Chat Here

Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Showing posts with label Informasi. Show all posts
Showing posts with label Informasi. Show all posts

Nilai Sebuah Kejujuran


"MINTALAH BON STRUK PEMBAYARAN TRANSAKSI ANDA DI KASIR KAMI. Tanpa bon struk, pembayaran belanja Anda dianggap gratis. Kami akan membayar 2 kali lipat transaksi Anda."
Tulisan tersebut terpasang di atas counter kasir dan di atas tempat cuci rambut sebuah jaringan salon terkemuka di Indonesia. Jaringan salon ini biasanya ada di mall atau junction terbaru. Tulisan di atas terasa sedikit berlebihan karena pemilik salon ini kelihatannya tidak bisa mengendalikan operasional salonnya, terutama dalam mengatur arus uang kas yang masuk. Jadi pemilik salon minta bantuan konsumen untuk melaporkan karyawannya yang melakukan kecurangan.

Bila ada orang asing yang mengerti Bahasa Indonesia membaca tulisan itu, pasti dia akan sedikit menggerutu. Konsumen yang membeli seharusnya memang berhak mendapatkan bon struk pembelian layanan tanpa diminta. Struk adalah hak konsumen sebagai tanda bukti pembelian yang sah. Mengapa konsumen harus meminta? Apakah kasirnya malas mencetak struk? Apakah printer struknya sering rusak? Atau gerai yang mau menghemat kertas (go-green) sehingga tidak mencetak struk bila tidak diminta?


Mahalnya Sebuah Kejujuran
Bagi konsumen yang mengerti, tulisan di atas sebenarnya berbicara tentang masalah kejujuran. Kejujuran siapa? Ya kejujuran kasir dalam melakukan transaksi. Maksudnya? Ada oknum kasir yang enggan memasukkan transaksi konsumen ke dalam mesin kasir sehingga transaksi ini tidak tercatat dalam sistem kasir. Dengan demikian pada tutup kasir nanti akan ada kelebihan uang kas di dalam laci atau di dalam kantong oknum kasir itu.
Kemana larinya uang ini? Tergantung kesepakatan antara oknum kasir tadi dan karyawan lain; misalnya dibagi rata sesama karyawan sehingga semua karyawan akan tutup mulut dan tidak melaporkan praktik curang oknum kasir itu pada atasan atau pemilik.

Gerai salon yang saya baru saja datangi termasuk gerai yang sepi meskipun ada di dalam sebual mall. Kabarnya, omset perharinya rata-rata cuma sampai 3 juta, tetapi masing-masing karyawan bisa membawa pulang ekstra 50 ribu (tidak termasuk tip) per harinya. Bila gerai salon tadi memiliki 10 karyawan maka rata-rata per hari ada 500 ribu rupiah yang beredar diluar kasir. Bila dikalikan 30 (hari kerja salon) akan menjadi 15 juta per bulan. Itu baru dari satu gerai salon yang sepi, bisa kita bayangkan jumlah uang yang hilang itu untuk ratusan cabangnya di seluruh Indonesia. Wah jumlah yang cukup besar juga ya?

Memilih Kasir Jujur
Pengalaman saya, sangatlah sulit untuk bisa merekrut kasir yang bisa jujur untuk waktu yang lama. Bilapun ada kasir yang jujur, awalnya saja biasanya jujur, lama-lama bila dia sudah mengetahui kelemahan sistem, tidak jarang hatinya jadi tergoda juga untuk berbuat curang. Fenomena orang kepercayaan juga begitu. Kadang-kadang justru orang kepercayaanlah yang banyak "meminjam" atau menghilangkan uang perusahaan. Karyawan ataupun kasir yang paling jujur adalah diri kita sendiri, bila kita adalah seorang pemilik bisnis yang mau menunggui gerai kita setiap hari.

Memasang Internet Kamera
Pemilik bisnis bisa memasang internet camera (CCTV) pada beberapa sudut gerainya, sehingga setiap gerak-gerik karyawan bisa dimonitor dan bila perlu diputar ulang untuk penyidikan. Bila karyawan tahu setiap gerakannya diawasi, tingkah laku karyawan niscaya akan berangsur berubah. Kelemahan dari solusi ini adalah adanya biaya investasi awal pembelian hardware dan biaya bulanan akses internet. Bila anda berpikir untuk menjalankan solusi ini secara off-line(gambar direkam di hard-disk lokal) jangan heran bila hardware Anda akan sering gagal atau bermasalah. Saat terjadi kasus kehilangan atau pencurian, sering camera CCTV pas sedang tidak bekerja alias rusak (atau sengaja dimatikan oleh si oknum karyawan).

Memakai Sistem Reward and Punishment
Sistim reward and punishment seperti memasang tulisan peringatan kepada konsumen untuk minta struk kasir bisa saja dilakukan dan terkesan cukup bijaksana untuk dilakukan. Akan tetapi cara ini juga cukup mudah disiasati oleh oknum kasir yang berpengalaman.

Sungguh diluar dugaan, saya pernah menemukan seorang oknum kasir yang saat hendak menghitung barang mengajukan pertanyaan, "Pak, mau dicetak struknya nggak?" Saya diam saja, kemudian dia melanjutkan sambil jarinya menunjuk sebuah stiker di mesin cash register: "Kalau tidak cetak struk hemat kertas, kan go-green pak." Wah berapa banyak konsumen yang bersimpati dan mengiyakan untuk tidak minta struk, dan berapa banyak konsumen yang sudah terperdaya dengan alasan oknum kasir seperti ini.

Pembayaran Non-Cash dengan EDC
Cara paling jitu untuk mengatasi masalah kejujuran kasir seperti di atas adalah dengan menggunakan teknologi mesinElectronic Data Capture (EDC) dari bank penerbit kartu debit atau kartu kredit. Jadi semua transaksi di gerai dilakukan secara non-cash melalui mesin EDC yang diarahkan masuk ke satu nomor rekening tertentu (yang tidak bisa diubah tanpa persetujuan pemilik rekening). Lebih praktis karena tidak ada risiko uang palsu, risiko salah hitung, risiko saat setor tunai, atau risiko uang hilang.

Untuk bisa memiliki fasilitas mesin EDC ini memang dikenai biaya 2% untuk pembayaran dengan kartu kredit dan 0% untuk pembayaran dengan kartu debit. Bila pembayaran pelanggan bisa berangsur-angsur diarahkan menjadi non-cashmemakai debit card; maka risiko kehilangan transaksi yang disebabkan oleh oknum kasir akan tidak lagi terjadi.
Untuk mendorong pelanggan membayar dengan debit card, Anda bisa memberikan diskon tambahan 1% khusus untuk pembayaran dengan debit card. Pelanggan yang membayar cash tidak mendapatkan diskon. Pertanyaannya hanya: "Beranikah Anda hanya menerima transaksi non-cash?"
Selamat mencoba.
_________
Drs. Mukti Wibawa, MBAInspirational Business Motivator & Marketing Consultant
mukti@consultant.com
http://www.andriewongso.com/artikel/artikel_tetap/3522/Nilai_Sebuah_Kejujuran/

Anak 6 Tahun Jualan Limun Demi Selamatkan Ayahnya

Suatu kali Drew Cox, 6 tahun, menggelar meja di depan halaman rumahnya yang berumput dan tak berpagar di Gladewater, Texas, Amerika Serikat. Di situlah ia berjualan limun dalam gelas di atas meja dengan selembar karton bertulisan "Please Help My Dad". Ia menjual limun 25 cent segelasnya.

Semula tetangganya tak begitu memperhatikannya. Namun setelah ada tetangganya yang menghampirinya dan membaca karton itu, si tetangga kontan tersentuh hatinya. Drew, anak pasangan Randy Cox dan Tonya Cooley Cox, berjualan limun dan makanan kecil untuk mengumpulkan uang yang akan diberikan pada orangtuanya untuk menebus obat-obatan bagi sang ayah, Randy Cox, 30 tahun.

Randy memang didiagnosa terkena penyakit seminoma, sejenis kanker yang langka. Untuk penyembuhannya ia harus menjalani terapi dengan biaya yang lumayan besar. Randy harus menjalani empat siklus terapi. Seminggu pertama ia harus datang ke tempat pengobatannya dan menjalani terapi selama enam jam setiap hari selama seminggu. Setelah itu berhenti selama dua minggu. Kemudian terapi lagi seminggu dan berhenti dua minggu. Dan seterusnya.

"Saya sedih. Saya ingin ayah bisa kembali sehat," kata Drew memberi alasan kenapa berjualan limun seperti dikutip KLTV, Texas. "Saya melakukan ini (berjualan) karena ingin menolongnya dengan mengumpulkan uang untuk menebus obat," katanya lagi.

Randy mengaku sedih melihat apa yang dilakukan anak pertama dari tiga anaknya itu. "Itu ungkapan kasih sayangnya pada saya," katanya.


drewLalu kabar pun tersebar. Para tetangganya datang ke halaman rumah Randy untuk membeli limun Drew. Bahkan orang-orang di kawasan yang berada di luar kompleks rumahnya pun berdatangan. Dalam sehari itu jalanan di depan rumah Randy penuh oleh mobil-mobil yang diparkir. Sejumlah orang, baik anak-anak maupun orang dewasa ramai-ramai membantu Drew untuk melayani pembeli lain. Dan tentu saja mereka membayar tak seharga seperti yang ditawarkan Drew, 25 cent segelas. Hari itu Drew bisa mengumpulkan pendapatan sampai US$10.000.

Tak hanya itu, orangtua teman sekolah Drew ada juga yang menggagas penggalangan dana lewat Facebook. Dan dalam waktu yang tak terlalu lama sudah terkumpul US$3.500. "Kita tahu bahwa cinta bisa datang dari seorang anak kecil. Sangat mengagumkan," kata seorang penyumbang. (foto: KLRV.com)


Sumber : http://m.andriewongso.com/artikel/aw_corner/5172/Anak_6_Tahun_Jualan_Limun_Demi_Selamatkan_Ayahnya/

5 Burung Dalam Mitologi Dunia


Oleh: Galih Pakuan
[UNIKNYA.COM]: Burung hinggap dalam kehidupan manusia melalui mitos dan keyakinan. Burung membuat sebagian manusia memosisikannya umpama dewa, ksatria dan brahmana. Hal tersebut menyebabkan burung jadi aksesorisseorang dukun, prajurit, penyair, dan orang yang dianggap dekat dengan kehidupan dan kematian. Berikut lima mitologis burung di dunia:

1. Phoenix
Burung yang hidup dalam keyakinan bangsa Romawi, Yunani, ia digambarkan dengan segala keindahan, keanggunan dan kekuatannya. Berdasarkan mitos, burung Phoenix ini hidup selama 500 tahun. Burung Api ini digambarkan memiliki bulu sangat indah berwarna merah dan keemasan. Phoenix dikatakan dapat hidup selama 500 atau 1461 tahun. Setelah hidup selama itu, Phoenix membakar dirinya sendiri. Setelah itu, dari abunya, munculah burung Phoenix muda. Siklus hidup burung Phoenix seperti itu (regenerasi), bangkit kembali setelah mati, lalu muncul sebagai sosok yang baru. Phoenix merupakan simbol dari keabadian, lambang dari siklus kehidupan setelah mati, dan simbol dari kebangkitan tubuh setelah mati.


2. Bennu
Merupakan burung yang berfungsi sebagai korespondensi Mesir ke Phoenix, dan dikatakan jiwa dari Dewa Matahari Ra. Beberapa julukan dari Bennu adalah, ‘Dia yang datang  menjadi seorang diri’, ‘Naik Satu’, dan ‘Tuhan dari Yobel’. Bennu adalah nama umum yang diberikan kepada burung dalam bahasa Inggris, vokal asli dari nama dieja sebagai Mesir BNN oleh ahli-ahli Taurat. Bennu burung phoenix adalah mitologi Mesir. Burung ini juga dikaitkan dengan terbitnya Nil, kebangkitan, dan matahari.
 
 


3. Huma
Burung legendaris dari fabel sufi yang dikatakan tidak pernah beristirahat, menghabiskan seluruh hidupnya terbang mengelilingi bumi, dan tidak pernah mendarat. Ada juga legenda yang mengatakan dia tidak memiliki kaki. Kata huma berasal dari dua kata yang berbeda, ‘hu’ melambangkan jiwa dan ‘ma’ melambangkan air. Dalam mitologi Turki, Huma memiliki persamaan dengan burung kumay atau umay, dimana umay adalah dewi kesuburan dan keperawanan. Dalam tradisi sufi, menangkap huma merupakan suatu hal yang tidak mungkin dilakukan. Orang yang mampu menangkap huma tidak akan bertahan hidup lebih dari empat puluh hari.

 
4. Garuda
Burung ini juga merupakan simbol Negara Republik Indonesia. Tubuhnya berwarna emas, wajahnya putih cerah, sayapnya merah, memiliki paruh layaknya elang, dengan mahkota dikepalanya. Di dalam agama hindu Garuda menempati posisi yang sangat penting, Dewa Krishna mengendarainya untuk membunuh sosok Narakasura. Dalam cerita lainnya Raja Hari menunggangi Garuda untuk menyelamatkan Gayendra.

 

 

5. Fenghuang
Pada awalnya Fenghuang digambarkan sebagai dua ekor burung dimana yang jantan disebut Feng dan yang betina disebut Huang. Mulai muncul pada awal dinasti Shang (sekitar 4.000 tahun yang lalu). Pada masa dinasti Han (2.200 tahun yang lalu) dua burung ini sering digambarkan saling berhadapan satu dengan yang lain. Namun pada masa dinasti Yuan, kedua sosok ini digabungkan dan secara umum disebut sebagai Phoenix atau Raja Para Burung. Namun semenjak masa Raja Jiajing (1522 – 1566), burung ini kembali dijadikan dua sosok yang berbeda. Yang jantan dapat dikenali dari 5 /3 bulu ekor (lima / tiga ~ ganjil ~ yang) sementara yang betina memiliki 2 bulu ekor (satu ~ genap ~ yin). (**)

 






Makna Simbolik Hidangan Imlek

Hari Raya Tahun Baru Imlek bukan hanya sekedar ritual tahunan biasa dan budaya saja, tetapi juga merupakan budaya yang sekaligus menyatu dengan kepercayaan, walaupun demikian bagi mereka yang berbeda agama, maka mereka bisa turut merayakan hanya dari sudut budayanya saja. Disamping itu tidak ada salahnya untuk menambah wawasan pengetahuan kita mengetahui makna simbolik dari hidangan makanan yang disajikan pada hari raya tersebut. Sama seperti makanan untuk upacara adat atau keagamaan lainnya, makanan khas Tahun Baru Imlek juga sarat dengan berbagai macam makna simbolik.


Berdasakan kepercayaan orang-orang Tionghoa yang kaya pada umumnya selalu menyediakan 12 macam masakan dan 12 macam kue-kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti yang berkaitan dengan kemakmuran, panjang umur, kebahagiaan maupun keselamatan. Walaupun demikian bagi mereka yang tidak mampu maka cukup dengan makan mie panjang umur (siu mie) dan minum arak, tetapi ini hanya berlaku untuk mang Ucup saja, maklum arak itu adalah minum wajibnya Mang Ucup setiap hari.

Saat merayakan tahun baru Imlek kebanyakan orang Tionghoa membuat Samseng (artinya: tiga macam daging kurban) yang terdiri dari tiga jenis macam binatang yaitu ikan bandeng, ayam betina, dan daging babi.

Tujuan dibuatnya Samseng tersebut adalah sebagai perlambang sifat dari hewan; agar kita sebagai manusia tidak meniru sifat yang dilakukan oleh ketiga jenis binatang tersebut. Babi pemalas, karena kerjanya hanya makan dan tidur. Ayam yang suka pindah-pindah pada saat makan, sehinggga ketika makanan yang ada didepan matanya belum habis pun sudah mau pindah lagi ke tempat lain atau melambangkan sifat yang serakah. Lain halnya dengan ikan bandeng, karena kulit ikan itu bersisik maka ini bisa diumpamakan seperti seekor ular, dengan pengertian agar kita jangan berlaku jahat pada orang lain seperti ular.

Namun ada juga yang menghubungkan ikan sebagai perlambang rezeki, karena dalam logat Mandarin kata ”ikan” sama bunyinya dengan kata ”yu” yang berarti rezeki oleh sebab itulah dibanyak restoran Tionghoa terutama di Holland selalu ada aquarium ikan ikan mas yang melambangkan rejeki yang dilumuri dengan emas yang berjibun.

Disamping itu seperti juga pada saat merayakan pesta HUT; mie juga merupakan satu makanan wajib, sebab mie itu melambangkan panjang umur terutama Siu Mie / Shou Mian = “Mie pajang umur”. Mie ini harus disajikan tanpa putus dari ujung awal ke ujung akhir jadi benar-benar merupakan satu utaian mie, sebab dengan demikian diharapkan umur kita pun tidak akan putus-putusnya alias manjang terus. Walaupun demikian pada saat mau disantap mie tersebut boleh dipotong, maklum apabila saatnya tiba toh akhirnya usia manusia tersebut akan putus juga.

Kueh Keranjang atau Nian Gao atau lebih sering disebut kue kranjang (tii kwee) adalah kue wajib imlek. Kue ini mendapat nama dari cetakannya yang terbuat dari keranjang. Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat.

Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Kue-kue yang disajikan pada hari raya tahun baru Imlek pada umumnya ada jauh lebih manis daripada biasanya, sebab dengan demikian diharapkan di tahun mendatang jalan hidup kita bisa menjadi lebih manis lagi daripada di tahun-tahun sebelumnya.

Kue wajib lainnya adalah kue lapis legit (spekkoek) sebagai pelambang datangnya rezeki yang berlapis-lapis dan saling tumpang tindih di tahun yang akan datang, sehingga dengan demikian bisa dapat merasakan kehidupan yang lebih lebih manis dan lebih legit lagi. Kue lapis legit yang sering juga disebut sebagai “Thousand Layer Cake”, walaupun memang benar menggunakan mentega dari Belanda (roomboter), tetapi orang-orang di Belanda nya sendiri, mereka tidak mengenal kue itu. Mungkin perkataan “spek” ini diambil dari bahasa Belanda yang berarti lapisan lemak babi (bacon = bahasa Inggris), karena bentuknya mirip spek.

Buah-buahan wajib yang sudah pasti adalah pisang raja atau pisang mas yang melambangkan mas atau kemakmuran. Begitu juga dengan jeruk kuning dan diusahakan yang ada daunnya sebab ini melambangkan kemakmuran yang akan selalu tumbuh terus. Sedangkan tebu melambangkan kehidupan manis yang panjang. Walaupun demikian harus dihindari buah-buahan yang berduri seperti salak atau durian, terkecuali nanas karena namanya Wang Li yang ucapannya mirip dengan kata Wang (berjaya) disamping itu nanas juga bisa dilambangkan
sebagai mahkota raja.

Selain buah-buahan dianjurkan juga untuk makan manisan seperti kolang kaling agar pikiran bisa menjadi jernih terus dan juga agar-agar yang sebaiknya disajikan dalam bentuk bintang agar kehidupan maupun jabatannya dimasa yang akan datang bisa menjadi lebih terang dan bersinar.

Selain makanan yang wajib disajikan ada juga makanan yang sebaiknya dihindari atau dipantangkan seperti bubur, sebab ini melambangkan kemiskinan atau kesusahan. Maklum pada saat musim kelaparan di Tiongkok mereka tidak bisa menyajikan nasi. Disamping itu makanan-makanan yang berasa pahit seperti pare dan fumak sebaiknya ini juga dihindari sebab makanan tersebut melambangkan kepahitan hidup.

Asal Mula Perayaan Tahun Baru Imlek

Ada sebuah legenda kuno yang mengisahkan asal usul tradisi perayaan Imlek di Tiongkok, begini ceritanya :

Dahulu kala ada seekor monster jahat yang memiliki kepala panjang dan tanduk yang tajam. Monster yang bernama nian ini sangat ganas, dia berdiam didasar lautan, namun setiap tahun baru dia muncul kedarat untuk menyerang penduduk desa dan menelan hewan ternak. Oleh karena itu setiap menjelang tahun baru, seluruh penduduk desa selalu bersembunyi dibalik pegunungan untuk menghindari serangan monster nian ini.


Pada suatu hari saat menjelang pergantian tahun, semua penduduk desa sedang sibuk mengemasi barang-barang mereka untuk mengungsi ke pegunungan, datanglah seorang lelaki tua berambut abu-abu ke desa itu. Dia memohon ijin menginap semalam pada seorang wanita tua dan meyakinkannya bahwa dia dapat mengusir pergi monster nian ini. Tak ada satupun yang mempercayainya. Wanita tua ini memperingatkan dia untuk ikut bersembunyi bersama penduduk desa lainnya, tetapi lelaki tua ini bersikukuh menolaknya. Akhirnya penduduk desa meninggalkan dia sendirian di desa itu.


Ketika monster nian mendatangi desa ini untuk membuat kekacauan, tiba-tiba dia dikejutkan suara ledakan petasan. Nian menjadi sangat ketakutan melihat warna merah, kobaran api dan mendengar suara petasan itu. Pada saat bersamaan pintu rumah terbuka lebar lalu muncullah lelaki tua itu dengan mengenakan baju berwarna merah sambil tertawa keras. Nian terkejut dan menjadi pucat pasi, dan segera angkat kaki dari tempat itu.


Hari berikutnya, penduduk desa pulang dari tempat persembunyiannya, mereka terkejut melihat seluruh desa utuh dan aman. Sesaat mereka baru menyadari atas peristiwa yang terjadi. Lelaki tua itu sebenarnya adalah Dewata yang datang untuk menolong penduduk desa mengusir monster nian ini. Mereka juga menemukan 3 peralatan yang digunakan lelaki tua itu untuk mengusir nian. Mulai dari itu, setiap perayaan Tahun Baru Imlek mereka memasang kain merah, menyalakan petasan dan menyalakan lentera sepanjang malam, menunggu datangnya Tahun Baru. Adat istiadat ini akhirnya menyebar luar dan menjadi sebuah perayaan tradisional orang Tionghoa yang megah dalam menyambut “berlalunya nian” (dalam bahasa Tionghoa, nian berarti tahun) 


Orang Tionghoa selalu mengkaitkan periode waktu dari hari ke 23 hingga ke 30 dalam 12 belas bulan tahun lunar tepat sebelum Hari Raya Imlek sebagai “nian kecil”.


Setiap keluarga Tionghoa diharuskan membersihkan lingkungan tempat tinggal mereka untuk menyambut datangnya tahun baru. Disamping membersihkan lingkungan sekitar, setiap keluarga Tionghoa membuat berbagai hidangan menyambut Imlek yang terbuat dari daging ayam, bebek, ikan dan sapi / babi, serta manisan dan buah-buahan. Tak ketinggalan pula para orang tua membelikan baju baru untuk anak-anaknya dan mempersiapkan bingkisan angpao saat mengunjungi kerabat dan keluarga.


Ketika malam Tahun Baru tiba, seluruh keluarga berkumpul bersama. Di wilayah utara Tiongkok, setiap keluarga memiliki tradisi makan kue bola apel, yang dalam bahasa Tionghoa-nya disebut Jiao, pelafalannya sama dengan kata bersama dalam bahasa Tionghoa, sehingga kue bola apel sebagai symbol kebersamaan dan kebahagiaan keluarga. Selain itu jiao juga bermakna datangnya tahun baru. Diwilayah selatan Tiongkok, masyarakatnya suka sekali memakan kue manisan Tahun Baru (yang terbuat dari tepung beras lengket), yang melambangkan manisnya kehidupan dan membuat kemajuan dalam Tahun Baru ini (dalam bahasa Tionghoa kata “kue” dan “membuat kemajuan” memiliki pelafalan yang sama dengan kata gao) Menjelang jam 12 malam, setiap keluarga akan menyalakan petasan.


Hari pertama Tahun Baru Imlek, orang Tionghoa menggunakan baju baru dan mengucapkan selamat kepada orang yang lebih tua. Anak-anak yang mengucapkan tahun baru kepada yang lebih tua, akan mendapatkan angpao uang. Sedangkan pada hari kedua dan ketiga, mereka saling mengunjungi teman dan kerabat dekatnya.


Selama masa perayaan Tahun Baru Imlek, pada umumnya jalan-jalan diarea perdagangan penuh sesak dengan keluarga Tionghoa yang berbelanja untuk keperluan Imlek. Dibeberapa tempat diluar negeri biasanya diadakan berbagai acara hiburan menyambut Imlek seperti pertunjukkan Barongsai dan Naga, pasar bunga dan pameran klenteng.


Setelah hari ke 15 bulan pertama dalam kalender Lunar, adalah waktu diadakannya Festival Lentera, yang menandakan berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek.

Kodok dan Ikan

Ini sebuah kisah Zen. 

Alkisahnya, ada seekor kodok yang baru saja pergi dari berjalan-jalan di daratan. Ketika kembali berenang di kolam, dia bertemu dengan seekor ikan mas yang telah mengenalnya. “Halo Tuan Kodok, Anda dari mana saja?”, “Oh, saya baru saja datang dari berjalan-jalan di daratan”,jawab Sang Kodok. “Daratan? Apa itu daratan? Saya belum pernah mendengar ada tempat yang bernama daratan”. “Daratan ialah tempat di mana Anda dapat berjalan-jalan diatasnya”, Sang Kodok mencoba menerangkan tentang daratan pada Si Ikan Mas. “Oh ya, dapat berjalan-jalan diatasnya? Saya tidak percaya bahwa Anda baru saja dari daratan. Menurut saya, tidak ada tempat yang disebut daratan”, Si Ikan Mas membantah dengan sengit. “Baiklah jika Anda tidak percaya, yang pasti saya tadi memang datang dari daratan”, balas Sang Kodok dengan sabar.


“Tetapi, Tuan Kodok, coba katakan pada saya, apakah daratan itu dapat dibuat gelembung, jika saya bernafas didalamnya?” “Tidak”. “Apakah saya dapat menggerakkan sirip-sirip saya didalamnya?” “Tidak”. “Apakah tembus cahaya?” “Tidak”. “Apakah saya dapat bergerak mengikuti gelombang?” “Tidak, tentu saja”, jawab Sang Kodok dengan sabar. “Nah, Tuan Kodok, saya sudah menanyakan Anda tentang daratan, dan semua jawaban Anda adalah “Tidak”, dan itu berarti daratan itu tidak ada”, Si Ikan Mas menjawab dengan perasaan puas. “Baiklah, jika Anda berkesimpulan seperti itu. Yang jelas, saya tadi memang datang dari daratan dan daratan itu nyata adanya”,Sang Kodok menjawab sambil berlalu.


Si Ikan Mas, karena dia adalah seekor ikan yang hidupnya di air, maka dia tidak pernah mengetahui bahwa ada dunia lain selain dunia airnya. Karena dia hanya mengenal dunia air, maka semua pertanyaan ynag diajukan tentang daratan, tetap berkaitan dengan dunia air. Sebaliknya Sang Kodok, dia dapat hidup di dua dunia, dunia air dan daratan. Karenanya, Sang Kodok mengerti bahwa ada dunia lain selain dunia air tempat para ikan hidup. Dia mengerti sepenuhnya dunia air, dia juga mengerti sepenuhnya daratan, karena dia sudah mengalami pengalaman empiris di dua dunia itu.






KUTIPAN MORAL :

Demikian pula dengan Buddha. Buddha mengerti sepenuhnya alam duniawi beserta segala fenomenanya dan Nibbana sebagai pembebasan dari segala fenomena. Karena Beliau telah mengalami pengalaman empiris kehidupan duniawi dan pencapaian Nibbana. Kita adalah si ikan mas yang keras kepala. Sepanjang kita belum pernah mengalami pencapaian Nibbana, seberapa hebatnya Buddha menerangi tentang Nibbana, kita tak kan mengerti. Bukan berarti Buddha gagal mencerahi kita. KEBODOHAN KITA SENDIRILAH yang menghalangi pencerahan yang mestinya terjadi.



Mutiara pencerahan itu ada dalam diri kita. Buddha telah menunjukkan jalannya. Kini yang perlu kita lakukan hanyalah meneguhkan hati untuk menjalani jalan yang telah ditunjukkan tersebut. Mengalami sendiri pencapaian Nibbana dan mengerti apakah Nibbana itu dengan sepenuhnya. Dan menjadi orang yang memenangi pertarungan yang sejati.

Sumber:http://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150423463666805&set=a.10150240946051805.315400.300530356804&type=1

Renungan Akhir Tahun

BLIND SPOT TITIK BUTA (•)
"Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak..
Ajarilah orang benar, maka pengetahuan-nya akan bertambah".
.
•Semua pemain olahraga profesional memiliki pelatih, Para Juara diberbagai caban sekali-pun juga memiliki pelatih
.
• Padahal jika mrk berdua di-suruh bertanding jelas si Pemain lah yg akan memenangkan pertandingan tsb.
.
• Mungkin kita ber-tanya2, mengapa para Juara itu butuh pelatih kalo jelas2 dia lbh hebat dr pelatihnya?
.
• Kita hrs tahu bahwa para Juara itu butuh pelatih bkn krn pelatih-nya lbh hebat, namun krn ia butuh seseorg utk melihat hal2 yg TIDAK DAPAT dia LIHAT SENDIRI.
.
• Hal yg tdk dpt kita lihat dgn mata sendiri itulah yg disebut dgn BLIND SPOT atau TITIK BUTA . Kita hanya bisa melihat BLIND SPOT tsb dgn bantuan org lain ibaratnya kita butuh Kaca Spion waktu mengemudikan mobil .
.
• Dlm hidup, kita butuh org lain utk mengawal kehidupan kita, sekali-gus utk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita mulai bergeser
.
• Kita bth org lain utk menasihati & mengingatkan, kalau perlu harus menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yg keliru, yg bahkan kita tidak pernah menyadari.
.
• KERENDAHAN HATI unt menerima kritikan..nasihat..& teguran itulah yg justru akan menyelamatkan kita
.
• Dgn kesalahan, sebenar-nya kita belajar tentang : Peluang, Tau yg benar, Tau cara berubah.
.
• Dimanapun kita berada, ...sesulit apa-pun keadaan kita, ... yakinlah bahwa kita sedang di gerakkan ke arah yg lebih baik, tetap berusaha & selalu ber-syukur.
.
• Semoga kita bisa menjadi Teman/Saudara yg saling mengingatkan.
.
Teropong dan Introspeksi semua hal-hal yg anda nilai kurang dan Belum anda kerjakan pada Akhir Tahun ini, jadikan hal itu sbg Batu Loncatan untuk menjalani Tahun 2012 yg Lebih Baik .
Semoga .

Penantian Yang Tidak Sia-Sia

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota .

Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya.

Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong.

Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.

Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini." Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali.

Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suami nya, dan bila malam tidur di emperan toko itu.

Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu,orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan berikutnya. Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan memutuskan untuk bekerja.

Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik jelita. Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula.

Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat. "Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita". Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan anak nya dengan hati-hati di dalamnya. Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti.. Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu, di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.

Begitu lah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota ...

Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru, membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya ke sebuah rumah mewah dipusat kota . Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.

Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano.Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi.

Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan bumi terus berputar tanpa kenal istirahat. Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano, yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda yang welas asih, yang bernama Geraldo.

Setahun setelah perkimpoian mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman bunga dan istana yang paling megah di kota itu. Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi yang merubah kehidupan wanita itu. Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci meja kerja ayah nya ia melihat selembar foto seorang anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh, dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam.

Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni.

Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu didekat foto.

Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya berlinang . Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya, misalnya: kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah ayahnya..

Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama. 

Mata nya basah ketika ia keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca koran: "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?" 

Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari masa laluSerrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar dan kantor catatan sipil.

Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh panti-panti orang jompo dan badan-badansosial di seluruh negeri dan mencari data tentang seorang wanita.

Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad.

Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian. 

Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan saya untuk satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya dengan ibu saya". Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka menerimakabar bahwa ada seorang wanita yang ungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. 

Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu.

Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik.

Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya. 

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka. "Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi." 

Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi, dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam. Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikut nya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu. "Lekas, Serrafonna, mama menunggumu, sayang". Ia mulai berdoa "Tuhan, beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja".

Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya , dan ia mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan ". Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat.

Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko, tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik, dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak. 

Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulansberhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang segera memenuhi tempat itu. "Belum bergerak dari tadi." lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih esadarannya dan turun.

Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu ibu mertuanya. "Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu ."

Serrafona memandang tembok dihadapann ya, dan ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang lantai di kaki nya dan ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkan nya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

"Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya,beri kami sehari...... Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia....Jadi mama tidak menyia-nyia kan saya".

Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda.

"Mama.. ..", ia mendengar suara itu, dan ia tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras dan tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak - kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatann ya menarik lagi jiwanya yang akan lepas.

Perlahan ia membuka genggaman tangann ya, tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam. Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya di dada mamanya.

"Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu... Mama..."

Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan pemberi, Tuhan..... satu jam saja.... ...satu jam saja....."

Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.

Teman....mungkin saat ini kita sedang beruntung. Hidup ditengah kemewahan dan kondisi berkecukupan. Mungkin kita mendapatkannya dari hasil keringat sendiri tanpa bantuan orang tua kita. Namun yang perlu kita sadari, bahwa orang tua kita senantiasa berdoa untuk kita, meski itu hanya di peraduan...

Perumpamaan Pensil

Pembuat pensil meletakkan sebuah pensil di sampingnya, sebelum ia meletakkannya di dalam boks. "Ada 5 hal yang perlu kamu ketahui, Ia berkata pada pensil itu, "Sebelum aku mengirim-mu ke dunia. Ingatlah ini dan jangan pernah lupakan, dan kamu akan bisa menjadi pensil yang baik." 

"Satu: Kamu akan bisa melakukan banyak hal, tetapi hanya apabila kamu digenggam oleh pemilikmu." 

"Dua: Kamu akan mengalami peruncingan yang menyakitkan dari waktu ke waktu, tetapi kamu memerlukannya untuk menjadi pensil yang lebih baik." 

"Tiga: Kamu akan dapat membetulkan setiap kesalahan yang kamu buat." 

"Empat: Yang paling penting adalah kamu akan selalu menjadi apa yang ada di dalammu." 

"Dan lima: Di setiap permukaan kamu digunakan, kamu harus meninggalkan tandamu. Tidak peduli kondisi permukaan itu, kamu harus terus menulis." 

Pensil tersebut mengerti dan berjanji untuk mengingatnya, dan ia akhirnya diletakkan di boks dengan memiliki tujuan di hatinya . 

Sekarang gantikan pensil itu dengan dirimu. Selalu ingat ini dan jangan pernah lupakan, dan kamu 
akan menjadi orang orang yang baik. 

Satu: Kamu akan bisa melakukan hal-hal besar, tetapi hanya jika kamu mengijinkan kamu 
digenggam oleh "KEBENARAN". 

Dua: Kamu akan mengalami asahan yang menyakitkan dari waktu ke waktu, dengan melalui berbagai masalah di hidup, tetapi kamu membutuhkannya untuk menjadi orang yang lebih baik. 

Tiga: Kamu akan dapat memperbaiki setiap kesalahan yang kamu buat. 

Empat: Yang paling penting adalah kamu akan selalu menjadi apa yang sudah ada dalam dirimu. 

Dan lima: Di setiap permukaan dimana kamu berjalan, kamu harus meninggalkan jejakmu. Tidak peduli apapun situasi yang kamu alami, kamu harus melanjutkan tugasmu. 

Pesan Cerita
Biarkan perumpamaan tentang pensil ini membesarkan hatimu bahwa kamu adalah orang yang spesial dan hanya kamulah yang dapat menuntaskan tujuan kamu dilahirkan ke dunia. Jangan pernah ijinkan dirimu menjadi putus asa dan berpikir bahwa hidupmu tak berarti dan tidak dapat membuat sebuah perubahan. 

Share By : Hotata Indonesia & Inmaxpro Corp
Visit Our Website :
www.inmaxpro.com
Follow Our Twitter @tzuchi_indo

Apa itu Plum Village?


Plum Village adalah sebuah pusat tempat meditasi yang terkenal dengan ketenangannya (kalo saya tidak salah dengar). Untuk penjelasan lebih lanjut silahkan dibaca saja.
Selamat membaca dan semoga bermanfaat. :)

Plum Village (Lang Mai) adalah sebuah pusat meditasi Buddhis di Dordogne, di selatan Perancis. Didirikan oleh biksu Vietnam Thich Nhat Hanh, dan rekannya Chan Khong bhikkhuni, pada tahun 1982.

Sejarah


Thich Nhat Hanh, founder of the Plum Village retreat
Setelah menolak hak untuk kembali ke Vietnam, Thich Nhat Hanh membentuk komunitas perhatian kecil 100 mil selatan-barat Paris disebut Kentang Manis, makanan orang kurang mampu di Vietnam. Setelah pengusiran Thich Nhat Hanh dari Singapura berikut upaya ilegal untuk menyelamatkan penduduk perahu Vietnam, ia menetap di Perancis dan mulai untuk memimpin retret kesadaran. Pada tahun 1981, komunitas Kentang Manis mengadakan retret musim panas pertama, yang menarik orang lebih dari akomodasi itu. Thich Nhat Hanh kemudian melanjutkan perjalanan ke selatan dengan rekannya Chan Khong untuk menemukan situs yang lebih besar. Mereka menemukan sepotong tanah di Thenac yang tampaknya ideal. Pemilik tanah, Mr Dezon, tidak ingin menjual, sehingga mereka terus mencari. Beberapa hari kemudian, pada tanggal 28 September 1982, Thich Nhat Hanh membeli sebidang tanah sekitar 6 kilometer jauhnya, yang sekarang dikenal sebagai Dusun Bawah (XOM Ha). Belakangan tahun itu, badai es menghancurkan kebun-kebun anggur di properti Mr Dezon dan ia dipaksa untuk meletakkan tanahnya di pasar. Nhat Hanh membeli tanah dan menyebutnya DusunAtas (XOM Thuong). Awalnya, kedua dusun yang bernama Desa Kesemek (LangHong), tetapi segera menjadi jelas bahwa pohon plum bernasib jauh lebih baik pada tanah berbatu, sehingga menjadi Plum Village (Lang Mai).

Setiap tahun pengelola empat minggu retret musim panas, yang telah tumbuh semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran telah berkembang dari 232 orang pada tahun 1983 menjadi lebih dari 2000 orang pada tahun 2004.




Latihan
Berikut ini adalah jadwal harian rata-rata di Plum Village (Làng Mai):
  • 5:00am: Bangun
  • 6:00am: Meditasi duduk dan jalan
  • 7:30am: Sarapan
  • 9:00am: Dharma Talk / Kelas / Presentasi / Mindful work period
  • 11:30am: Meditasi jalan
  • 12:30pm: Makan siang
  • 1:30pm: Istirahat
  • 3:00pm: Meditasi kerja
  • 5:30pm: Meditasi duduk
  • 6:30pm: Makan malam opsional
  • 8:00pm: Personal study, Happiness Meeting, Beginning Anew
  • 10:00pm: Ketenangan yang mulia dimulai
  • 10:30pm: Lampu dipadamkan

Perkampungan

Hari ini, Plum Village (Lang Mai) terdiri dari empat perkampungan perumahan utama. Perkampungan bagian atas (XOM Thuong) rumah sekitar 65 biksu dan orang awam, serta menjadi tempat tinggal Thich Nhat Hanh itu. Perkampungan bagian bawah (XOM Ha) rumah lebih dari 40 biarawati dan upasika. Anak Ha Kuil rumah sekitar 20 biarawan, dan Dusun Baru (XOM Moi),20 menit perjalanan dengan bus, rumah-rumah sekitar 40 biarawati dan upasika.
Plum Village (Lang Mai) memiliki cabang di Amerika Serikat: Biara Blue Cliff di Pine Bush, New York, dan Biara Taman Rusa (Tu Uyen Vien Loc) di Escondido, California.

External links

Plum Village GPS

44.733565, 0.319117
‎+44° 44' 0.83", +0° 19' 8.82"
Source: http://www.facebook.com/pages/Plum-Village/103799546326135?sk=wiki

Orientasi (Naskah-naskah Plum Village) Part.1

Orientasi merupakan kumpulan naskah-naskah pendek yang berisi penjelasan singkat tentang latihan dasar yang dipraktikkan di Plum Village, naskah-naskah ini merupakan dasar dari latihan hidup sadar yang disusun dengan kreatif dan arif oleh Bhante Thich Nhat Hanh beserta murid-muridnya dengan tetap mengacu dan berlandaskan semangat ajaran dasar Buddha yaitu hidup sadar atau eling.


Bagaimana Menikmati Latihanmu

Perhatian penuh kesadaran (eling) merupakan energi kewaspadaan dan keterjagaan akan momen ini. Latihan ini merupakan latihan berkesinambungan untuk terus menyentuh seluruh momen kehidupan sehari-hari. Hidup sadar membuat hidup menjadi nyata, hadir bersama mereka yang berada di sekitarmu juga hadir bersama apa yang sedang engkau lakukan. Menyelaraskan badan jasmani dan pikiran ketika kita sedang mengendarai mobil ataupun ketika sedang mandi.

Latihan hidup berkesadaran bersatu padu dengan rutinitas keseharian di rumah seperti berjalan, duduk, bekerja, makan, dan sebagainya. Namun pada kesempatan ini kita melakukan semua aktivitas itu dengan penuh berkesadaran. Sadar dengan apa yang sedang kita lakukan. Kita berlatih hidup berkesadaran di kamar dan ketika berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Berlatih sebagai sanggha (komunitas) membuat suasana menjadi begitu ceria, santai, dan mantap. Setiap orang menjadi lonceng kesadaran bagi sahabat lainnya. Saling mengingatkan serta saling mendukung di sepanjang perjalanan latihan. Dengan adanya dukungan dari komunitas, kita dapat belajar untuk berbagi sukacita, aktivitas ini seperti mempersembahkan sebuah kado untuk mereka yang kita sayangi dan cintai. Kita dapat menumbuhkan soliditas dan kebebasan, solid dalam aspirasi paling dalam dan terbebas dari rasa takut, persepsi keliru, dan penderitaan.

Wahai sahabat, marilah kita mencoba berlatih dengan cara cerdas dan terampil, berhadapan dengan berbagai aspek latihan dengan penuh rasa ingin tahu dan semangat mencari tahu. Mari kita berlatih dengan menjadikan pengertian mendalam sebagai fondasi dasar dan bukan sekedar berlatih demi memamerkan tampak luarnya semata. Nikmati latihanmu di sini dengan santai dan anggun, menyertakan pikiran terbuka dan hati yang siap menerima.


Bernapas

Latihan meditasi (napas berkesadaran dan jalan berkesadaran) merupakan metode untuk menjadi lebih sadar. Napas merupakan bumi solid yang bisa menjadi tempat kita berlindung. Apa pun cuaca dalam mental, pikiran, emosi, dan persepsi, napas selalu menemani kita bagaikan seorang sahabat setia. Kapanpun kita terhanyut, tenggelam, terbawa emosi, atau terperangkap dalam kekhawatiran berlebihan, maka kita kembali bernapas untuk mengumpulkan dan menarik balik pikiran kita ke tubuh.

Rasakan arus udara masuk dan keluar hidung. Kita merasakan betapa ringan dan naturalnya napas yang menghadirkan ketenangan dan kedamaian. Di setiap waktu, ketika sedang berjalan, berkebun ataupun menulis, kita dapat kembali kepada kedamaian yang merupakan sumber kehidupan.

Ketika kamu bernapas, kamu terkonsentrasi penuh pada momen ini. Kita boleh melantunkan gatha atau syair berikut ini untuk medukung latihan napas berkesadaran:

”Bernapas masuk aku tahu aku sedang bernapas masuk”
”Bernapas keluar aku tahu aku sedang bernapas keluar"

Kita tidak perlu mengendalikan napas. Rasakan napas sebagaimana adanya. Napas kita mungkin saja panjang atau pendek, dangkal atau dalam, bernapas dengan berkesadaran maka napas akan berubah menjadi pelan dan lebih dalam secara alamiah. Bernapas dengan sadar merupakan kunci untuk mempersatukan badan jasmani dan pikiran kemudian membawa energi kesadaran hadir dalam setiap momen hidup.


Lonceng Kesadaran

Ketika anda tiba, mungkin anda akan mendengar bunyi lonceng, kemudian semua orang di sekelilingmu berhenti, berhenti berbicara, dan berhenti bergerak. Bunyi lain seperti dering telepon atau dentang jam dinding ataupun bunyi lonceng wihara, semua ini merupakan lonceng kesadaran. Ketika kita mendengar bunyi lonceng maka kita akan merelaksasikan tubuh dan mengikuti keluar dan masuknya napas. Kita lakukan hal itu secara natural, menikmati tanpa harus terlalu serius ataupun kaku.

Ketika kita mendengar salah satu bunyi lonceng kesadaran itu, kita berhenti dari segala percakapan dan apa pun yang sedang kita lakukan kemudian kita mencurahkan perhatian pada napas. Bunyi lonceng telah memanggil kita:

Dengar,dengar
Bunyi menakjubkan ini
Membawaku kembali
Ke rumah sejatiku

Dengan berhenti untuk bernapas dan menyentuh ketenangan dan kedamaian, kita menjadi bebas, semua pekerjaan serasa menyenangkan dan sahabat yang ada di depan kita juga menjadi begitu nyata. Ketika kita pulang ke rumah, kita dapat memanfaatkan dering telepon, dentang lonceng gereja, tangisan bayi ataupun bunyi sirene pemadam kebakaran dan bunyi ambulan sebagai lonceng kesadaran. Hanya dengan tiga tarikan napas kita dapat melepaskan ketidaknyamanan dalam tubuh dan pikiran, kemudian kembali menjadi sejuk dan jernih.


Membungkuk atau Tidak

Membungkuk atau tidak bukanlah inti pertanyaan. Tetapi hal yang penting adalah sadar. Ketika kita memberi salam kepada seseorang dengan cara membungkuk, kita berkesempatan untuk hadir sepenuhnya di hadapan orang tersebut, kehadiran sifat Buddha yang ada dalam diri kita juga orang lain. Kita membungkuk bukan atas dasar kesopanan ataupun alasan diplomatis, namun kita memberi salam hormat dengan membungkuk untuk mengenali bahwa hidup itu sendiri merupakan suatu keajaiban.

Ketika kita melihat seseorang menangkupkan dua tangan seperti bunga teratai dan membungkuk memberi hormat kepada kita, maka bisa dapat membalasnya. Bernapas masuk, dalam hati berkata: ”Sekuntum bunga teratai untukmu,” tundukkan kepala dan bernapas keluar kita melanjutkan: ”Seorang calon Buddha.” Kita melakukan hal ini dengan penuh kesadaran, sadar sepenuhnya akan keberadaan orang di hadapan kita. Kita membungkuk dengan tulus. Kadang-kadang kita merasa ada koneksi sangat dekat dengan mereka yang ada di hadapan kita—rasa takjub atas keajaiban hidup. Apakah itu bunga, matahari, pohon maupun setetes air hujan yang dingin, objek apa pun itu kita bisa memberi salam hormat dengan cara demikian. Untuk mempersembahkan kehadiran dan rasa terima kasih.


Gatha

Gatha adalah syair pendek untuk membantu latihan hidup berkesadaran dalam kegiatan sehari-hari. Gatha dapat membuka dan memperdalam pengalaman tindakan simpel yang sering kita abaikan. Ketika kita fokuskan pikiran pada gatha, kita kembali ke diri sendiri dan menjadi lebih sadar dalam setiap aktivitas. Ketika gatha itu berakhir, kita melanjutkan aktivitas dengan kesadaran yang sudah lebih tinggi lagi.

Ketika kita memutar keran air, kita dapat melihat secara mendalam dan melihat betapa pentingnya air bagi kehidupan. Kita teringat untuk menghemat air karena begitu banyak manusia di muka bumi ini tidak mendapatkan air apalagi air minum.

Air mengalir dari gunung tinggi
Air merembes ke dalam tanah
Secara ajaib air datang untuk kita dan
menyokong semua kehidupan

Ketika mengosok gigi, kita dapat membulatkan tekad dalam hati agar selalu berbicara dengan penuh cinta kasih. Sebelum menstarter mobil, kita dapat melantunkan gatha sebagai persiapan perjalanan aman:

Sebelum menstarter mobil
Saya tahu ke mana saya akan pergi
Mobil dan saya bersatu
Ketika mobil bergerak cepat maka saya juga bergerak cepat.

Gatha memanggil pikiran kembali ke tubuh kita. Bermodalkan pikiran damai dan jernih, sadar sepenuhnya akan aktivitas fisik, resiko kecelakaan akan lebih kecil.

Gatha merupakan nutrisi bagi pikiran, memberikan kedamaian dan ketenangan diri kita sendiri kemudian kita dapat berbagi untuk orang lain. Mereka juga membantu kita menghadirkan latihan meditasi berkelanjutan menjadi bagian dari hidup kita. Banyak gatha yang tersedia di buku ”Present Moment Wonderful Moment”.