Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Refleksi Sabda-Sabda Sang Buddha (1)

Penyelidikan Bebas

Buddha mengarahkan murid-murid-Nya agar biasa untuk memilih dan menyelidiki. Untuk langsung mempercayai apa saja, bukanlah jiwa dari agama Buddha. Kita temukan percakapan ini antara Buddha dan siswa. siswa-Nya:
“Jika sekarang, dengan mengetahui ini dan mempertahankan ini, akankah kau berkata: “Kami menghormati guru kami dan karena rasa hormat kami kepada beliau kami menghormati apa yang beliau ajarkan?’”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Para Siswa, apa yang kalian pegang teguh, bukankah hanya yang kaukenali, kaulihat, dan kaupahami sendiri?”
“Ya, Yang Mulia.”
Sesuai dengan sikap yang sepenuhnya benar dari penyelidikan benar ini, dikatakan dalam risalah Buddhis berbahasa Sanskerta mengenai logika, Jnanasarasamuccaya, 31:
“Sebagaimana orang bijaksana menguji emas dengan membakar, memotong dan menggosoknya (pada sepotong batu penguji), demikian pula kalian menerima kata-kata-Ku setelah memeriksanya dan bukan hanya karena rasa hormat terhadap-Ku.”
Suatu ketika suku Kalama dari Kesaputta menemui Buddha dan berkata: ‘Yang Mulia, beberapa orang petapa dan brahmana tertentu datang ke Kesaputta. Mereka mepgumumkan dan menjelaskan secara rinci pandangan mereka sendiri; tetapi mencerca, menghina, mencela dan menjatuhkan pendapat orang lain. Selain itu, Yang Mulia, datang pula petapa dan brahnma lain ke Kesaputta, melakukan hal yang sama. Ketika kami mendengar mereka, Yang Mulia, kami merasa ragu-ragu dan bingung, siapa di antara orang-orang terhormat ini yang berbicara benar dan siapa yang berbicara salah.” Kemudian Buddha berkata demikian:
“Ya, Kalama, tidaklah salah bila ragu-ragu, mempertanyakan apa yang diragukan dan apa yang tak jelas. Dalam persoalan yang meragukan, kebingungan timbul.”
“Janganlah percaya begitu saja pada, suatu tadisi, desas desus atau logika ataupun kesimpulan semata-mata, atau sesudah merenungkan dan cocok dengan beberapa teori, atau karena rasa hormat kepada seorang petapa. Akan tetapi Kalama, kalau setelah kalian selidiki sendiri, kau ketahui: Hal-hal ini tidak menguntungkan, patut dicela, dikecam oleh orang-orang bijaksana; hal-hal tersebut, bila, dilakukan dan dikerjakan mengakibatkan kerugian dan penderitaan, maka Kalama tentu saja kalian harus menolaknya.”
“Nah, bagaimana menurut kalian, Kalama? Ketika ketamakan, kebencian dan kegelapan batin timbul dalam diri seseorang, apakah hal-hal ini menimbulkan keuntungan atau kerugian bagi orang itu?”
“Kerugian, Yang Mulia.”
“Lalu, Kalama, bukankah orang ini karena telah dikuasai oleh ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, melakukan kejahatan, menyesatkan orang lain sehingga mengalami kerugian dan penderitaan untuk waktu yang lama?”
‘Ya, Yang Mulia.”
“Karena itu, Kalama, bagaimana pendapat kalian, apakah hal-hal itu menguntungkan atau tidak menguntungkan?”
“Tidak menguntungkan, Yang Mulia.”
“Apakah hal-hal tersebut tercela atau tidak?”
“Tercela, Yang Mulia.”
Apakah hal-hal ini dikecam oleh orang bijaksana atau tidak ?”
‘Dikecam, Yang Mulia.”
“Jika dilakukan atau dikerjakan, apakah hal-hal ini menimbulkan kerugian dan penderitaan atau tidak?”
“Menimbulkan kerugian dan penderitam, Yang Mulia.”
“Oleh karena itu, Kalama, sebagaimana yang Kukatakan kepada kalian tadi: Janganlah percaya begitu saja melainkan setelah kalian selidiki sendiri kau ketahui: Hal-hal ini tidak menguntungkan dan menimbulkan kerugian dan penderitam … kalian harus menolaknya, inilah alasan-Ku membicarakannya.”
“Kalama, janganlah … percaya begitu saja. Tetapi bila kau ketahui bagi dirimu sendiri: Hal-hal ini menguntungkan, tidak tercela, dipuji oleh orang bijaksana; hal-hal ini bila dilakukan dan dikerjakan menimbulkan keuntungan dan kebahagiaan – maka, Kalama, setelah mengerjakan hal-hal ini, tinggallah di dalamnya.”
“Nah, bagaimana menurut kalian, Kalama? Ketika kebebasan dari ketamakan, kebencian dan kegelapan batin timbul dalam diri seseorang, apakah ini menimbulkan keuntungan atau kerugian bagi orang itu?”
“Keuntungan, Yang Mulia.”
“Apakah orang ini, yang tidak dikuasai oleh ketamakan, kebencian dan kegelapan batin, menahan diri untuk tidak melakukan kejahatan dan membawa orang lain ke dalam kebahagiaan?”
‘Ya, Yang Mulia.”
“Oleh karena itu, Kalama, bagaimana pendapat kalian, apakah hal-hal ini menguntungkan atau tidak menguntungkan?’
“Menguntungkan, Yang Mulia.”
“Apakah hal-hal ini tercela atau tidak?”
“Tidak tercela, Yang Mulia.”
Apakah hal-hal im dikecam atau dipuji oleh orang bijaksana?”
“Dipuji, Yang Mulia.”
“Jika dilakukan dan dikerjakan, apakah hal-hal ini menimbulkan kebahagiaan atau tidak?”
“Menimbulkan kebahagiaan, Yang Mulia!”
“Oleh karena itu, Kalama, sebagaimana yang telah Kukatakan kepada kalian tadi: ‘Janganlah percaya begitu saja …tetapi ketahuilah oleh dirimu sendiri: Hal-hal ini menguntungkan … dan menimbulkan kebahagiaan…lakukanlah hal-hal ini dan tinggallah di dalanmya,’ inilah alasan-Ku membicarakannya(A. i, 188 Sutta 65, bandingkan A. i, 66 dan A, ii, Bhaddiya Sutta 193).
Pembaca dapat mencatat bahwa khotbah ini, Kalama Sutta, mengecilkan dogmatisme dan kepercayaan buta dengan ajaran penuh semangat Untuk menyelidiki secara bebas. Meskipun demikian janganlah tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Buddha adalah “seorang pragmatis empiris yang menolak semua aiaran dan kepercayaan, yang Dharma-Nya benar benar-benar merupakan alat dan orang yang tidak mengakui ajaran agama menuju kebenaran yang mengundang setiap orang untuk menerima dan menghormati apa yang ia suka.” Pembaca harus membaca dengan penuh perhatian bagian akhir dari Sutta, yang di dalamnya Buddha menekankan pentingnya tiga akar keiahatan: ketamakan, kebencian dan kegelapan batin serta lawannya, akar kebaikan: tidak tamak, tidak membenci dan bijaksana. “Demikianlah khotbah bagi suku Kalama ini menawarkan batu ujian untuk memperoleh keyakinan dalam Dharma sebagai ajaran yang bersemangat pembebasan.”
Untuk diskusi yang lebih lengkap mengenai Sutta ini bacalah karangan yang memberi gambaran jelas: “A look at the Kalama Sutta ” oleh Biku Bodhi yang diterbitkan oleh Buddhist Publication Society Newsletter, Spring 1988, No. 9.
Agama Buddha bebas dari paksaan dan kekerasan dan tidak meminta kepercayaan buta dari pengikutnya. Pada awalnya orang yang ragu-ragu akan senang mendengar ajakan untuk menyelidiki. Agama Buddha dari awal sampai akhir terbuka bagi semua orang yang memiliki mata untuk melihat dan pikiran untuk memahami.
Ketika Buddha tinggal di hutan mangga di Nalanda, Upali, seorang pengikut setia dari Nigantha Nataputta (Jaina Mahavira), sebagaimana yang diminta oleh Mahavira menemui Buddha dengan keinginan semata-mata berdebat dengan Beliau dan mengalahkan-Nya melalui perdebatan. Pokok persoalannya adalah teori karma yang diakui oleh Buddha maupun Mahavira, namun pandangan mereka mengenai karma berbeda. Pada akhir pembicaraan yang sangat bersahabat, Upali setelah merasa yakin terhadap argumentasi Buddha, setuju dengan pendapat Beliau, dan siap untuk menjadi pengikut-Nya, sebagai seorang umat awam, (upasaka). Meskipun demikian, Buddha mengingatkannya dengan berkata: “Mengenai suatu kebenaran, Upali, lakukanlah penyelidikan yang menyeluruh. Adalah baik bila orang terkenal seperti engkau melakukan penyelidikan yang menyeluruh.” Bagaimanapun, Upali menjadi semakin puas dan senang terhadap Buddha karena mendapat petunjuk seperti itu, dan menyatakan diri berlindung kepada Buddha, Dharma dan Sangha. Walaupun Upali menjadi seorang umat berdasarkan keyakinan, Buddha menasihatinya agar tetap menghormati dan membantu guru-gurunya yang terdahulu sebagaimana yang biasa dilakakukannya (Upali Sutta, M. 56).
Demikianlah Buddha menganjurkan pentingnya kebebasan berpikir dan berbicara dan toleransi.
Mengikuti jejak Buddha, Raja Asoka yang beragama Buddha, yang memerintah India pada abad ke-3 SM, menyatakan dalam Prasasti Batu XII :
“Seseorang seharusnya tidak hanya menghormati agamanya sendiri dan menjelek-jekekkan agama orang lain, tetapi ia harus menghormati agama orang lain untuk alasan ini atau itu. Dengan demikian ia menolong agamanya sendiri untuk berkembang juga memberikan bantuan kepada agama orang lain. Dengan melakukan hal yang sebaliknya ia menggali kuburan bagi agamanya sendiri dan juga merugikan agama-agama lain. Siapa saja yang menghormati agamanya sendiri dan menjelek-jelekkan agama lain, melakukannya karena kesetiaan kepada agamanya sendiri, berpikir: ‘Aku akan memuliakan agamaku.’ Akan tetapi dengan melakukan hal itu justru sebaliknya mclukai agamanya sendiri lebih parah. Jadi rukunlah, sungguh patut dipuji: Marilah semua mendengar, mau mendengar ajaran yang dinyatakan oleh orang lain.”
Dalam agama Buddha seseorang tidak diminta untuk percaya pada sesuatu tanpa pertama-tama mengetahui apa yang dipercayainya itu. Kepercayaan buta dipantangkan dalam ajaran analisis(vibhajjavada) dari Buddha. Dalam banyak cara, kemutlakan sifat filosofi analitis dari Buddha dikemukakan secara jelas.
Kecuali Buddha, tidak ada guru di dunia ini yang memilild sifat tersebut secara lengkap. Beliau adalah ahli filsafat analitis yang tertinggi. Di sini, “ahli filsafat analitis” artinya orang yang menyatakan sesuatu setelah memecahkannya kedalam sifat-sifat yang bermacam-macani, menyusun sifat-sifatnya dalam urutan yang sesuai, membuat segalanya jelas. Vimati Vinodani, pembahasan mengenai Ulasan Winaya, menyatakan bahwa seorang ahli filsafat analitis memiliki sifat orang yang menyatakan sesuatu setelah menyelidiki sampai bagian terkecilnya; ia tidak menyatakan sesuatu secara kesatuan, tetapi memandang segala sesuatu dalam bagian-bagian, setelah membagi segala sesuatu sesuai dengan cirinya yang menonjol, setelah membuat semua bagian berbeda, maka pendapat sesat dan keraguan lenyap serta kebenaran biasa dan kebenaran tertinggi (sammuti paramattha-sacca) dapat dipahami. Dalam Sarattha-dipani, juga pembahasan mengenai Ulasan Winaya, kita menemukan catatan sebagai berikut: “Penegak metode analitis adalah Buddha, karena Beliau tidak melakukan pendekatan ekstrem dari ajaran kekekalan dan ajaran nihilis, melainkan mengaiarkan jalan tengah mengenai sebab-musabab yang saling bergantungan.”
Sebagaimana ahli anatomi yang pandai membagi anggota tubuh ke dalam jaringan dan jaringan ke dalam sel, Buddha menganalisis semua bagian apa pun ke dalam elemen-elemen dasarnya. Karena itulah Beliau disebut Vibbhajjavadi, Guru Ajaran Analisis.
Kebenaran Dharma dapat dipahami hanya melalui pengertian, tidak pemah melalui kepercayaan buta. Seseorang yang mencari kebenaran tidak puas dengan pengetahuan di permukaan. Orang seperti itu ingin menyelidiki ke dalam dan melihat apa yang tersembunyi. Ini adalah jenis pencarian yang dianjurkan dalam agama Buddha. Tipe pencarian seperti itu menghasilkan pengertian benar.
Sebagaimana kepercayaan buta yang bertentangan dengan semangat dari sabda-sabda Buddha, berdoa dan memohon kepada kekuatan ekstemal yang takhayul juga bertentangan dengan cara hidup umat Buddha. Buddha, makhluk yang paling bijaksana dan paling suci, dalam penyelidikannya Yang menyeluruh terhadap alam semesta menemukan bahwa konsep makhluk gaib atau kekuatan luar yang sewenang-wenang hanyalah khayalan belaka. Ketakutan dalam diri manusia yang tejerat oleh kebodohanlah yang menciptakan pemikiran mengenai kekuatan eksternal yang serba tahu, berkuasa, dan sekali pemikiran itu terbentuk, manusia memasuki pesona anak kecil yang ketakutan sendiri dan membuat mereka rugi bukan kepalang.
Pemujaan yang tertinggi diberikan kepada Dia yang terbaik di antara manusia, yang memiliki jiwa besar dan berani, dengan kewaspadaan dan Pemahaman yang menembus kenyataan, memusnahkan kebodohan, noda-noda terburuk, puncak keiahatan dari semua kegilaan kita, dan mencabut akar semua nafsu. Orang yang melihat kebenaran adalah penolong kita yang sesungguhnya, tetapi umat Buddha tidak memohon kepada mereka. Umat hanya menghormati para pembabar kebenaran karena telah menujukkan jalan menuju kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus dicapai oleh diri sendiri: tidak ada seorangpun yang dapat membuat orang lain lebih baik ataupun lebih buruk.
Manusia harus dibiarkan sendiri untuk menjaga diri dan kekuatannya sendiri yang tersembunyi. Biarkan dia belaiar untuk berdiri sendiri. Pemikiran bahwa yang lain mengangkat dia dari tingkat yang lebih tinggi dan menyelamatkannya, cenderung membuat manusia menjadi malas dan lemah . Pikiran seperti itu merendahkan manusia. “Ketergantungan pada kekuatan eksternal biasanya dimaksudkan untuk membuat manusia pasrah tanpa usaha.” Maka Buddha menasihati para pengikut-Nya agar memiliki kepercayaan pada diri sendiri. Tidak ada yang dapat memberikan kita kedamaian sejati, kecuali diri kita sendiri; yang lain hanya mungkin dapat membantu kita secara tidak langsung. Pembebasan dari penderitaan harus diusahakan oleh setiap, orang bagi dirinya sendiri.
Ilmu psikologi mengungkapkan bahwa kemungkinan-kemungkinan tak terbatas tersembunyi dalam diri manusia dan diperlukan usaha keras dari manusia itu sendiri untuk membangkitkan dan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan tersebut. Setiap orang harus melakukan usaha yang diperlukan bagi pembebasannya. Tidak ada sesuatu di bumi atau pun di surga yang dapat menghadiahkan pembebasan kepada orang lain yang semata-mata hanya memohonnya untuk itu. Dalam tangannya sendiri terletak kekuatan untuk membentuk kehidupan seseorang.
“Jangan memohon! Kegelapan tidak menjadi terang!
Sia-sia bertanya kepada kesunyian, karena ia tak dapat bicara!
Janganlah menyakiti pikirannu yang sangat menyedihkan dengan penderitaan yang saleh!
Ah! Saudaraku, Saudariku!
Sia-sia mencari dengan persembahan dan nyanyian pujian kepada dewa-dewa yang tak dapat menolong!
Tidak pula dengan mengorbankan darah,
atau dengan menyuap buah-buahan dan kue-kue.
Dalam dirimu sendiri pembebasan harus dicari,
Setiap manusia membentuk penjara bagi dirinya.”
Light of Asia , Sir Edwin Arnold

Apa yang sesungguhnya yang menggerakkan orang-orang untuk percaya kepada dewa sama sekali bukan pertimbangan intelektual.
Kebanyakan orang percaya kepada dewa karena mereka telah diajarkan untuk melakukannya sejak dini pada masa kecil, dan ini merupakan alasannya yang utama.”
“Kemudian aku berpkir bahwa alasan yang terkuat adalah kebutuhan akan keamanan, semacam perasaan bahwa ada seorang saudara tua yang akan menjagamu. Hal ini memainkan peranan yang amat besar dalam mempengaruhi kebutuhan orang-orang untuk percaya kepada seorang dewa.” Bertrand Rusell.



Sumber :
SPEKTRUM AJARAN BUDDHA
Kumpulan Tulisan Mahathera Piyadassi
Penerbit : YAYASAN PENDIDIKAN BUDDHIS TRI RATNA



Sumber: http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/refleksi-sabda-sabda-sang-buddha/

0 comments:

Post a Comment