Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Refleksi Sabda-Sabda Sang Buddha (3)

Kebudayaan Batin

Manusia merupakan proses rohani dan jasmani yang selalu berubah dan unsur terpenting dalam proses ini adalah pikiran. Menguasai pikiran merupakan jiwa dari ajaran Buddha. Kebahagiaan harus ditemukan dan kesempurnaan dicapai melalui unsur batin dalam diri kita, kesadaran kita. Akan tetapi, selama kesadaran itu kotor, tidak ada yang berharga yang dapat dicapai di sana . Oleh karenanya Buddha menekankan kesucian batin sebagai sumber, kondisi terpenting dari kebahagiaan sejati dan pembebasan dari penderitaan. Sering kali Buddha menasehati murid – murid – Nya demikian : “ Carilah dirimu sendiri, “ dan “ Kuasailah pikiranmu. “ ( D. 16 ).
Terpengaruh oleh satu sabda Buddha, banyak orang mengubah hidupnya secara menyeluruh. Kitab – kitab Buddhis penuh dengan contoh tentang perubahan mendadak yang terjadi setelah mendapat petunjuk singkat seperti berikut ini :
“ Pembuat saluran air mengalirkan air,
Pembuat panah meluruskan anak panah,
Tukang kayu melengkungkan kayu,
Orang bijaksana menaklukkan dirinya sendiri. “ Dhp. 80

Menjaga diri sendiri dari ketamakan, dan melatih diri sendiri untuk melakukan perbuatan yang bebas dari ketamakan, adalah perbuatan yang tidak mementingkan diri sendiri, yang merupakan jalan menuju kebahagiaan dan kesejahteraan sejati dalam ajaran Buddha.
Dua khotbah Buddha yang penting ( D. 25 ; M. 22 ) dengan jelas mengungkapkan kepada kita mengapa Buddha mengajarkan Dharma, ajaran itu. Marilah kita menyimaknya :
  1. Buddha telah mencapai Penerangan Sempurna. Beliau mengajarkan Dharma agar orang lain mencapai penerangan.
  2. Beliau mengendalikan diri sendiri. Beliau mengajarkan Dharma agar orang lain mengendalikan diri.
  3. Beliau tenang. Beliau mengajarkan Dharma agar orang lain mencapai ketenangan.
  4. Setelah menyeberang ( ogha, gelombang noda ), Beliau mengajarkan Dharma agar orang lain menyeberang.
  5. Setelah mencapai Nirwana ( dengan memadamkan api kotoran batin, parinibbuto ), Beliau mengajarkan Dharma agar orang lain mencapai Nirwana.
Dharma, ajaran Buddha, bukanlah semata – mata pengetahuan atau pun semata – mata dimiliki seperti layaknya harta benda. Buddha dengan jelas telah menunjukkan bahwa Dharma merupakan sarana untuk menyeberangi lautan penderitaan, lautan samsara atau kelahiran yang berulang – ulang, dan untuk mencapai pantai tanpa kematian, Nirwana, dengan aman dan selamat. Dharma bagaikan sebuah rakit untuk menyeberangi lautan.
Hanya ketika pikiran tidak dibiarkan untuk menyepakkan jejak dan dijaga pada jalur yang benar untuk mencapai kemajuan bertahap, ia akan berguna bagi pemiliknya dan bagi masyarakat. Pikiran yang kacau merupakan beban bagi pemiliknya maupun bagi orang lain. Semua malapetaka di dunia ditimbulkan oleh orang – orang yang belum mempelajari cara – cara menguasai pikiran serta keseimbangan dan ketenangan jasmani. Oleh karena itulah, Buddha berkata :
“ Luka apa pun dapat diperbuat oleh orang
yang saling bermusuhan dan membenci,
Pikiran yang diarahkan secara salah akan
Jauh lebih berat melukai diri sendiri. “ Dhp. 42

Kedudukan, kasta, warna kulit, kekayaan dan kekuasaan tidak dapat membuat seorang manusia menjadi orang yang berharga bagi dunia. Hanya karakter manusia yang membuat manusia menjadi besar dan patut dihormati. “ Karakter adalah apa yang keluar ketika kehidupan dijalani di bawah tekanan kegiatan, dengan maksud dan keahlian tertentu. Bagaikan intan yang merupakan karbon yang telah menjadi sasaran tekanan yang berat, demikian pula kehidupan yang dijalani di bawah semangat dan usaha spiritual yang terus menerus menghasilkan batu permata, karakter. “ karakterlah yang menerangi kebijaksanaan ( apadana sobhini panna ).
Manusia hari ini merupakan hasil dari jutaan pengulangan pikiran dan perbuatan. Ia tidak langsung jadi ; ia terbentuk dan masih membentuk. Karakternya ditetapkan terlebih dahulu oleh pilihannya sendiri. Pikiran, perbuatan yang dipilihnya, menjadi kebiasaan yang membentuknya.
“ Pada saat kelahiran pikiran bersinar – sinar, dan dicemari oleh kotoran – kotoran secara tidak disengaja ( pabhassaramidam bhikkhave citam, tam ca kho agantukehi upakkilesehi upakkilittham ), “ kata Buddha. Begitu pula orang – orang, mendasari pemikiran mereka pada sabda Buddha, mengatakan hal yang sama dengan kalimat lain : “ Pada dasarnya makhluk hidup itu baik, tetapi secara tidak disengaja kotoran menodainya. “
Dengan perhatian dan pikiran yang sistematis menyangkut hal – hal yang ditemui seseorang dalam kehidupannya setiap hari, dengan menguasai keinginan jahatnya dan dengan mengekang dorongan hati, ia dapat menjaga pikiran dari kotoran. Adalah sulit untuk melepaskan apa yang memikat kita dan menahan kita dalam perbudakan ; sulit pula mengusir roh jahat yang menghantui hati manusia dalam bentuk pikiran – pikiran yang tidak baik. Kejahatan – kejahatan tersebut merupakan penjelmaan dari ketamakan, kebencian dan kebodohan batin : lobha, dosa dan moha, tiga jenis pasukan kematian ( mara ). Sampai seseorang mencapai puncak kesucian dengan latihan pikiran tanpa henti, ia tidak dapat mengalahkan pasukan itu secara menyeluruh. Hanya dengan melepaskan hal – hal eksternal, berpuasa dan lain – lain, tidak dimaksudkan untuk menyucikan manusia, hal – hal ini tidak membuat manusia menjadi suci dan aman. Menyiksa diri sendiri merupakan suatu perbuatan ekstrem yang keliru yang dalam pembabaran Dharma yang pertama kali oleh Buddha ditolak. Juga Beliau menolak kenikmatan hawa nafsu, dengan menyebutnya sebagai perbuatan tercela. Dengan menghindari dua jalan ekstrem, Buddha mengungkapkan pada dunia Jalan Tengah – Majjhima Patipada – yang membawa seseorang pada kedamaian, penerangan dan Nirwana ( upasamaya, sambodhaya nibbanaya ).
Spinoza menulis : “ hal – hal yang biasa terjadi dalam kehidupan, dan dihargai di antara manusia sebagai kebaikan tertinggi, dapat dikurangi oleh ketiga hal ini, kekayaan, ketenaran dan hawa nafsu, karena ketiga hal ini pikiran menjadi kacau sehingga pikiran hampir tidak dapat memikirkan kebaikan lain. “
Nafsu manusia adalah godaan. Nafsu makhluk hidup yang buta telah menimbulkan kebencian dan segala bentuk penderitaan. Musuh seluruh dunia adalah hawa nafsu yang melaluinyalah seluruh kejahatan datang pada makhluk hidup. Hawa nafsu ini ketika dihalangi oleh beberapa sebab, berubah menjadi kemarahan. Dan manusia jatuh ke dalam jaring yang dibuatnya sendiri dengan nafsu akan kenikmatan, bagaikan seekor laba – laba yang jatuh ke dalam jaringnya sendiri. Namun dengan melatih perbuatan baik, mengembangkan ketenangan, dan mendapatkan cahaya kebenaran, orang – orang bijaksana berjalan terus melepaskan ikatan. Mereka yang bijaksana dianggap sebagai orang yang telah menaklukkan dirinya sendiri dengan mencabut akar dari nafsu lebih hebat daripada orang yang telah memenangkan ribuan pertempuran.
Orang – orang bijaksana melatih pikiran mereka dengan menghindari minuman keras dan memelihara kesadaran, membuat dirinya sabar dan suci. Sikap yang tenang sepanjang waktu menunjukkan seorang manusia beradab. Bukanlah tugas yang berat bagi seseorang untuk menjadi tenang jika semua hal yang menyertainya mendukung. Akan tetapi sulit untuk memusatkan pikiran ditengah – tengah keadaan yang tidak menguntungkan, dan hal yang sulit inilah yang patut dilakukan. Dengan pengendalian seperti itu orang akan dapat memperkuat karakternya.
Mengendalikan diri sendiri adalah kunci menuju kebahagiaan. Itulah yang terbaik di antara segala perbuatan yang baik. Itulah kekuatan di belakang semua pencapaian sejati. Gerakan seseorang tanpa adanya pengendalian tidak ada gunanya dan mengganggu ketenangan. Orang yang memperturutkan hawa nafsu itu bagaikan seekor burung pelatuk rakus yang terkena penyakit parah karena pisang – raja hutan yang mentah.
Seorang bijaksana pada zaman dahulu mengatakan :
“ Jika orang merenungkan objek indrawi,
maka timbul daya tarik ; dari daya tarik timbul keinginan
Keinginan membakar hawa nafsu yang dahsyat ;
Nafsu menghasilkan kenekatan ; Lalu semua ingatan berkhianat ;
Membiarkan tujuan mulia lewat, melemahkan pikiran ;
Sampai tujuan, pikiran dan manusia semuanya runtuh. “

Karena kurangnya pengendalian maka dalam pikiran kita timbul berbagai macam pertentangan. Jika pertentangan ingin dimusnahkan, kita harus melakukan sedikit kendali pada keinginan dan dorongan hati serta berusaha keras untuk menjalani kehidupan yang dikendalikannya sendiri dan suci.
“ Sering kali kita semua sangat diperbudak oleh hawa nafsu, oleh hal – hal yang materialis, kita hidup semata – mata dalam dunia lahiriah, sehingga kita gagal berhubungan dengan kekuatan di dalamnya. Akan tetapi, kita harus belajar menangkap realitas di dalamnya. Dengan menyendiri dalam kesunyian, kita dapat belajar untuk mengatasi kelemahan dan keterbatasan dari pengalaman biasa. Tanpa melakukan hal ini, hidup tidak memiliki arti, tujuan, dorongan dan inspirasi.
Tidak banyak pemikiran dan argumen tentang menyempurnakan kehidupan yang menuntun kita mencapai tujuan yang kita inginkan. Tak banyak pertimbangan yang membawa kita lebih dekat kepada tujuan kita. Akan tetapi setiap perbuatan karena penolakan murni dan melepaskan diri dari sasaran yang dipengaruhi oleh nafsu – yang membuat kita semakin menuju gelapnya kebodohan dan memperbudak kita dengan daya tariknya – membawa kita ke tujuan, kebahagiaan dan kedamaian.
Tidak ada yang tak jelas dalam ajaran Buddha. Dengan mengetahui kejahatan sebagai kejahatan dan kebaikan sebagai kebaikan, mengapa orang masih saja ragu – ragu untuk menghindari jalan yang buruk dan menempuh jalan kebenaran ? Dalam pandangan Buddhis orang tidak dapat melakukan hal yang lain selain melatih perbuatan baik dan menghindari perbuatan jahat. Bagi umat Buddha melakukan perbuatan baik adalah keharusan, jika ia telah memahami ajaran Guru mereka :
Sabba papassa akaranam
Kusalassa umpasampada
Sacitta pariyodapanam
Etam Buddhanasasanam

“ Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,
Senantiasa mengembangkan kebaikan,
Dan membersihkan batin
Inilah ajaran para Buddha. “ ( Dhp. 183 )

Setiap orang, walau bagaimanapun, dapat meraih kemenangan, jika ia mau. Kita semua tidak dapat menjadi negarawan besar, seniman atau ahli filsafat, tetapi apa yang lebih penting, bagaimanapun juga bagi kita, kita semua dapat, jika kita mau, menjadi manusia yang baik.
Sering kali usaha – usaha kita untuk meraih kesempurnaan tidak berhasil. Namun kegagalan tidaklah penting selama kita jujur dalam usaha – usaha kita, dengan motif yang suci, dan selalu berusaha berulang – ulang tanpa henti. Tidak ada yang mencapai puncak bukit secara seketika. Seseorang naik sedikit demi sedikit. Bagaikan seorang tukang yang ahli membersihkan kotoran dari emas sedikit demi sedikit, manusia harus mencoba untuk membersihkan hidupnya dari kotoran – kotoran ( Dhp. 239 ). Seorang anak belajar berdiri dan berjalan secara bertahap dan dengan susah payah. Demikian pula semua orang besar, dalam mencapai kesempurnaan, bergerak setahap demi setahap, melalui kegagalan yang berulang – ulang menuju keberhasilan akhir.
Jalan yang ditunjukkan oleh Buddha untuk tumbuh dan berkembang dari dalam adalah jalan meditasi. Jalan yang dengan hati – hati mengembangkan pikiran sehingga dari kehancuran hidup, menghasilkan buah pilihan berupa kebahagiaan murni dan ketenangan tertinggi. Itulah jalan yang memiliki kesadaran tanpa henti dalam semua perbuatan kita. Kewaspadaan dan kesadaran penuh ini membawa meditasi mencapai keberhasilan. Barang siapa sadar dan tahu akan dirinya sendiri, di setiap waktu sudah berada di gerbang Tanpa Kematian – Nirwana.

Sumber :
SPEKTRUM AJARAN BUDDHA
Kumpulan Tulisan Mahathera Piyadassi
Penerbit : YAYASAN PENDIDIKAN BUDDHIS TRI RATNA

0 comments:

Post a Comment