Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Kakek Berusia Empat Tahun


Dalam perjalanan seorang pemuda berjumpa seorang kakek tua. Setelah berbincang- bincang, seorang pemuda itu bertanya, “Berapa usia anda, kakek?” Sang kakek menjawab, “Saya berumur empat tahun!” Sang pemuda terperanjat mendengar jawaban itu, kakek yang tua renta dan rambutnya sudah putih semua, tampaknya sudah berusia 70 tahun, mana mungkin berusia 4 tahun?

Melihat pemuda yang penuh keheranan sang kakek berkata: “Oh pemuda, tahun ini saya benar-benar berusia empat tahun! mengapa? Karena sejak dahulu saya berjiwa egois dan tak pernah memikirkan orang lain. Saya tidak pernah tau apa itu kebajikan, hanya menikmati kesenagan diri sendiri dan tidak pernah membantu mereka yang menderita. Empat tahun yang lalu saya mengenal Buddhadharma, yang telah membuka mata saya sehingga mengerti arti kehidupan, serta makna dalam memberikan bantuan kepada orang lain. Buddhadharma telah membangunkan saya dari impian buruk dan menunjukan jalan yang terang, sehingga dalam masa sisa hidup ini saya dapat memberikan cinta kasih dan welas asih kepada orang lain, membagikan kegembiraan kepada semua umat manusia, memiliki kondisi yang baik bagi diri sendiri“.
“Empat tahun yang lalu aku baru mulai sadar dari mimpiku dan melihat hakekat yang sebenarnya dari kehidupan, baru mengetahi apa itu kehidupan dan mengerti arti kehidupan. Oh, pemuda, dulu saya hanya sia-sia menghabiskan waktu dan melewati usiaku, hanya selama empat tahun ini saya benar-benar mengenal diriku, untuk dapat menerima welas asih, kasih sayang, kedamain dan berdana untuk orang lain. Oleh karena itu saya katakan umur saya baru empat tahun”.

Kehidupan yang bermakna tidak terletak pada panjang atau pendeknya umur, tetapi yang terpenting adalah bagaimana seseorang dapat menggunakan sisa waktu kehidupannya. Yen Hui, murid utama Nabi Kong Hu Cu, meskipun hanya berusia 30 tahun lebih, namun pandangan hidupnya yang baik selalu mendapat pujian dan penghargaan banyak orang hingga kini. Demikian pula Biksu Shen Chau,yang hanya hidup 30 tahun lebih di dunia ini, namun telah meninggalkan karya sastra tentang filsafat Madyamika yang memberikan sumbangan berharga dalam perkembangan filsafat Buddhis Mahayana.

Setelah melewati hampir seluruh umurnya kakek berusia empat tahun itu baru menemukan makna dan arti kehidupan yang benar, sedangkan kita yang berumur panjang, pernahkah merenungkan apa yang kita harapkan dan apa yang akan kita perbuat dalam kehidupan yang panjang itu? Di dalam Mahayana Sutra Alamkara dikatakan: “Sungguh sulit untuk dapat terlahir sebagai manusia, sungguh sulit untuk menumbuhkan keyakinan, sungguh sulit untuk merasa cukup dan puas atas harta yang diperoleh, dan lebih sulit lagi dapat memperoleh kesempatan untuk berbuat bajik!”.

Kakek yang byang berusia empat tahun tidak menyedihkan, walaupun terlambat  namun masih bertemu dengan kebenaran, yang menyedihkan adalah bila kita sia-sia dalam hidup ini, bagaikan hidup dalam mimpi. (Sekolam Bunga Teratai 2)

0 comments:

Post a Comment