Chat Here

Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts

Xu Yuehua, Tanpa Kaki Merawat 130 Anak Yatim Piatu

Xu Yuehua, seorang wanita tanpa kaki yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat sebuah yatim piatu di China, sungguh perkerjaan yang luar biasa. Dulunya Xu Yuehua adalah seorang gadis kecil yang normal seperti teman-temannya. Sampai pada suatu saat, waktu mengumpulkan batubara di rel kereta api. dan sebuah kecelakaan kereta api membuat Xu kehilangan kedua kakinya pada usia 13 tahun. Tidak ada kaki di usia yang sangat muda mungkin bagai dunia telah berakhir bagi Xu yuenhua. Apalagi Xu Yuehua saat itu adalah yatim piatu. Tidak semua orang bisa menghadapi kenyataan hidup ini.


Xu Yuehua dengan sabar mengurus anak yatim piatu


Disaat dimasa frustasi, Xu Yuehua segera sadar untuk menjadikan hidup dan tubuhnya berguna untuk sesama selama dia diberi kesempatan hidup di dunia. Ia telah merasakan waktu kecil sebagai yatim piatu dulu, dan dengan mengandalkan dua kursi kayu pendek untuk menyangga tubuhnya dan untuk berjalan, Xu melanjutkan hidupnya dengan tujuan dan semangat yang mulia, yaitu mengasuh dan membesarkan anak-anak yatim piatu.

Di Xiangtan Social Welfare House yang membantunya melalui masa-masa sulit ini Xu menemukan panggilannya. Saat ini, Xu telah menjalani 37 tahun merawat anak-anak yatim piatu di lembaga kemanusiaan ini. Dengan keterbatasannya, sudah 130 anak yang dibesarkan Xu. Memang tidak mudah untuk berpindah dari ranjang yang satu ke ranjang lain menggunakan bangku pendek. Belum lagi saat harus menyusui, meredakan tangisan bayi yang rewel dan mengajak mereka bermain. Namun wanita yang disebut ‘The Stool Mama’ ini melakukan semua hal dengan sebaik-baiknya.

Dengan melakukan yang terbaik, satu per satu kekhawatiran dalam kehidupan Xu Yuehua seakan dijawab oleh Yang Maha Kuasa. Pada tahun 1987, Xu menikah dengan Lai Ziyuan, seorang petani sayur di panti asuhan yang sama dan melahirkan anak laki-laki, Lai Mingzhi, tiga tahun kemudian. Xu mengaku sangat bahagia dengan hidup dan pengabdiannya.

Dalam benaknya, cacat fisik bukanlah menjadi batasan ataupun halangan seseorang untuk melakukan sesuatu dan berbagi demi mengurusi orang lain. Bahkan dengan kerendahannya hatinya yang sangat tulus, perempuan tersebut mengatakan, dirinya bukanlah orang hebat. Apa yang dilakukannya semata-mata hanya untuk memberikan kasih sayang seorang ibu. Untuk anak-anak yang nasibnya kurang beruntung, karena telah kehilangan orang tua.

Ia telah merasakan kehilangan kedua orangtuanya sejak masih kecil. Mulai saat itulah, dirinya dirawat di Rumah Yatim Piatu Xiantan. Dengan menggunakan kursi kecil untuk menggantikan kedua kakinya tersebut, Xu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seperti memberi makan, mencuci, mengganti selimut, bahkan kadang membuatkan sepatu untuk 130 anak yatim asuhannya.



Xu Yuehua sedang berbincang dengan Sheng Li anak yatim pertama yang dibesarkan olehnya

Mengasuh dengan Sepenuh Hati
Seperti dikutip dari Orange.co.uk, Rabu (22/12), Sheng Li, salah seorang anak asuh Xu Yueahua menuturkan, bahwa Xu merupakan pahlawan di mata anak-anak penghuni rumah panti asuhan Xiantan. “Tanpa Ibu Besar (panggilan untuk Xu Yuehua), mungkin saya sudah meninggal sejak lama. Suara kursi kecil yang menjadi tanda datangnya Ibu Besar merupakan suara yang terindah yang pernah saya dengar hingga saat ini,” ungkap Sheng Li.Meski telah memiliki keluarga sendiri Xu tetap merawat anak-anak di panti asuhan di tempat dirinya dulu dibesarkan. “Saya bukanlah orang hebat. Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, yaitu memberikan kasih sayang seorang ibu untuk anak-anak malang itu,” ucap Xu merendah. 


Sebuah pelajaran yang sangat berharga, bahwa kebahagiaan selalu ada dalam setiap orang yang selalu berpikir positif, berpikir maju dan tidak berkubang dalam penderitaannya


Sumber : http://forum.kompas.com/internasional/46461-xu-yuehua-tanpa-kaki-merawat-130-anak-yatim-piatu.html

Kisah Nyata - Semangkuk Nasi Putih

Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu ada seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu di restoran sudah agak sepi. Dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut.

"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih." Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan. Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan, "Dapatkah Ibu menyiram sedikit kuah sayur di atas nasi saya?"

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum, "Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar!"

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir: "Kuah sayur gratis." Lalu ia memesan semangkuk lagi nasi putih. "Semangkuk tidak cukup anak muda? Kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya." Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.

"Bukan, saya akan membawanya pulang. Besok saya akan membawa nasi itu ke kampus sebagai makan siang saya!"

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin di luar kota. Demi menuntut ilmu ia datang ke kota dan mencari uang sendiri untuk kuliah. Kesulitan dalam keuangan, itu sudah pasti ia alami.

Berpikir sampai di situ pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan di bawah nasi. Kemudian ia membungkus nasi tersebut, sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja, dan memberikannya kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini. Hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di bawah nasi? Suaminya kemudian berbisik kepadanya, "Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk di nasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya. Harga dirinya pasti akan tersinggung. Lain kali dia tidak akan datang lagi. Jika dia makan ke tempat lain dan hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah?"

"Engkau sungguh baik hati. Sudah menolong orang, masih juga engkau menjaga harga dirinya."
"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku?"

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.
"Terima kasih, saya sudah selesai makan." Pemuda ini pamit kepada mereka. Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikkan badan, melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.

"Besok singgah lagi ya! Engkau harus tetap bersemangat!" kata sang suami sambil melambaikan tangan. Dengan perkataannya itu ia bermaksud mengundang pemuda ini agar jangan segan-segan datang lagi besok.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu. Mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah ke rumah makan mereka. Sama seperti biasa setiap hari ia hanya memesan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.

Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari sampai pemuda ini tamat kuliah. Selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami isteri ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah pengumuman bahwa rumah makan mereka harus digusur. Tiba-tiba mereka akan kehilangan mata pencaharian. Dan mengingat anak mereka yang disekolahkan di luar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

Pada saat ini masuklah seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek, kelihatannya seperti seorang Direktur dari kantor bonafide.

"Apa kabar? Saya adalah Wakil Direktur dari sebuah perusahaan. Saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami. Perusahaan kami telah menyediakan semuanya. Kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian ke sana. Keuntungannya akan dibagi dua dengan perusahaan."

"Siapakah direktur di perusahaan kamu? Mengapa begitu baik terhadap kami? Saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia!" sepasang suami istri ini berkata dengan terheran-heran.

"Kalian adalah penolong dan kawan baik Direktur kami. Direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian. Hanya itu yang saya tahu, yang lain dapat kalian ketahui setelah kalian bertemu dengannya."

Akhirnya, pemuda yang biasa memakan semangkuk nasi putih ini muncul. Setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang Presiden Direktur yang sukses. Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini. Jika mereka tidak membantunya, dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi Direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam ia berkata kepada mereka, "Bersemangat ya! Di kemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian. Sampai bertemu besok!"

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan. Terharu? Ayo, jangan sungkan untuk berbuat baik hari ini... You never know what will happen tommorow.

SUMBER : http://sparepartsalatberat.blogspot.com/2012/03/semangkok-nasi-putih.html

Penantian Yang Tidak Sia-Sia

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota .

Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya.

Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong.

Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.

Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini." Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali.

Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suami nya, dan bila malam tidur di emperan toko itu.

Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu,orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya. Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja.

Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula.

Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. "Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita". Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anak nya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti.. Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.

Begitu lah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota ...

Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota . Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.

Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano.Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi.

Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat. Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.

Setahun setelah perkimpoian mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu. Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayah nya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam.

Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni.

Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto.

Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang . Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya..

Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama. 

Mata nya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?" 

Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa laluSerrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil.

Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badansosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.

Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad.

Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian. 

Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya". Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerimakabar bahwa ada seorang wanita yang ungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. 

Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu.

Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik.

Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya. 

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. "Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi." 

Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikut nya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang". Ia mulai berdoa "Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja".

Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya , dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan ". Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat.

Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak. 

Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulansberhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu. "Belum bergerak dari tadi." lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih esadarannya dan turun.

Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. "Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu ."

Serrafona memandang tembok dihadapann ya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kaki nya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkan nya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

"Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya,beri kami sehari...... Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia....Jadi mama tidak menyia-nyia kan saya".

Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda.

"Mama.. ..", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras dan tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak - kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatann ya menarik lagi jiwanya yang akan lepas.

Perlahan ia membuka genggaman tangann ya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.

"Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu... Mama..."

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan..... satu jam saja.... ...satu jam saja....."

Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.

Teman....mungkin saat ini kita sedang beruntung. Hidup ditengah kemewahan dan kondisi berkecukupan. Mungkin kita mendapatkannya dari hasil keringat sendiri tanpa bantuan orang tua kita. Namun yang perlu kita sadari, bahwa orang tua kita senantiasa berdoa untuk kita, meski itu hanya di peraduan...

Kisah Nyata dari Singapura: Tentang Penghormatan kepada Orang Tua

Di bawah ini adalah Kisah Nyata dari Negeri tetangga beberapa dekade lalu yang cukup menghebohkan hingga Perdana Menteri saat itu, Lee Kwan Yew senior turun tangan dan mengeluarkan dekrit tentang orang lansia di Singapura.


Dikisahkan ada orang kaya raya di sana mantan Pengusaha sukses yang mengundurkan diri dari dinia bisnis ketika istrinya meninggal dunia. Jadilah ia single parent yang berusaha membesarkan dan mendidik dengan baik anak laki-laki satu-satunya hingga mampu mandiri dan menjadi seorang Sarjana.

Kemudian setelah anak semata wayangnya tersebut menikah, ia minta ijin kepada ayahnya untuk tinggal bersama di Apartemen Ayahnya yang mewah dan besar. Dan ayahnya pun dengan senang hati mengijinkan anak menantunya tinggal bersama-sama  dengannya. Terbayang dibenak orangtua tersebut bahwa apartement nya yang luas dan mewah tersebut tidak akan sepi, terlebih jika ia mempunya cucu. Betapa bahagianya hati bapak tersebut bisa berkumpul dan membagi kebahagiaan dengan anak dan menantunya.

Pada mulanya terjadi komunikasi yang sangat baik antara Ayah-Anak-Menantu yang membuat Ayahnya yang sangat mencintai anak tunggalnya itu tersebut tanpa sedikitpun ragu-ragu menghibahkan seluruh harta kekayaan termasuk apartment yang mereka tinggali, dibaliknamakan ke anaknya itu melalui Notaris terkenal di sana.

Tahun-tahun berlalu, seperti biasa, masalah klasik dalam rumah tangga, jika anak menantu tinggal seatap dengan orang tua, entah sebab mengapa, suatu hari mereka bertengkar hebat, yang pada akhirnya, anaknya tega mengusir sang Ayah keluar dari apartement mereka yang ia warisi dari Ayahnya.

Karena seluruh hartanya, Apartemen, Saham, Deposito, Emas dan uang tunai sudah diberikan kepada anaknya, mulai hari itu dia menjadi pengemis di Orchard Rd. Bayangkan, orang kaya mantan pebisnis yang cukup terkenal di Singapura tersebut, tiba-tiba menjadi pengemis!

 
Suatu hari, tanpa disengaja melintas mantan teman bisnisnya dulu dan memberikan sedekah, dia langsung mengenali si ayah ini dan menanyakan kepadanya, apakah ia teman bisnisnya dulu. Tentu saja, si ayah malu dan menjawab bukan, mungkin Anda salah orang, katanya.

Akan tetapi temannya curiga dan yakin, bahwa orang tua yang mengemis di Orchad Road itu adalah temannya yang sudah beberapa lama tidak ada kabar beritanya. Kemudian, temannya ini mengabarkan hal ini kepada teman-temannya yang lain, dan mereka akhirnya bersama-sama mendatangi si Ayah.

Semua mantan sahabat karibnya tersebut langsung yakin bahwa pengemis tua itu adalah Mantan pebisnis kaya yang dulu mereka kenal. Dan dihadapan para sahabatnya, si ayah dengan menangis ter-sedu-sedu, dia menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya. Maka, terjadilah kegemparan di sana, karena semua orangtua di sana merasa sangat marah terhadap anak yang sangat tidak bermoral itu.

Kegemparan berita tersebut akhirnya terdengar sampai ke telinga PM Lee Kwan Yew Senior.

PM Lee sangat marah dan langsung memanggil anak dan menantu durhaka tersebut. Mereka dimaki-maki dan dimarahi habis-habisan oleh PM Lee dan PM Lee mengatakan “Sungguh sangat memalukan bahwa di Singapura ada anak durhaka seperti mereka” .

Lalu PM Lee memanggil sang Notaris dan saat itu juga surat hibah itu dibatalkan demi hukum! Dan surat hibah yang sudah baliknama ke atas nama anaknya tersebut disobek-sobek oleh PM Lee. Sehingga semua harta milik yang sudah dihibahkan tersebut kembali ke atas nama Ayahnya, bahkan anak menantu itu sejak saat itu dilarang masuk ke Apartment ayahnya.

Mr Lee Kwan Yew ini ternyata terkenal sebagai orang yang sangat berbakti kepada orangtuanya dan menghargai para lanjut usia (lansia). Sehingga, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Mr Lee mengeluarkan Kebijakan/Dekrit yaitu “Larangan kepada para orangtua untuk tidak menghibahkan harta bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal. Kemudian, agar para lansia itu tetap dihormati dan dihargai hingga akhir hayatnya, maka dia buat Kebijakan berupa Dekrit lagi, yaitu agar semua Perusahaan Negara dan swasta di Singapura memberi pekerjaan kepada para lansia.Agar para lansia ini tidak tergantung kepada anak menantunya dan mempunyai penghasilan sendiri dan mereka sangat bangga bisa memberi angpao kepada cucu-cucunya dari hasil keringat mereka sendiri selama 1 tahun bekerja.

 

Anda tidak perlu heran jika Anda pergi ke Toilet di Changi Airport, Mall, Restaurant, Petugas cleaning service adalah para lansia. Jadi selain para lansia itu juga bahagia karena di usia tua mereka masih bisa bekerja, juga mereka bisa bersosialisasi dan sehat karena banyak bergerak.

Satu lagi sebagaimana di negeri maju lainnya, PM Lee juga memberikan pendidikan sosial yang sangat bagus buat anak2 dan remaja di sana, bahwa pekerjaan membersihkan toilet, meja makan diresto dan sebagainya itu bukan pekerjaan hina, sehingga anak2 tsb dari kecil diajarkan untuk tahu menghargai orang yang lebih tua, siapapun mereka dan apapun profesinya. Sebaliknya, Anak di sana dididik menjadi bijak dan terus memelihara rasa hormat dan sayang kepada orangtuanya, apapun kondisi orangtuanya.

 

Meskipun orangtua mereka sudah tidak sanggup duduk atau berdiri,atau mungkin sudah selamanya terbaring diatas tempat tidur, mereka harus tetap menghormatinya dengan cara merawatnya.

Mereka, warganegara Singapura seolah diingatkan oleh PM Lee agar selalu mengenang saat mereka masih balita, orangtua mereka-lah yang membersihkan tubuh mereka dari semua bentuk kotoran, memberi pula yang memberi makan dan kadang menyuapinya dengan tangan mereka sendiri, dan menggendongnya kala mereka menangis meski dini hari dan merawatnya ketika mereka sakit.

Sumber : http://pempeknyonya.com/pempek/2011/08/kisah-nyata-dari-singapura-tentang-penghormatan-kepada-orang-tua/

Meski Tak Punya Tangan dan Kaki, Anak Ini Tetap Bermain Bola



Dalam hidup ini, masalah selalu menghampiri manusia. Baik masalah ringan sampai yang berat. Karena masalah manusia menderita depresi, sakit bahkan sampai ada yang nekat menghentikan hidupnya dengan bunuh diri. Tapi hal ini tidak berlaku bagi Ellie Challis. Ia tergabung dalam klub sepakbola di sekolahnya walaupun menggunakan kaki palsu dan tanpa tangan.

Virus meningitis yang hinggap di tubuhnya, membuatnya orang yang tinggal di Essex, INggris ini kehilangan lengan dan kaki sejak tahun 2005.

Lisa, sang ibu menceritakan kisah Ellie: "Ellie bangun suatu pagi dan mengeluh sakit. Badannya demam dan tubuhnya kedinginan. Aku membawanya ke rumah sakit tapi tes darah tidak menunjukkan tanda-tanda sakit dan kami diperbolehkan pulang. Tapi ketika kami tiba di rumah, saya mendapati tiga bintik merah di bagian belakang Ellie.

"Empat jam kemudian, bintik tersebut menjadi berwarna ungu tua. Saya tahu itu meningitis dan langsung dan kami bergegas kembali ke rumah sakit. Ellie begitu berani saat dokter memasukkan tabung ke dalam dirinya dan tubuhnya membengkak sampai tiga kali ukuran.


"Ellie memburuk dengan cepat. Dalam beberapa menit dia menjadi hitam dan biru. Kemudian hanya beberapa jam kemudian jantungnya berhenti dan dokter menyampaikan kepada kami untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Ellie. Saya dan Paul (ayah Ellie) hanya berdiri di ujung tempat tidurnya dan berteriak padanya untuk bertahan hidup.


Kami pikir kami akan kehilangan Ellie, tapi luar biasa, jantung Ellie berdetak kembali. Namun empat hari berikutnya, perlahan-lahan kaki Ellie dan lengan mulai berubah menjadi hitam. Kami pun diberitahu bahwa tangan dan kakinya harus diamputasi. Kami merasa hancur. Yang saya bisa pikirkan Ellie tak akan pernah hidup normal.

Operasi itu berlangsung enam jam dan saya begitu terkejut ketika saya melihatnya - hanya tersisa sedikit dari dirinya. Saya terus menangis."

Ellie sudah 4 tahun berjalan dan beraktivitas dengan kaki palsunya. Menurut ibunya, Ellie adalah anak yang paling berani dan luar biasa. Ellie tidak memiliki masalah di lapangan sepak bola sama sekali. Ellie begitu mencintai sepakbola. Klub kesayangannya adalah Arsenal.

"Tidak memiliki kaki tidak akan menghentikan saya!" begitu ucap Ellie.

Ellie dilengkapi dengan kaki palsu baru dari Dorset ortopedi, dengan bergerak sendi lutut, pada Desember 2006, yang benar-benar membantunya. Dan hidupnya revolusi pada April 2009 ketika ia menjadi orang termuda di dunia yang akan dilengkapi dengan beberapa serat karbon khusus olahraga kaki, yang memungkinkan dia untuk bersaing dengan saudara kembarnya.

Dan dua bulan lalu dia mulai bermain sepak bola untuk tim sekolahnya.

Sumber: 
http://forum.vivanews.com/internasional/232180-meski-tak-punya-tangan-dan-kaki-anak-ini-tetap-bermain-bola.html

Chen Shu-Chu, Pedagang Sayur yang Dermawan

Pedagang sayur di sebuah pasar di Taitung Taiwan sudah menyumbang hampir Rp 3 M selama 16 tahun ini. Padahal dia juga bukan seorang yang kaya raya. Apa yang memotivasi dia menyumbang? Dan bagaimana pula dia mengumpulkan uang hingga sebanyak itu?


Sosoknya sangat sederhana, selayaknya pedagang sayur di kios kecil. Tapi yang mencengangkan dari Chen Shu-chu, si pedagang sayur itu, dia sudah menyumbang hampir Rp 3 M dalam 16 tahun terakhir ini.

Padahal, omzet penjualan sayur Chen Shu-chu tidak jauh beda dengan pedagang-pedagang lainnya. Namun ada yang membedakan Chen Shu-chu dengan pedagang lain.

”Ada dua tujuan ketika saya berjualan. Menabung, kemudian mendermakan uang itu,” kata Chen Shu-chu, pedagang sayur di pasar di Taitung, Taiwan. Itulah yang membedakan Chen Shu-chu dengan pedagang-pedagang lainnya.

Dan, karena kedermawanannya itu Chen Shu-chu masuk dalam daftar 100 Orang Berpengaruh versi Majalah Times tahun 2010, katagori pahlawan. Selain itu ia juga menjadi salah satu Hero of Philanthropy versi Forbes Asia.

Padahal dengan rendah hati, Shu-chu selalu berujar bahwa apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang istimewa. ”Ini sesuatu yang sederhana dan setiap orang bisa melakukannya. Di luar sana banyak orang yang melakukan sesuatu lebih hebat dari saya,” katanya merendah.

Tapi, jika ada seseorang yang bisa menyumbang lebih besar dari penghasilannya, hanya sedikit orangnya dan Shu-chu salah satunya. Hidupnya didedikasikan untuk membantu sesama.

Rp 3 M sudah ia sumbangkan kepada sesama. Sekitar Rp 300 juta Shu-chu sumbangkan untuk yayasan anak-anak pada 2004.
Rp 1,3 M didonasikan untuk membangun perpustakaan di sekolah tempat dia bersekolah dulu. Shu-chu juga memberikan Rp 280 juta untuk yayasan anak yatim piatu Kids Alive International dan tambahan Rp 100 juta untuk mengasuh tiga anak di yayasan itu pada 2006.

Tahun ini Shu-chu menyiapkan dana sekitar Rp 2,9 M untuk membantu pendidikan dan kesehatan masyarakat miskin. Nah, jika itu yang ia lakukan, siapa yang bisa menandingi?
Lantas, apa yang memotivasi Shu-chu menyumbang secara rutin dengan jumlah yang sangat besar itu? ”Dulu saya pernah dibantu, sekarang giliran saya membantu,” katanya.

Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal Shu-chu menyumbang. ”Tahun 1994, ayah saya meninggal dan beliau mewariskan uang sekitar Rp 250 juta dari asuransi jiwa. Tapi tidak sepeser pun saya menggunakan uang tersebut, karena itu memang bukan uang saya,” tuturnya.

Karenanya agar uang itu benar-benar bermanfaat, Shu-chu menyumbangkan keseluruhannya ke Fo Guang Shan Monastery sebuah organisasi amal masyarakat Buddha.
Dari jumlah itu Shu-chu menambahkan Rp 34 juta dari tabungannya sebagai bakti kepada ayah yang sudah membesarkannya. ”Dengan uang itu saya berdoa agar arwah saya mendapat tempat yang layak di alam baka,” tambahnya.


Keluarga Miskin


Shu-chu sendiri terlahir di keluarga miskin. Ayah dan ibunya hanya penjual sayur di pasar. Ia memiliki enam saudara yang hidupnya sangat bergantung dari hasil jualan sayur itu.

”Kami benar-benar miskin ketika saya kecil. Saya ingat adik saya sakit, tapi kami tidak bisa membawanya ke rumah sakit karena kami sama sekali tidak punya uang,” kenangnya.

Untunglah guru-guru di sekolahnya menggalang dana untuk adik Shu-chu. Hingga akhirnya si adik berhasil sembuh. Sejak saat itu Shu-chu berjanji dalam hati, kelak ia akan membantu sesamanya jika sudah bisa mencari uang sendiri.

Ujian yang diterima Shu-chu ternyata belum berhenti. Ketika berusia 13 tahun, sang ibu meninggal dunia. Sebagai anak tertua, Shu-chu merasa terpanggil untuk membantu ayahnya berjualan.

Ia pun harus berhenti sekolah dan total mengabdikan hidupnya untuk mencari nafkah. Dari penghasilannya setiap hari, Shu-chu selalu menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung.
Hal itu dilakukan setiap hari. Hingga pada jumlah tertentu, Shu-chu mendonasikan kepada anak-anak yatim piatu.

Memang tidak setiap tahun Shu-chu menyumbang, tapi setiap hari dia konsisten menabung. Paling tidak Rp 30 ribu ia sisihkan untuk ditabung.
Demi tabungan Rp 30 ribu setiap hari itu, Shu-chu harus bekerja selama 18 jam sehari. ”Saya bangun jam tiga pagi setiap harinya, kemudian mengambil sayuran dari pasar induk dan dibawa ke pasar kecil tempat saya berjualan,” tuturnya.

Mulai pukul 04.00 hingga 20.00, Shu-chu bekerja di pasar. Ia hanya makan sekali sehari agar bisa menyisihkan uang lebih banyak.
Hal itu dilakukan setiap hari tanpa lelah dan mengeluh selama 46 tahun. ”Memang melelahkan dan kadang membosankan. Tapi, saya berusaha melakukannya dengan ikhlas karena saya memiliki niat untuk menyumbang lebih banyak lagi dari penghasilan saya setiap harinya,” kata Shu-chu.



Rela Tidak Menikah


Demi mendapatkan uang yang banyak dan tanggung jawab terhadap adik-adiknya, banyak yang harus dikorbankan Shu-chu. Selain sekolah, Shu-chu juga rela tidak menikah.

Padahal ketika berusia 20-an tahun, Shu-chu nyaris mendapat kesempatan itu. ”Iya, saya memang tidak menikah, tapi sempat hampir. Waktu itu usia saya baru 20-an tahun, kemudian ayah saya mendekati saya dan menanyakan mana yang lebih penting, kehidupan pribadi saya atau saudara-saudara saya?” kenang Shu-chu.
Shu-chu pun berpikir ulang, kemudian memutuskan untuk tidak menikah. ”Saya menyadari apa gunanya hidup bahagia sementara saudara-saudara saya menderita. Toh itu juga tidak akan membuat saya bahagia,” katanya.

Dengan ikhlas Shu-chu pun tetap melajang hingga usia hampir enam dasawarsa ini. ”Kebahagiaan keluarga saya lebih penting. Setelah mereka bahagia baru memikirkan kebahagiaan saya sendiri,” imbuhnya.
Dengan melajang, Shu-chu juga merasa lebih fokus dalam menjalankan misinya. ”Andaikan saya berkeluarga, tentu saya tidak bisa berdonasi lebih banyak. Karena tentunya banyak kebutuhan yang harus saya penuhi,” kata Shu-chu lagi.

Lantas, adakah saran atau nasihat agar orang lain bersedia mendonasikan uangnya untuk orang lain? ”Aduh, setiap orang kan memiliki prinsip sendiri-sendiri. Saya berkomitmen beramal karena dulu saya pernah dibantu. Kemiskinan itu sangat mengerikan, karena keluarga saya sangat miskin dulu. Jadi, saya ingin mengurangi kemiskinan sesuai kemampuan saya,” sarannya.
Menurut Shu-chu, setiap orang juga bisa beramal. Tidak perlu menjadi kaya untuk bisa melakukannya.

”Beramal itu membahagiakan. Ada perasaan berbeda ketika bisa membuat orang lain tertawa. Wah, benar-benar tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Karenanya saya akan terus beramal,” tegasnya.

”Bagi saya, uang itu akan bermakna jika dimanfaatkan mereka yang membutuhkan,” tambahnya.



Sumber : http://pempeknyonya.com/

Mujizat Nyanyian Seorang Kakak!

Kisah nyata ini terjadi di sebuah Rumah Sakit di Tennessee , USA . Seorang ibu muda, Karen namanya sedang mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya. Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat sayang sama adiknya yang belum lahir itu

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan. Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.

Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus!

Mami, ... aku mau nyanyi buat adik kecil! Ibunya kurang tanggap.
Mami, ... aku pengen nyanyi! Karen terlalu larut dalam kesedihan dan kekuatirannya.
Mami, ... aku kepengen nyanyi! Ini berulang kali diminta

Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak. 

Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik, setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung adiknya masih hidup! Ia di cegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster.... suster tak mau tahu; ini peraturan!

Anak kecil dilarang dibawa masuk! Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: Suster, sebelum menyanyi buat adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya bagi Michael melihat adiknya! Suster terdiam menatap Michael dan berkata, tapi tidak boleh lebih dari lima menit!.

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratulmaut. Michael menatap lekat adiknya ... lalu dari mulutnya yang kecil mungil keluarlah suara nyanyian yang nyaring "... You are my sunshine, my only sunshine,you make me happy when skies are grey ..." Ajaib! si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari kakaknya.

You never know, dear, How much I love you. Please don't take my sunshine away. Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan haru melihat dan menatapnyadengan tajam dan terus, ... terus Michael! teruskan sayang! ... bisik ibunya ... The other night, dear, as I laid sleeping, I dream, I held you in my hands... dan sang adikpun meregang, seolah menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur ... I'll always love you and make you happy, if you willonly stay the same ... Sang adik kelihatan begitu tenang ... sangat tenang.

Lagi sayang! bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus bernyanyi dan ... adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai ... lalu tertidur lelap.

Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru sajaia saksikan sendiri.

Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love you". Dan ternyata Kasih Ilahi membutuhkan pula hati polos seorang anak kecil "Michael" untuk memberi kehidupan. Itulah kehendak Tuhan, tidak ada yang mustahilbagiNYA bila IA menghendaki terjadi.


Note:
Kadang hal-hal yang menentukan, dalam diri orang lain ...
Datang dari seseorang yang kita anggap lemah ...
Hadir dari seseorang yang kita tidak pernah perhitungkan ...

Selamat Jalan Koko

Cici Metta
Aku bagai rajawali kokoh yang telah jatuh dan siap terinjak. Tidak ada lagi kepakan sayapku yang menjadi kebanggaanku. Namun aku beruntung, di sisa hidupku ini kutemukan sebuah arti hidup.
Itulah curahan hati kakakku Ming saat ia divonis gagal ginjal. Keluarga yang dicintainya menginginkan kematiannya. Catatan hariannya sangat menyentuh hati dan membuat kita sadar agar bisa menghargai kehidupan. Akhirnya ia menyadari bahwa hidup bukan hanya menggapai kekayaan duniawi, mengejar mimpi belaka, tetapi juga harus mengisinya dengan cinta kasih, kebaikan dan kasih sayang.

KEPERGIAN KAKAK TERCINTA MEMBUATKU MENANGIS BERHARI HARI

Panasnya mentari, tidak memberiku kehangatan. Sejuknya angin berhembus, tidak menyejukkan hatiku. Hatiku beku dan penuh kesedihan. Aku tidak pernah rela melepaskan kepergian kakakku selamanya. Aku menangis berhari hari, penuh air mata dan kerinduan. Karena kepergiannya terkesan tragis dan begitu menderita di akhir hidupnya.

Koko, itulah sebutanku pada kakak pertamaku. Kakakku adalah kakak pertama, kami enam bersaudara. Aku terlahir sebagai adik perempuan yang kedua. Tidak begitu banyak memori yang terekam dalam ingatanku. Namun saat koko mengantarkan ku kesekolah, berjalan kaki saat aku masih SD kelas satu selalu teringat sampai hari ini.

Kehidupan koko terbilang cukup sukses, dan cukup kaya. Diusianya yang keempat puluh ia sudah memiliki segalanya. Mobil, rumah mewah, vila, tanah, toko, emas, deposito dan tabungan yang cukup menjamin masa tuanya. Karena ia sangat gigih dan selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Masa kecil kami yang sulit membuatnya termotivasi selalu untuk menjadi orang sukses dan kaya.

"Aku harus menjadi orang kaya," begitulah kata koko dalam menggapai mimpi-mimpinya.

Ternyata kekayaan duniawi, tidak menjamin kehidupannya akan berlangsung dengan damai dan harmonis. Keinginannya memiliki kartu miskin di saat ia menderita sakit, membuatku menitikan air mata. Asuransi kesehatan yang seharusnya dapat dipergunakan untuk memenuhi biaya pengobatan tidak dapat dipergunakannya. Istri dan anak-anaknya mempergunakan untuk jalan jalan keluar negeri. Kasih sayang yang telah diberikannya selama ini, lenyap begitu saja bagai tenggelam arus terbawa ombak.

Takut menjadi miskin adalah penyebab utama dari semua kisah ini. Koko telah pergi dengan kerelaan hatinya. Ia tidak mau makan dan minum saat-saat terakhir hidupnya saat dirawat dirumah sakit. Kondisinya semakin parah dan akhirnya ia meninggal. Aku sering berpikir, jangan-jangan koko sengaja mengakhiri hidupnya. Namun kutepis semua pikiran itu, biarlah ia pergi dengan damai dan tenang.

Selamat jalan Koko, tidurlah dengan indah, semoga Cahaya Terang akan selalu bersamamu selalu, menyertai koko hingga tercapainya Pantai Seberang.

USAHA PAPAKU MENGALAMI KEPAILITAN

Usaha papaku adalah pabrik cor logam, seingatku usaha papa adalah melebur besi dan membentuk cetakan sesuai permintaan pelanggan. Sebagai anak pertama dari delapan bersaudara, papa memiliki tanggung jawab yang besar. Papa dan mamaku menikah diusia yang cukup dini, diusianya yang keenam belas.

Kakekku adalah orang yang cukup ulet, merintis pabrik yang dikelolanya dari kecil. Kebutuhan keluarga semua dicukupi dari usaha ini. Kami adalah keluarga besar, dan tinggal serumah. Terkadang konflik juga datang di keluarga ini. Namun kakekku cukup bijaksana dalam menilai dan menyelesaikan masalah.

Sejak kakekku meninggal akibat penyakit stroke yang dideritanya. Papa mewariskan usaha kakek diusianya yang cukup muda. Papa juga memiiki segalanya sejak kecil. Hidup serba berkecukupan. Papa adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Mungkin papa adalah orang yang sangat beruntung, terlahir dalam keluarga berada.

Tapi hidup tidak dapat diduga, bagai roda yang selalu berputar. Usaha papa mengalami bangkrut atau pailit. Entah salah dimana, akupun tidak tahu karena usiaku masih sangat kecil disaat itu. Yang pasti sejak saat itu aku mulai merasakan tidak nyamannya hidup susah.

KARENA KECEWA KAKAKKU MARAH DAN PERGI DARI RUMAH

Sejak usaha papa mengalami pailit, Koko mulai berjualan apa saja makanan, baju, sepatu ataupun menyewakan video dari rumah kerumah. Koko berusaha hidup mandiri. Koko juga sangat rajin membantu mama mengurusi adik-adik saat itu. Mengantar kami kesekolah, mencuci baju dan menyetrika. Kami berlima adik yang beruntung rasanya. Memiliki kakak yang perhatian.

Kami hidup serumah, dengan beberapa keluarga lainnya. Hidup dengan keluarga besar membutuhkan kesabaran yang tidak sedikit. Untungnya mama cukup sabar, menghadapi sikap dan prilaku dari keluarga papa juga mama sendiri, saat papaku gagal menjalankan usaha keluarga. Mama mampu menyejukkan hati kami, bagiku mama adalah segala-galanya.

Air mata ku selalu jatuh, mengingat saat masa sulit yangpernah kami lewati. Namun aku sadar, aku jauh beruntung. Masih memiliki tempat tinggal. Dan keluarga yang baik. Jauh lebih sulit orang diluar sana, yang masih lebih menderita.

Entah mengapa suatu saat koko marah besar dengan sikap papa, yang terkesan membela dan mengutamakan adikadiknya. Keputusan koko untuk pergi dari rumah, karena ajakan temannya membuat koko semakin menjauh dari kehidupan keluarga. Aku tidak begitu paham, apa yang terjadi sebenarnya. Papa sepertinya lebih memperhatikan kebutuhan adik-adiknya daripada anaknya sendiri. Mungkin tanggung jawab moral yang dilimpahkan almarhum kakekku kepada papaku untuk mengurus keluarga inilah yang mejadi penyebabnya.

KOKO MENJADI PENGUSAHA YANG CUKUP SUKSES

Tahun demi tahunpun berganti, koko menikah dan mulai merintis usaha yang digelutinya. Kehidupannya mulai mapan diusianya yang masih cukup muda. Memiliki dua putri yang cantik, rumah mewah dan harta kekayaan menurutku sangatlah pantas mereka disebut keluarga ideal.

Namun sayang, koko melupakan kami. Koko terlena dengan kesuksesannya. Disaat kami membutuhkan koko untuk menopang keluarga, koko tidak pernah membantu ekonomi keluarga sedikitpun.

“Ming, bantulah keluarga,” begitulah kata papa memohon pada koko. Entah apa yang terjadi, aku sulit menerima kenyataan. Mengapa koko sangat keras hati dan tidak pernah peduli kepada adik-adiknya juga papa dan mama. Belakangan baru kuketahui, keuangan koko dikendalikan oleh istrinya yang berasal dari keluarga broken home dan juga kurang kasih sayang orang tuanya.

Mungkin ini juga salah satu penyebabnya, mengapa koko tidak bisa membantu kehidupan kami, dan selalu terdiam bila diminta bantuan. Rasa kecewa karena sikap papa terhadapnya dimasa lalu menambah beku hatinya untuk melihat keadaan kami.

“Ma, mengapa mama dan papa tidak pernah marah atas sikap koko. Mengapa koko begitu terhadap kita,” tanyaku penuh heran .

“Cia, kami tidak pernah merasa marah ataupun dendam atas apa yang dilakukannya, mama dan papa selalu mencintai kalian. Suatu saat kamu akan mengerti, kelak kamu  juga akan mempunyai anak,” begitulah mama menjelaskan perlahan.

“Mengapa papa juga tidak pernah marah atas sikap koko?” tanyaku pada papa.

““Cia, berkali kali mama dan papa memberi nasehat, berkali kali koko mengabaikan . Perasaan yang kami miliki jauh lebih sakit dari rasa sakit apapun. Kalian kami besarkan dengan penuh kasih dan sayang, Papa hanya menerima ini sebagai bagian dari karma, suatu saat kokomu akan sadar, bahwa apa yang dilakukannya adalah salah,” papa menjawab dengan datar.

Pendidikan mama dan papa tidaklah tinggi, mereka menikah diusia sangat dini . Namun papa ku suka sekali ke cetya saat masih muda, dan terkadang memberikan ceramah Dhamma. Beliau sangat hobi membaca. Membaca buku-buku Dhamma adalah salah satunya.

Aku sangat terharu memiliki orang tua seperti mereka. Rasanya aku tidak pernah sanggup membalas budi mereka. Air matakupun jatuh berlinang. Terima kasih ma, pa kalian orang tua yang sangat berarti bagi kami.

Papa dan mama adalah pemaaf yang luar biasa. Selalu membuka pintu maaf, memaafkan kami anak-anak yang terkadang membuat kecewa hatinya. Kami beruntung sekali pernah terlahir sebagai anak-anaknya. Papa dan Mama adalah Matahari dan Bulan yang selalu bersinar dalam kehidupan kami.

PAPA MENINGGAL KARENA STROKE DAN MAMA MENINGGAL KANKER RAHIM

Papa cukup sabar dan tabah dalam menghadapi himpitan ekonomi, dengan susah payah akhirnya papa berhasil menyekolahkan kami kuliah sampai Sarjana. Papaku meninggal akibat penyakit stroke yang dideritanya. Dan mamaku meninggal setahun kemudian setelah kematian papa karena kanker.

“Ma, mengapa papa meninggal begitu cepat, di saat aku belum mampu membahagiakan papa,” tanyaku. Mamaku hanya terdiam. Mama sangat tenggelam dalam kesedihan dan kemelekatan. Sejak kepergian papa, mama selalu menangis dan ingin pergi selamanya.

“Pa, bawa mama pergi,” begitu lah mama sering berharap.

Aku selalu merasa tidak pernah dapat membalas budi kebajikan mereka sampai kapanpun. Bila kerinduanku datang, airmataku jatuh karena selalu mengingat penyesalanku. Aku selalu merasa tidak pernah membahagiakan mereka disaat mereka masih hidup. Mama Papa, aku hanya bisa mendoakan kalian setiap saat, agar terlahir di alam bahagia.

KOKO TERDIAGNOSA GAGAL GINJAL KRONIS

Begitu ironisnya kehidupan ini. Tidak dapat diduga dan tidak dapat disangka. Koko yang terlihat segar bugar, dan terlihat bahagia dengan kehidupannya divonis gagal ginjal. Bagaikan disambar petir, kami menerima berita ini. Bagaimana mungkin koko bisa terkena penyakit ini, karena belum lama ini, koko jalan-jalan ke luar negeri bersama keluarganya. Aku selalu membayangkan kelak bisa seperti koko, hidup sukses maju dan bahagia.

Pagi itu, masih sangat gelap, aku suka bangun pagi . Membuat kesibukan kesibukan kecil sebelum memulai hari.

“Cia,… .” koko ku menyapa secara online di computer.

“Bagaimana ko, sudah ada kemajuan? “tanyaku.

“ Sulit bernafas, engap engap,”ujar koko .

“ Yang sabar ya ko, coba koko tarik nafas perlahan dan buang perlahan ,” ujarku.

“ Ya, cia.”koko pun berusaha bernafas.

Begitu susah untuk bernafas, dan satu helaan nafas sangat berarti untuk mereka yang sakit ginjal kronis. Minum dibatasi, makan dibatasi, terkadang kesulitan untuk bernafas. Maka selagi nafas masih ada, berbuatlah yang terbaik untuk kehidupan ini. Seringkali kita lupa menghargai setiap nafas kehidupan yang masih dimiliki.

Di terakhir hidupnya, koko sangat dekat padaku. Sesekali ia datang kerumah dan menginap di rumah. Berkeluh kesah mengenai sikap istri dan anak anaknya. Terkadang ia sering bermain bersama Fefe, anakku.

“Yang sabar ya ko,’ ujarku. Hanya itu yang dapat kulakukan untukny. Hanya bisa menghibur hatinya.

Walaupun terkadang hatiku penuh amarah terhadap koko, atas sikapnya pada mama dan papaku. Namun rasa sayangku kepadanya mengalahkan kebencianku pada sikapnya. Sebisa mungkin aku memberikan dukungan semangat hidupnya. Walaupun sedikit perhatian, koko sangat merasa senang dan disayang.

ISTRI DAN ANAK-ANAK BERHARAP KEMATIANNYA

Mulanya aku kurang paham, apa yang terjadi pada kehidupan kakakku. Aku menganggap semua akan baik-baik saja. Karena setahuku kemampuan ekonomi keluarga koko cukup terjamin. Koko sudah diikutsertakan dalam salah satu perusahaan asuransi. Biaya cuci darah pun lumayan dapat terbantu. Namun hidup memang bagai sinetron, koko diterlantarkan oleh keluarganya sendiri. Takut jatuh miskin adalah penyebab utama, hal inilah yang membuat mengapa mereka sangat menginginkan kepergian koko.

CATATAN HARIAN ALMARHUM

Akhirnya kupahami melalui catatan catatan hariannya koko di facebook. Ungkapan hati, penyesalan, juga kekecewaannya dan sampai pada keputusannya untuk meninggalkan kami semua selamanya.

Penuh air mata kulihat catatan hariannya. Kehidupan koko, yang bagiku sudah termasuk lumayan ternyata tidak berakhir bahagia. Penyakit gagal ginjal selama dua tahun ini, menyiksanya secara lahir dan batin.

Aku terlahir prematur dan sering sakit-sakitan, mama menjaga dan merawatku dengan baik sejak kecil . Aku sangat menyesali sikapku pada papa dan mama. Hanya karena keegoisan dan kebodohanku untuk melihat kasih sayang orang tuaku. Aku membenci sikap papa yang selalu mengutamakan saudara saudaranya daripada aku putra pertamanya.

Kokoku pernah kecewa, dikecewakan sekali oleh papa. Merasakan pahitnya kehidupan, saat usaha papa mengalami kebangkrutan. Aku baru paham sekarang, anak bisa kecewa dan begitu sakit hatinya pada sikap atau kekeliruan orang tua. Tapi orang tua berbeda, kasih sayang nya begitu dalam. Tidak pernah orang tua mengeluhkan kekecewaan yang dirasakan oleh sikap anak anak.

Kubaca setiap catatan terakhir hidupnya. Dan aku menghela nafas berkali kali.

Jika kupikirkan kembali, apa yang dirasakan mama dan papaku jauh lebih sulit. Dengan ekonomi yang tidak berkecukupan. Papa dan mama tidak bisa mengobati dirinya. Aku mulai sadar, apa yang kulakukan keliru. Jika saja waktu dapatterulang , aku ingin memperbaikinya…

Aku menderita sakit ginjal, diusiaku yang keempat puluh. Mempunyai kekayaan duniawi, namun tidak sanggup membeli kehidupan. Sejak aku sakit, istriku mulai menghitungberapa pengeluaranku. Mulai tidak membutuhkan diriku. Aku bagaikan seekor rajawali yang siap terinjak-injak. Anak-anakku sudah mulai berani berkata tidak pantas padaku. Aku merasa hidupku sudah tiada arti. Keluargaku mengharapkan kematianku. Agar tidak menjadi miskin dan hidup susah. Bahkan biaya pengobatanku dijatah, dan aku harus bekerja untuk cuci darah.

“Cia, koko tidak ingin pulang ke rumah,” tiba-tiba saja koko menjemput ku ke kantor.

“Kenapa ko, itu kan rumah koko,’ujarku.

“Rumahku bagai neraka, tidak ada ketenangan di dalamnya,” begitu kata koko memendam kekecewaan yang dalam.

“Ya sudah, koko menginap saja disini dahulu. Tenangkan hati ya,” hanya itu yang bisa kuucapkan. Ia begitu bersemangat bercanda dengan Fefe anakku. Kerinduan kasih sayang disaat terakhir hidupnya, terobati sedikit.

Keputusanku

Aku tidak akan pernah kembali kerumah, biarlah kucari jalan hidupku sendiri. Biarlah aku hidup dalam kedamaianku. Jika aku pergi selamanya. Aku ingin menitipkan pesan pada saudaraku agar tidak mengijinkan istri dan anak-anakku untuk berada disekitar mayatku. Biarlah kucari sendiri jalan hidupku mulai detik ini.

Keputusasaan yang sangat dalam, sedih sekali aku membaca catatan hariannya, aku tidak kuasa untuk tidak menangis. Koko, mengapa ini terjadi pada koko. Koko memilikikekayaan duniawi, tapi tidak berada dalam kedamaian dalam kehidupannya. Bekerja dan menghasilkan uang adalah prinsip hidupnya. “Aku harus menjadi kaya,” begitulah kata koko.

Masih beruntungnya teman temanku yang memiliki penyakit sama, tapi mereka mendapatkan cinta dan kasih sayang. Istri dan anak anak teman temanku mendukung mereka sepenuh hati. Memberikan dorongan semangat untuk hidup, memberikan perhatian yang begitu dalam.

Berbeda dengan kehidupanku, disaat aku sakit, anak anak dan istriku mencela dan selalu berharap aku pergi selamanya. Karena aku tidak produktif lagi menghasilkan uang. Disaat aku harus melakukan cuci darah, dan dapat menguras tabungan. Aku diwajibkan bekerja. Mereka khawatir akan jatuh miskin. Impian putriku agar bisa sekolah di luar negeri, membutakan mata hati keluargaku sendiri.

Hari Minggu, saat aku sedang ke vihara, koko tiba-tiba pergi dari rumahku. Dan aku hanya ditinggalkan pesan. Terima kasih Cia atas kebaikanmu, walau selama ini koko jarang dekat denganmu. Kamu adik yang baik...  begitulah tulisan koko yang terakhir. Air mataku pun mengalir jatuh saat membaca dan mengingatnya.

Tidak kusangka itulah pesan terakhir koko, sebelum ajal menjemput. Karena kesibukanku aku tidak sempat menjenguknya. Aku sempat menelponnya dan menanyakan keadaannya. Kabar yang kuterima, ia kembali ke rumah dan keluarganya sudah menerima kembali. Aku hanya berharap koko mendapatkan kasih sayang dari keluarganya disaat terakhir hidupnya.

Kondisi kesehatannya semakin parah dan Ia dirawat di rumah sakit. Ia berusaha tegar dan tabah menjalani kehidupannya. Di akhir hidupnya ia banyak merenung dan berdoa. Menyesali setiap perbuatannya, namun tetap berusaha membawa pikirannya ke arah yang baik.

Catatan terakhir, sebelum ajal menjemputnya.

Jika aku berpikir dengan bijaksana, sejauh ini aku yang salah. Aku terlalu egois untuk menilai cinta keluargaku. Aku terkadang emosi terhadap keluargaku. Rasa marah dan kecewa, atas apa yang kualami menjadikanku buta. Buta dan lupa untuk memahami arti hidup sebenarnya. Berdoa hanya disaat kesulitan dan lupa apa itu arti kasih sayang yang sesungguhnya

Akhirnya kupahami yang terjadi, tiada yang patut ditangisi ataupun disesali. Masih banyak yang harus dilakukan saat nafas masih ada. Akhirnya kusadari arti hidup, bukan hanya mengejar kesenangan duniawi. Hati yang keras menggapai mimpi belaka. Takkan berguna tanpa tahu arti hidup. Isilah hidup dengan penuh kebajikan dan dekatkanlah hatimu pada Ajaran Nya selalu, dimanapun dan kapanpun.

Selamat jalan koko ku tersayang. Damailah dalam tidur panjangmu.

Walaupun seseorang hidup seratus tahun, tetapi tidak bijaksana dan tidak terkendali, sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari dari orang yang bijaksana dan tekun bersamadhi. Dhammapada 111.
Hidup tidak pernah mudah untuk dijalankan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri dan keluarga kita. Oleh karena itu selalulah mencoba bersyukur atas apa yang ada dan berbakti pada keluarga. Agar tidak meninggalkan rasa penyesalan, sebab penyesalan selalu datang terlambat.

Sumber:  Dikutip dari buku Asal usul Pohon Salak dan Cerita-Cerita Bermakna Lainnya

Kisah Mattakundali

Seorang brahmana bernama Adinnapubbaka mempunyai anak tunggal yang amat dicintai dan disayangi bernama Mattakundali. Sayang, Adinnapubbaka adalah seorang kikir dan tidak pernah memberikan sesuatu untuk orang lain. Bahkan perhiasan emas untuk anak tunggalnya dikerjakan sendiri demi menghemat upah yang harus diberikan kepada tukang emas.

Suatu hari, anaknya jatuh sakit, tetapi tidak satu tabib pun diundang untuk mengobati anaknya. Ketika menyadari anaknya telah mendekati ajal, segera ia membawa anaknya keluar rumah dan dibaringkan di beranda, sehingga orang-orang yang berkunjung ke rumahnya tidak mengetahui keadaan itu.

Sebagaimana biasanya, di waktu pagi sekali, Sang Buddha bermeditasi. Setelah selesai, dengan mata Ke-Buddhaan Beliau melihat melihat ke seluruh penjuru, barangkali ada makhluk yang memerlukan pertolongan. Sang Buddha melihat Mattakundali sedang berbaring sekarat di beranda. Beliau merasa bahwa anak itu memerlukan pertolongannya.

Setelah memakai jubahnya, Sang Buddha memasuki kota Savatthi untuk berpindapatta. Akhirnya Beliau tiba di rumah brahmana Adinnapubbaka. Beliau berdiri di depan pintu rumah dan memperhatikan Matthakundali. Rupanya Matthakundali tidak sadar sedang diperhatikan. Kemudian Sang Buddha memancarkan sinar dari tubuh-nya, sehingga mengundang perhatian Matthakundali, brahmana muda.

Ketika brahmana muda melihat sang Buddha, timbullah keyakinan yang kuat dalam batinnya. Setelah Sang Buddha pergi, ia meninggal dunia dengan hati yang penuh keyakinan terhadap Sang Buddha dan terlahir kembali di alam surga Tavatimsa.

Dari kediamannya di surga, Matthakundali melihat ayahnya berduka-cita atas dirinya di tempat kremasi. Ia merasa iba. Kemudian ia menampakkan dirinya sebagaimana dahulu sebelum ia meninggal, dan memberitahu ayahnya bahwa ia telah terlahir di alam surga Tavatimsa karena keyakinannya kepada Sang Buddha. Maka ia menganjurkan ayahnya mengundang dan berdana makanan kepada sang Buddha.

Brahmana Adinnapubbaka mengundang Sang Buddha untuk menerima dana makanan. Selesai makan, ia bertanya, "Bhante, apakah seseorang dapat, atau tidak dapat, terlahir di alam surga; hanya karena berkeyakinan terhadap Buddha tanpa berdana dan tanpa melaksanakan moral (sila)?"

Sang Buddha tersenyum mendengar pertanyaan itu. Kemudian Beliau memanggil dewa Matthakundali agar menampakkan dirinya. Matthakundali segera menampakkan diri, tubuhnya dihiasi dengan perhiasan surgawi, dan menceritakan kepada orang tua dan sanak keluarganya yang hadir, bagaimana ia dapat terlahir di alam surga Tavatimsa. Orang-orang yang memperhatikan dewa tersebut menjadi kagum, bahwa anak brahmana Adinnapubbaka mendapatkan kemuliaan hanya dengan keyakinan terhadap Sang Buddha.

Pertemuan diakhiri oleh Sang Buddha dengan membabarkan syair kedua berikut ini:


"Manopubbangama dhamma 

manosettha manomaya 
manasa ce pasannena 
bhasati va karoti va 
tato nam sukha manveti 
chayava anapayini." 

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, 
pikiran adalah pemimpin, 
pikiran adalah pembentuk. 
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, 
maka kebahagiaan akan mengikutinya, 
bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.


Pada akhir kotbah Dhamma itu, Mattakundali dan Adinnapubbaka langsung mencapai tingkat kesucian sotapatti. Kelak, Adinnapubbaka mendanakan hampir semua kekayaannya bagi kepentingan Dhamma.

Mengapa Tidak Mau Datang?

Ini ada sebuah artikel yang intinya mencari tahu alasan mengapa para senior yang telah berhenti atau kita sebut saja mantan senior tidak mau lagi datang ke dalam sebuah organisasi.

Buat kita yang dalam sebuah kelompok atau organisasi, sudah pasti akan mengalami masalah. Masalah dalam organisasi bukanlah berarti kita tidak cocok dengan organisasi atau kelompok tersebut. Setiap masalah yang kita alami seharusnya kita jadikan pengalaman untuk memotivasi kita bukannya kita jadikan beban penghalang kita untuk maju. Dan semakin tinggi kedudukan kita semakin berat dan banyak pula masalah yang kita hadapi. jadi, janganlah berpikir menjadi seorang bos atau pemimpin itu enak karena hanya tinggal memerintah saja.

Para senior, yang telah banyak membantu dan mendidik para junior hingga bisa mengerjakan sesuatu sendiri. Mereka yang telah berjasa menciptakan generasi baru. Seiring dengan berlalunya waktu pasti sedikit demi sedikit senior ini akan menghilang, berhenti, atau keluar dari organisasi tersebut. Ini dikarenakan banyak faktor mengapa mereka lebih memilih keluar...

Memang ada beberapa yang keluar dengan baik, namun apakah ketika mereka datang kembali disambut dengan baik pula? Tidak selalu terjadi. Kebanyakan para senior yang telah keluar atau yang biasa kita sebut sebagai mantan senior enggan untuk datang dan bahkan sama sekali tidak ingin lagi datang bukanlah selalu karena masalah pada seniornya, melainkan masalah pada orang-orang yang masih berada di organisasi tersebut. Jadi, janganlah menilai para mantan senior ini setelah keluar atau berhenti menjadi sombong atau tidak mau datang lagi karena suatu masalah. Bisa jadi mereka tidak mau datang karena pelayanan di dalam organisasi tersebut sangatlah kurang.

 Ada beberapa hal mengapa senior tidak ingin datang atau bergabung dengan organisasi lagi:

1. Suasana berubah dan tidak mendukung
Suasana yang dimaksud adalah suasana yang sangat kontras perbedaannya dimana dulu suasananya membahagiakan, adanya rasa persaudaraan, menyenangkan, dan sekarang sama sekali berbeda. Mereka yang datang dianggap sebagai orang asing, seperti baru kenal, dll.

2. Para mantan senior yang datang sama sekali tidak di-welcome
Hal ini sering terjadi pada banyak mantan senior, bukan karena banyak yang tidak kenal terhadap senior tapi yang dimaksud mereka yang kenal terhadap senior tersebut. Kehadiran mereka diabaikan, serasa tidak kenal bahkan seperti musuh. Sama sekali tidak ada ungkapan terima kasih telah membantu sewaktu mantan tersebut turut berperan aktif membangun organisasi tersebut.

3. Tidak adanya rasa hormat
Para mantan senior terkadang diremehkan, bahkan digossipkan yang buruk. Menimbulkan ketidaknyamanan bagi mereka.

Renungan dari Pengalaman Pribadi

Cerita ini saya tulis berdasarkan dengan apa yang telah saya alami. Semoga cerita ini dapat membuka pikiran kita lebih luas, tidak lagi menganggap bahwa kita lebih benar dan orang lain salah. Beberapa pengalaman pribadi yang telah mengajari saya akan banyak hal, dan diajari tentunya.

Kita tidaklah selalu belajar dari sesuatu, namun kita ada waktunya mengajarkan apa yang telah kita pelajari. Dan kita tidaklah harus selalu belajar dari orang yang lebih dewasa dari kita melainkan kita juga bisa belajar dari orang yang bahkan jauh lebih kecil daripada kita dan terkadang apa yang kita pelajari dari adik-adik kita tidak bisa kita dapatkan dari kakak-kakak kita atau para senior.

Apa yang kita pelajari dari adik-adik kita tidaklah sia-sia. Hal yang utama adalah kita mulai belajar menyayangi mereka. Kebanyakan orang menyalah artikan kata ini sebagai kata CINTA. Kata sayang dan cinta memang sama dalam pengertiannya namun berbeda makna. Beberapa perbedaan yang saya dapat dari internet, rasa ’sayang’ lebih dalam daripada ‘cinta’, ’sayang’ tidak mudah berubah, ’sayang’ membuatmu berkorban dan rela menderita demi orang yang disayangi, ‘cinta’ ingin memiliki namun ’sayang’ tidak. Kata sayang bersifat lebih universal yang tertuju tidak hanya kepada satu orang saja, bisa kepada adik, kakak, ayah, ibu, teman.

Bandingkan rasa sayang orang tua kepada anaknya atau rasa sayang seorang kakak kepada adiknya dengan rasa cinta kepada pasangan kita. Pasti berbeda bukan? Hati-hatilah dalam memakai kedua kata tersebut karena dapat menyebabkan salah paham bagi mereka yang tidak tahu makna sebenarnya.

Oke, setelah membahas sedikit perbedaan kedua kata tersebut, mari kembali ke topik awal...
Semua orang yang memiliki perasaan pasti memiliki rasa sayang. Janganlah mengeluh jika kita dimarahi oleh kakak kita, orang tua kita, keluarga kita, teman kita, ataupun orang lain. Itulah salah satu cara mereka menunjukkan kasih sayang mereka kepada kita. Mereka memarahi kita dengan tujuan agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama dan menjadi orang yang lebih baik lagi. Di samping itu, bersyukurlah. Mengapa bersyukur dimarahi? Kebanyakan orang tidak menyadari satu hal yang terjadi, yaitu mereka masih peduli dan  memperhatikan kita. Bagaimana jika mereka tidak memperhatikan kita atau tidak peduli dengan kita? Apakah mereka akan tahu kesalahan kita? Bahkan memarahi kita?

Kata marah tidaklah selalu buruk. Orang-orang yang menyayangi kita memarahi kita dengan tujuan kita sadar dan mau memperbaikinya, namun terkadang dengan cara yang kurang tepat dan bukan berarti mereka hanya sekedar melampiaskan emosi mereka kepada kita. Maka dari itu, bukalah sedikit lebih luas pikiran kita.

Di samping belajar akan kasih sayang, kita juga dilatih akan kesabaran akan kelakuan yang diperbuat adik kita. Kita sering kesal jika apa yang mereka perbuat tidak kita sukai ataupun yang merugikan kita. Tapi apakah kita tahu sebabnya?

Kita sering kesal tanpa mengetahui sebabnya terlebih dahulu dan lebih mempertahankan opini sesuai dengan apa yang kita lihat. Semua yang terlihat tidaklah selalu sama dengan maksud di dalamnya. Dari beberapa yang saya ketahui, mereka membuat kita kesal karena ingin menghibur kita namun tidak tahu caranya dan kita sudah keburu berpikir buruk dengan apa yang telah diperbuatnya, dan yang paling sering adalah mereka melakukan kesalahan dengan tidak sengaja dan di luar dugaan mereka sendiri.

Pantaskah kita memarahi mereka? Setelah mengetahui maksud mereka yang sebenarnya? Renungkan lagi. Sebelum bertindak, cari tahu kebenarannya dahulu. Dengan begitu pelan tapi pasti kita telah menjadi orang yang lebih bersabar. Sesuai dengan yang saya alami ini, pada akhirnya setiap kenakalan mereka selalu saja membuat saya ingin tertawa dan tidak ada lagi rasa kesal untuk memarahi mereka bahkan saya merasa terhibur. Kuncinya adalah komunikasi.

Pesan untuk kita semua, janganlah menyia-nyiakan orang yang menyayangi kita karena merekalah yang akan selalu ada untuk kita, di saat suka maupun duka merekalah yang selalu berada di samping kita. Di saat kita tidak tahu kepada siapa kita bisa berbagi duka, mereka bisa. Di saat kita kehilangan kepercayaan, mereka bisa membuat kita percaya kembali. Di saat kita melakukan kesalahan dan terus mengulanginya, mereka dengan sabar dan tidak bosan mengingatkan kita. Namun kita sering dengan tidak sadar membuangnya begitu saja. Di saat kita ingat mereka karena membutuhkan mereka, namun mereka telah tidak ada lagi untuk kita. Sebelum itu terjadi, pertahankanlah mereka. Buatlah mereka bahagia dan bangga kepada kita...

Well, untuk sementara ini dulu yang bisa saya bagikan kepada para pembaca. Menjadi seorang adik merupakan posisi yang penting bagi seorang kakak dan begitu pula sebaliknya. Sebelum menutup cerita ini, saya ucapkan terima kasih untuk kalian, adik-adik yang telah banyak mengajariku.... :)