Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Cara Berdiskusi yang Baik menurut Sang Buddha

AN 3.67 PTS: A i 197
Kathāvatthu Sutta: Topik-Topik Untuk Diskusi
Diterjemahkan dari bahasa Pāḷi ke bahasa Inggris oleh Bhikkhu Thanissaro
© 2009-2010


"Para bhikkhu, ada 3 topik berikut untuk berdiskusi. Apakah tiga itu?

"Seseorang bisa berkata tentang masa lampau, dengan berkata, 'Demikianlah pada masa lampau.' Seseorang bisa berkata tentang masa depan. dengan berkata, 'Demikianlah yang akan terjadi dimasa depan.' Atau seseorang bisa berkata tentang masa kini, dengan berkata, 'Demikianlah masa kini.'

"Para bhikkhu, melalui caranya berpartisipasi dalam sebuah diskusi seseorang dapat diketahui cocok atau tidak cocok untuk berdiskusi. Jika seseorang, ketika ditanyakan sebuah pertanyaan, tidak memberikan sebuah jawaban langsung untuk sebuah pertanyaan yang membutuhkan sebuah jawaban langsung, tidak memberikan sebuah jawaban analitis (yang layak) untuk sebuah pertanyaan yang membutuhkan sebuah jawaban analitis, tidak memberikan sebuah pertanyaan balasan untuk sebuah pertanyaan yang membutuhkan sebuah pertanyaan balasan, tidak mengesampingkan pertanyaan yang perlu dikesampingkan, kemudian — dengan demikian — dia adalah orang yang tidak cocok untuk berdiskusi. Tetapi jika dia, ketika ditanyakan sebuah pertanyaan, memberikan sebuah jawaban langsung untuk sebuah pertanyaan yang membutuhkan sebuah jawaban langsung, memberikan sebuah jawaban analitis untuk sebuah pertanyaan yang membuthkan sebuah jawaban analitis, memberikan sebuah pertanyaan balasan untuk pertanyaan yang membutuhkan sebuah pertanyaan balasan, dan mengesampingkan sebuah pertanyaan yang perlu dikesampingkan, kemudian — dengan demikian — dia adalah orang yang cocok untuk berdiskusi.

"Para bhikkhu, melalui caranya berpartisipasi dalam sebuah diskusi seseorang dapat diketahui cocok atau tidak cocok untuk berdiskusi. Jika seseorang, ketika ditanyakan sebuah pertanyaan, tidak memperhatikan apa yang mungkin dan tidak mungkin, tidak sesuai dengan asumsi-asumsi yang disepakati, tidak sesuai dengan ajaran-ajaran yang diketahui kebenarannya,[1] tidak sesuai dengan prosedur standar, kemudian — dengan demikian — dia adalah orang yang tidak cocok untuk berdiskusi. Tetapi jika seseorang, ketika ditanyakan sebuah pertanyaan, memperhatikan apa yang mungkin dan tidak mungkin, sesuai dengan asumsi-asumsi yang disepakati, sesuai dengan ajaran-ajaran yang diketahui kebenarannya, sesuai dengan prosedur standar, kemudian — dengan demikian — dia adalah orang yang cocok untuk berdiskusi.

"Para bhikkhu, melalui caranya berpartisipasi dalam sebuah diskusi seseorang dapat diketahui cocok atau tidak cocok untuk berdiskusi. Jika seseorang, ketika ditanyakan sebuah pertanyaan, merendahkan [si penanya], mempermalukannya, mengoloknya, mengambil kesempatan dari kesalahan-kesalahan kecilnya, kemudian — dengan demikian — dia adalah orang yang tidak cocok untuk berdiskusi. Tetapi jika seseorang, ketika ditanyakan sebuah pertanyaan, tidak merendahkan [si penanya], tidak mempermalukannya, tidak mengoloknya, tidak mengambil kesempatan dari kesalahan-kesalahan kecilnya, kemudian — dengan demikian — dia adalah orang yang cocok untuk berdiskusi.

"Para bhikkhu, melalui caranya berpartisipasi dalam sebuah diskusi seseorang dapat diketahui mendekati atau tidak mendekati. Seseorang yang mendengarkan mendekati; seseorang yang tidak mendengarkan tidak mendekati. Dengan mendekati, dia mengetahui dengan jelas kualitasnya, memahami kualitasnya, meninggalkan kualitasnya, dan menyadari kualitasnya.[2] Dengan jelas mengetahui kualitasnya, memahami kualitasnya, meninggalkan kualitasnya, dan menyadari kualitasnya, dia menyentuh pelepasan benar. Untuk itulah guna dari diskusi, itulah guna dari mendengarkan nasehat, itulah guna dari mendekat, itulah guna dari mendengarkan: yaitu, pembebasan batin melalui tanpa kemelekatan.
Mereka yang berdiskusi ketika kemarahan, dogma, kesombongan, mengikuti apa yang bukan jalan mulia, saling mencari-cari kesalahan, bersenang dalam kata-kata yang salah diucapkan, tergelincir, terjatuh, terkalahkan. Para mulia tidak berkata dengan cara demikian.
Jika orang bijaksana, mengetahui waktu yang tepat, ingin berbicara, kemudian, kata-katanya baik dan masuk akal, mengikuti cara para bijaksana: Itulah apa yang dikatakan oleh mereka yang sudah tercerahkan, tanpa kemarahan atau kesombongan, dengan batin yang tidak lepas kendali, tanpa nada keras, tanpa dengki.
Tanpa iri mereka berkata berdasarkan pengetahuan benar. Mereka akan bersenang dalam kata-kata yang diucapkan dengan baik. dan tidak mengecilkan apa yang tidak. Mereka tidak mempelajari untuk mencari kesalahan, tidak mencari kesalahan-kesalahan kecil. tidak merendahkan, tidak mempermalukan, tidak berkata sembarangan.
Demi pengetahuan, demi [menginspirasi] keyakinan jernih, menasehati apa yang benar: Demikianlah para bijaksana memberikan nasehat, Demikianlah para bijaksana mendengarkan nasehat. Mengetahui ini, orang bijaksana seharusnya memberikan nasehat tanpa kesombongan."
Catatan kaki:

1. Bacaan aññaatavaada dengan edisi Burma. Sebuah terjemahan alternatif-nya adalah "Ajaran-ajaran mereka yang mengetahui."

2. Menurut kitab komentar, kualitas-kualitas ini adalah kebenaran mulia dari sang jalan, kebenaran mulia tentang dukkha, kebenaran mulia tentang sebab dukkha, dan kebenaran mulia tentang berhentinya dukkha.

***
klik sini gan untuk sumbernya:
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5207244
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150358878610384

0 comments:

Post a Comment