorang Buddha tidak akan memperoleh alam kehidupan yang baik setelah kematiannya.”

“Bebaskanlah dirimu dari mabuk-mabukkan dan melakukan perbuatan bodoh. Karena orang yang bodoh tidak akan dapat pergi ke alam yang baik. Kamu harus melakukan perbuatan baik sehingga kamu dapat menuju ke alam bahagia.”

Seluruh badan gajah itu bergetar karena diliputi oleh kebahagiaan yang amat besar, dan ia sekarang bukan hanya binatang berkaki empat biasa lagi, tetapi ia telah mencapai Tingkat Kesucian Pertama (Sotapanna).

Penduduk yang melihat keajaiban ini berseru dengan gembira dan bertepuk tangan dengan riang. Dengan penuh kebahagiaan, mereka menutupi badan gajah itu dengan hiasan-hiasan. Kemudian Nalagiri terkenal dengan nama Dhanapalaka (pemilik kekayaan) dan ia menjadi amat jinak dan tidak menyakiti siapapun.

Setelah Sang Buddha memperlihatkan keajaiban ini, Beliau berpikir adalah tidak patut untuk mencari dana di tempat yang sama. Sesudah mengalahkan para pertapa tersebut, dengan diiringi oleh murid-muridNya, Beliau melangkah menuju ke kota seperti orang yang telah memenangkan suatu pertempuran dan pulang kembali ke Vihara Jetavana. Para penduduk menuju Vihara Jetavana, berdana makanan berupa nasi, minuman dan makanan enak lainnya kepada Sang Guru Agung beserta murid-muridNya. Penduduk kota itu telah menanam kebajikan yang besar sekali.

 Sumber: samaggi-phala.or.id