Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Refleksi Sabda-Sabda Sang Buddha (2)

Moral yang Menimbulkan Akibat

Agama merupakan sesuatu yang harus didekati dengan pertimbangan dan perenungan- Jika telah dipelajari secara menyeluruh, suatu ajaran menarik hati dan pikiran seseorang, hendaknya ia menerapkan prinsip-prinsipnya dalam tingkah laku hidup sehari-hari. Adalah bodoh untuk mencoba mengikuti suatu kepercayaan bila seseorang tidak puas dengan kepercayaan itu karena alasan-alasan yang masuk akal. Seseorang harus jujur. Ia harus jujur kepada dirinya sendiri dan orang lain. Penipuan diri sendiri mengarah pada pertentangan batin dan kekecewaan. Tidak ada yang berhak mengganggu kebebasan orang lain dalam memilih suatu agama. Kebebasan berpikir merupakan hak asasi setiap manusia. Adalah salah bila memaksa seorang keluar dari cara hidupnya yang selaras dengan pandangan dan sifat kecenderungan dan dorongan batin orang itu. Paksaan dalam bentuk apa pun adalah tidak baik. Kekerasan yang terburuk adalah membuat seseorang menelan bulat-bulat kepercayaan yang tidak disukainya. Pemaksaan seperti itu tidaklah baik bagi siapa pun, di mana pun juga.
Seorang manusia harus diizinkan untuk tumbuh dengan cara yang akan membuatnya menghasilkan suatu yang terbaik. Pengawasan apa pun terhadap kebebasan berpikir merupakan gangguan langsung terhadap perkembangan jiwa. Seorang umat Buddha menganggap gangguan seperti itu sebagai jenis ketidaktoleransian yang terburuk.
Penyucian tidak datang dari kekuatan eksternal, dan penyucian diri sendiri hanya dapat datang pada seseorang yang bebas mempertimbangkan masalahnya sendiri tanpa halangan apa pun. Orang lain dapat menolong jika ia siap untuk menerima pertolongan seperti itu atau pun mencari pertolongan itu. Kebahagiaan tertinggi hanya dapat dicapai melalui pengetahuan sendiri, pencapaian sendiri, kesadaran sendiri akan kebenaran. Seseorang harus mengusahakan upaya yang tepat dan memutuskan belenggu yang menahannya dalam perbudakan untuk waktu yang lama dan memperoleh kebebasan dari penderitaan dengan usaha sendiri yang tanpa henti, dan bukan melalui meditasi yang dilakukan oleh orang lain. Para biku bukanlah imam yang melakukan upacara pengorbanan. Mereka tidak melakukan upacara penyucian dan menyatakan pengampunan dosa. Seorang biku yang baik tidak dapat dan tidak berdiri sebagai perantara antara umat manusia dan kekuatan supernatural. Umat Buddha diajarkan bahwa setiap orang, apakah ia umat awam ataupun biku, semata-mata bertanggung jawab bagi pembebasannya sendiri. Oleh sebab itu tidaklah perlu mengambil hati seorang imam sebagai perantara.
“Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
Oleh diri sendiri pula kita menderita.
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan,
Oleh diri sendiri pula kita menjadi suci.
Tak ada yang menyelamatkan kita kecuali diri kita sendiri,
Tak ada yang dapat dan tak ada yang mungkin;
Kita sendirilah yang harus menempuh jalan itu,
Para Buddha hanyalah menunjukkan jalan.”

Buddha-lah yang pertama kali dalam sejarah dunia, mengajarkan bahwa pembebasan dapat dicapai tanpa adanya Juru Selamat. Dengan ajaran dan contoh, Beliau merupakan teladan dari kehidupan yang ulet. “Usahakanlah pembebasanmu dengan sadar waspada” (appamadena sampadetha) adalah amanat Buddha yang terakhir.
Setiap mahluk hidup adalah pencipta bagi dirinya sendiri. Tak ada pencipta lain yang kita lihat dalam dunia melebihi perbuatan kita sendiri. Dengan perbuatan kita, kita membentuk karakter, kepribadian dan individualitas. Kita semua maju berkat usaha sendiri. Oleh karena itu Buddha berkata bahwa “Kita adalah ahli waris dari perbuatan kita sendiri, pemilik yang bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri; perbuatan kita merupakan rahim dari mana kita dilahirkan,” (M. 135) dan melalui perbuatan kita sendiri, kita harus berubah ke arah yang lebih baik, membentuk kembali diri kita dan memenangkan pembebasan dari penderitaan. Bagaimana dapat terjadi sebaliknya? Jika kita, melalui kebodohan dan nafsu kita, dalam malam yang panjang mengembara dalam samsara tidak memperbaiki diri kita sendiri, bagaimana dapat berbeda dan tidak sama dengan makhluk-makhluk hidup sebagaimana yang kita lihat dalam dunia saat ini?
Ajaran tentang moral yang menimbulkan akibat (kamma), yang merupakan satu-satunya penjelasan yang masuk akal menyangkut banyaknya penderitaan yang terjadi di dunia, tidak dapat disangkal. Semua penjelasan mengenai kehidupan yang menderita kecuali moral yang menimbulkan akibat, sepenuhnya tidak memuaskan, karena mereka tidak memperhitungkan fungsi yang sebenamya dari unsur batiniah (nama) yang tidak dapat dinyatakan secara jelas, namun menentukan dalam proses penjelmaan (bhava). Akan tetapi ketika seseorang memahami kehidupan yang menderita terutama sebagai bekerjanya hubungan sebab akibat dalam aspek yang tersembunyi dari proses kesadaran, maka ia akan mengetahui dan memahami asal kehidupan itu kebodohan; dan bentuk-bentuk yang tak terhitung dari penderitaan sebagai ungkapan dari dorongan berbagai jenis nafsu yang menyebabkan semuanya timbul dan lenyap dari satu kehidupan ke kehidupan lain bagaikan gelembung dalam lautan samsara yang luas. Kemudian ia menyadari arti dari moral yang menimbulkan akibat melalui kejadian tumimbal lahir, kelahiran kembali; kita mendapatkan hasil dari apa yang telah tanam di masa lampau. Sebagian hasil yang kita dapatkan, kita ketahui, bahkan kita tanam dalam kehidupan ini. Dengan sendirinya dalam cara yang sama, perbuatan kita di sini membentuk masa depan kita dan dengan demikian kita mulai memahami kedudukan kita di alam semesta yang penuh misteri ini. Namun, haruslah diingat bahwa menurut agama Buddha, tidak semuanya yang terjadi disebabkan karena perbuatan atau karma masa lampau.
Oleh karena itu janganlah kita tergesa-gesa menyalahkan ataupun memuji dewa atau mahkluk khusus yang dipuja karena penderitaan yang kita alami dan kebahagiaan yang kita rasakan. Tidak, bahkan Buddha-pun tidak dapat menyelamatkan kita dari belenggu samsara. Setiap orang harus melakukan usaha yang diperlukan untuk mencapai pembebasan. Dalam tangan kita terletak kekuatan untuk membentuk kehidupan kita. Orang lain dapat memberi bantuan secara tidak langsung, namun pembebasan dari penderitaan harus dilakukan dan dibiasakan oleh setiap orang bagi dirinya berlandaskan perbuatannya sendiri.
Kita percaya bahwa :
“ Apa pun yang dilakukan seseorang, demikian pula yang akan dihadapi oleh dirinya ;
Baik bagi orang yang baik, dan buruk bagi pelaku kejahatan ;
Demikianlah perbuatan kita semua seperti benih, menghasilkan buah yang sesuai. “

Kita melihat kekuasaan hukum alam, sebab dan akibat yang tanpa akhir dan tidak ada yang lain yang menguasai alam semesta. Seluruh dunia merupakan sasaran dari hukum sebab dan akibat. Seluruh dunia diperintah dan dikuasai oleh hukum sebab dan akibat yang tanpa akhir ini, dengan kata lain, aksi dan reaksi.



Sumber :
SPEKTRUM AJARAN BUDDHA
Kumpulan Tulisan Mahathera Piyadassi
Penerbit : YAYASAN PENDIDIKAN BUDDHIS TRI RATNA

0 comments:

Post a Comment