Chat Here

Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Kisah Mengalahkan Cinca

Katvãna katthamudaram iva gabbhiniyã
Ciñcãya duttha vacanam janakãya majjhe
Santena somaviddhinã jitavã munindo
Tan tejasã bhavatu te jayamangalãni
Setelah membuat perutnya gendut seperti wanita hamil dengan mengikatkan sepotong kayu
Cinca memfitnah di tengah-tengah banyak orang
Raja Para Bijaksana menaklukkannya dengan sikap kesatria dan kedamaian
Dengan kekuatan ini semoga engkau mendapat kemenangan sempurna.
Pada saat para pertapa kehilangan banyak pengikut yang menyokong kehidupan mereka, mereka amat iri melihat banyak orang, baik kaya maupun miskin mendatangi Sang Buddha untuk menyampaikan hormat dan mendengarkan Dhamma. Mereka lalu melakukan perbuatan buruk, dan berteriak-teriak di tengah jalan : “Hai saudara-saudara ….. Apakah hanya Bhikkhu Gotama saja yang dapat menjadi seorang Buddha? Kami adalah para Buddha juga! Apakah hanya dengan berdana kepadaNya saja yang akan memperoleh kebajikan? Yang berdana kepada kami, juga akan memperoleh kebajikan yang sama. Karena itu kamu harus memberikan dana dan penghormatan kepada kami juga.”

Tetapi penduduk di desa itu tetap tidak memperhatikan mereka. Akhirnya para pertapa dengan diam-diam berkumpul bersama dan berunding : “Dengan cara bagaimana kita dapat mencela Bhikkhu Gotama di depan orang banyak, sehingga orang-orang akan berhenti memberikan dana dan penghormatan kepadaNya?”

Pada waktu itu di Savatthi, tinggallah seorang pertapa wanita bernama Cinca Manavika. Ia mempunyai kecantikan dan keelokan yang luar biasa. Dari tubuhnya memancar sinar terang seperti seorang dewi. Seorang penasihat pertapa yang kasar mengusulkan, dengan bantuan Cinca mereka akan dapat mencela Sang Buddha Gotama. Para pertapa yang lain menyetujui usulannya. Mereka lalu memanggil Cinca Manavika.

Cinca Manavika mendatangi para pertapa, lalu memberi hormat dan berdiri menanti, tetapi para pertapa itu diam saja. Ia lalu bertanya : “Ada masalah apakah Anda ingin bertemu dengan saya?”

Pertanyaan ini diulangnya tiga kali, tetapi para pertapa itu diam saja. Kemudian ia berkata lagi : “Tuan yang mulia, saya datang menghadap untuk memperoleh jawaban. Ada masalah apakah Anda ingin bertemu dengan saya? Mengapa Anda tidak mau menjawab pertanyaanku?”

“Saudari,” jawab salah seorang pertapa, “Tahukah kamu, kalau Bhikkhu Gotama sangat merugikan kami, sehingga penghasilan dan penghormatan orang-orang kepada kami menjadi hilang?”

“Tidak yang mulia, saya tidak mengenalnya, tetapi adakah yang dapat saya bantu dalam hal ini?”

“Saudari, kalau kamu mengharapkan kami hidup sejahtera, gunakanlah segala kemampuanmu, susunlah rencana untuk mencela Bhikkhu Gotama, sehingga orang-orang tidak memberikan dana dan penghormatan lagi kepadaNya.”

Cinca Manavika menjawab : “Baiklah yang mulia, saya akan melakukannya, jangan khawatir.” Setelah berkata demikian, ia pergi dari pertapaan itu.

Sejak saat itu, Cinca meningkatkan keahliannya dalam bidang kewanitaan untuk mencapai maksudnya. Ia lalu menyusun rencana, apabila penduduk Savatthi kembali dari Vihara Jetavana setelah mendengarkan Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha, ia dengan sengaja mengenakan mantel panjang yang berwarna merah menyala, menyemprotkan minyak wangi dan mengenakan untaian bunga di tangannya, dan berjalan menuju ke arah Vihara Jetavana. Orang-orang bertanya : “Mau kemana kamu pada malam hari begini?”

“Saya mau pergi kemana saja, apa urusannya denganmu?”

Ia lalu menghabiskan malam itu di dekat Vihara Jetavana, di tempat para pertapa. Keesokan harinya ketika para penduduk keluar dari rumah menuju ke vihara untuk menyampaikan hormatnya kepada Sang Buddha, ia berjalan balik pulang masuk ke kota, seperti ia baru saja kembali dari Vihara Jetavana. Orang-orang bertanya : “Tidur di mana kamu semalam?”

“Apa urusannya dengan kamu, di mana saya tidur semalam?” jawabnya.

Setelah satu setengah bulan berlalu, apabila orang bertanya dengan pertanyaan seperti di atas, ia selalu menjawab :
“Oh, saya menghabiskan malam ini di Vihara Jetavana sendirian bersama Bhikkhu Gotama di Ruang Dhammasala.”

Karena jawabannya itulah membuat orang-orang mempunyai perasaan curiga dan khawatir, tetapi mereka tidak percaya akan apa yang dikatakan Cinca. Mereka bertanya-tanya : “Ini benar atau salah…?”

Ketika tiga minggu sampai empat bulan berlalu, Cinca lalu membalut perutnya dengan kain, sehingga terlihat ia sedang hamil muda. Ia lalu pergi dan berkata kepada para penduduk : “Saya mengandung bayi dari Bhikkhu Gotama.”

Jadi ia menipu dengan melakukan perbuatan yang sangat bodoh. Ketika delapan sampai sembilan bulan berlalu, ia mengikat dengan kuat sepotong kayu di perutnya, dan menutupinya dengan jubah panjang. Ia lalu membuat seluruh tubuhnya membengkak, dengan cara memukuli tangan, kaki dan punggungnya dengan sepotong tulang kerbau. Ia merasa tubuhnya seperti orang yang sedang hamil tua.

Pada malam itu ia mendatangi Ruang Dhammasala dan berdiri di hadapan Sang Buddha. Saat itu Sang Buddha sedang duduk di tempat duduknya yang indah, di tengah Ruang Dhammasala dan sedang membabarkan Dhamma. Dengan berdiri di hadapan Sang Buddha, Cinca Manavika membuka mulutnya, mencerca dengan berkata: “Hai Bhikkhu Yang Perkasa, kekuatanMu adalah mengumpulkan orang ketika sedang mengajarkan AjaranMu; dengan suaraMu yang halus dan lembut keluar dari bibirMu. Sayang sekali ternyata Kamu adalah orang yang menjadikan saya hamil dan saya akan melahirkan tidak lama lagi. Tetapi, Kamu juga tidak berusaha untuk menyediakan tempat berbaring di ruangan ini untukku, ataupun menawarkan kepadaku susu, minyak ataupun keperluan lainnya yang aku butuhkan. Batalkan semua tugas yang harus Kamu kerjakan, tidakkah Kamu katakan ke orang-orang yang menjadi pengikutMu, seperti Raja Kosala, Anathapindika dan Visakha pendukungMu yang terkenal itu. Katakanlah : ‘Berikanlah apa yang perempuan muda ini butuhkan.’ Kamu mengetahui dengan baik bagaimana membuat kesenangan, tetapi Kamu tidak mengetahui bagaimana memelihara anak yang menjadi keturunanMu ini.”

Cinca mencerca Sang Tathagata di tengah-tengah orang banyak, seperti seorang perempuan yang membawa kotoran di tangannya dan ingin mengotori permukaan bulan.

Sang Buddha yang diganggu oleh Cinca saat Beliau membabarkan Dhamma hanya berkata :
“Saudari, apa yang kamu katakan itu benar atau salah, hanya Tathagata 1) dan kamu yang tahu.”
“Ya, Bhikkhu Yang Perkasa, siapakah yang dapat memutuskan apakah hal ini benar atau salah kalau hanya saya dan Kamu yang tahu?” jawab Cinca.

Pada saat itu juga tempat duduk Dewa Sakka 2) terasa panas. Dewa Sakka mencari sebabnya mengapa tempat duduknya menjadi panas, Beliau segera menyadari bahwa : “Cinca Manavika berbohong dengan menuduh Sang Tathagata.”

Dewa Sakka lalu berkata sendiri : “Saya akan membuat masalah ini menjadi terang dan jelas.”

Dewa Sakka beserta keempat dewa lainnya pergi ke Ruang Dhammasala itu. Para Dewa itu lalu mengubah dirinya menjadi tikus-tikus kecil. Dengan satu gigitan dari tikus-tikus kecil itu, tali yang mengikat kayu di perut perempuan itu putus. Pada waktu itu juga angin bertiup dengan kencangnya sehingga jubah panjang itu terlepas dari tubuh Cinca, dan sepotong kayu segera jatuh dari perutnya. Kayu itu menimpa kaki dan memutuskan jari-jari kakinya. Orang-orang berteriak :
“Perempuan jahat ini telah mencerca Yang Maha Sempurna, usir dia dari sini.”

Dengan segera mereka lalu mencengkeram kepalanya, dengan segumpal tanah dan tongkat di tangan mereka mengusir Cinca, lalu melemparkan Cinca keluar dari Vihara Jetavana.

Ketika ia tidak terlihat lagi oleh Sang Tathagata, bumi di hadapannya merekah terbelah dua dan membenamkannya sampai di kedua lututnya, dan api Neraka Avici 3) segera menyambarnya. Tubuh Cinca lalu ditelan kobaran api, dan seperti diselimuti oleh selimut yang indah, dengan segera ia terlahir kembali di Neraka Avici.

Sejak saat itu orang-orang tidak menghormati para pertapa itu lagi, sebaliknya pengikut Sang Buddha bertambah banyak.

Keesokan harinya, para bhikkhu berdiskusi di Ruang Dhammasala :
“Bhante, Cinca Manavika karena kesalahannya menuduh Yang Maha Suci, Yang Maha Sempurna, ia menjadi hancur.”

Sang Guru Agung mendekati mereka dan bertanya :
“O, Para Bhikkhu, apa yang kalian bicarakan?”

Ketika mereka menjelaskan apa yang mereka perbincangkan, Sang Buddha lalu menjelaskan :
“O, Para Bhikkhu, ini bukanlah yang pertama kali ia melakukan kesalahan dengan melakukan tuduhan bohong kepadaKu dan menjadi hancur. Ia telah melakukan hal yang sama pada kelahirannya yang terdahulu.”

Setelah berkata demikian, Sang Guru lalu bersabda :

Kalau seorang raja melihat dengan jelas kesalahan pada suatu bagian
Sesudah ia sendiri menyelidiki semua fakta dengan teliti
Baik kecil maupun besar, ia tidak harus memberikan hukuman

Setelah berkata demikian, Beliau menjelaskan hal ini secara terperinci di dalam Maha Paduma Jataka (No. 472), di Nipata Dua Belas.
Keterangan :
  1. Tathagata : Yang Maha Sempurna; Sebutan untuk Sang Buddha yang digunakan oleh Beliau apabila berbicara untuk diriNya.
  2. Dewa Sakka : Raja para dewa
  3. Neraka Avici : Salah satu dari neraka yang menakutkan
Sumber: samaggi-phala.or.id

0 comments:

Post a Comment