Chat Here

Welcome to peoplewillfindtheway.blogspot.com... Feel free to explore and enjoy!

Kisah Dua Sahabat


Suatu ketika terdapat dua orang sahabat yang berasal dari keluarga terpelajar, dua bhikkhu dari Savatthi. Salah satu dari mereka mempelajari Dhamma yang pernah dikhotbahkan oleh Sang Buddha, dan sangat ahli/pandai dalam menguraikan dan mengkhotbahkan Dhamma tersebut. Dia mengajar lima ratus bhikkhu dan menjadi pembimbing bagi delapan belas group dari para bhikkhu tersebut.

Bhikkhu lainnya berusaha keras, tekun, dan sangat rajin dalam meditasi sehingga ia mencapai tingkat kesucian arahat dengan memiliki pandangan terang analitis.

Pada suatu kesempatan, ketika bhikkhu kedua datang untuk memberi hormat kepada Sang Buddha di Vihara Jetavana, kedua bhikkhu tersebut bertemu. Bhikkhu ahli Dhamma tidak mengetahui bahwa bhikkhu sahabatnya telah menjadi seorang arahat. Dia memandang rendah bhikkhu kedua itu, dia berpikir bahwa bhikkhu tua ini hanya mengetahui sedikit Dhamma. Maka dia berpikir akan mengajukan pertanyaan kepada sahabatnya, bahkan ingin membuat malu.

Sang Buddha mengetahui tentang maksud tidak baik itu, Sang Buddha juga mengetahui bahwa hasilnya akan membuat kesulitan bagi pengikut luhur seperti bhikkhu terpelajar itu. Dia akan terlahir kembali di alam kehidupan yang lebih rendah.

Dengan dilandasi kasih sayang, Sang Buddha mengunjungi kedua bhikkhu tersebut untuk mencegah sang terpelajar bertanya kepada bhikkhu sahabatnya.
Sang Buddha sendiri bertanya perihal ‘Penunggalan Kesadaran’ (jhana) dan ‘Jalan Kesucian’ (magga) kepada guru Dhamma; tetapi dia tidak dapat menjawab karena dia tidak mempraktekkan apa yang telah diajarkan.

Bhikkhu sahabatnya telah mempraktekkan Dhamma dan telah mencapai tingkat kesucian arahat, dapat menjawab semua pertanyaan. Sang Buddha memuji bhikkhu yang telah mempraktekkan Dhamma (vipassaka), tetapi tidak satu kata pujianpun yang diucapkan Beliau untuk orang yang terpelajar (ganthika).

Murid-murid yang berada di tempat itu tidak mengerti, mengapa Sang Buddha memuji bhikkhu tua dan tidak memuji kepada guru yang telah mengajari mereka. Karena itu, Sang Buddha menjelaskan permasalahannya kepada mereka.

Pelajar yang banyak belajar tetapi tidak mempraktekkannya sesuai Dhamma adalah seperti pengembala sapi, yang menjaga sapi-sapi untuk memperoleh upah, sedangkan seseorang yang mempraktekkan sesuai Dhamma adalah seperti pemilik yang menikmati lima manfaat dari hasil pemeliharaan sapi-sapi tersebut. Jadi orang terpelajar hanya menikmati pelayanan yang diberikan oleh murid-muridnya, bukan manfaat dari ‘Jalan’ dan ‘Hasil Kesucian’ (magga-phala).

Bhikkhu lainnya, berpikir dia mengetahui sedikit dan hanya bisa sedikit dalam menguraikan Dhamma, telah memahami dengan jelas inti dari Dhamma dan telah mempraktekkannya dengan tekun dan penuh semangat; adalah seseorang yang berkelakuan sesuai Dhamma (anudhammacari). Yang telah menghancurkan nafsu indria, kebencian, dan ketidak-tahuan, pikirannya telah bebas dari kekotoran batin, dan dari semua ikatan terhadap dunia ini maupun pada yang selanjutnya, ia benar-benar memperoleh manfaat dari ‘Jalan?dan ‘Hasil Kesucian’ (magga-phala).

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 19 dan 20 berikut ini :
Biarpun seseorang banyak membaca kitab suci, tetapi tidak berbuat sesuai dengan ajaran, maka orang lengah itu sama seperti gembala sapi yang menghitung sapi milik orang lain; ia tak akan memperoleh manfaat kehidupan suci.

Biarpun seseorang sedikit membaca kitab suci, tetapi berbuat sesuai dengan ajaran, menyingkirkan nafsu indria, kebencian dan ketidaktahuan, memiliki pengetahuan benar dan batin yang bebas dari nafsu, tidak melekat pada apapun baik di sini maupun di sana; maka ia akan memperoleh manfaat kehidupan suci.

Sumber: http://smsiddharta.blogspot.com/2011/08/kisah-dua-sahabat.html

Meramal Masa Depan


Banyak orang yang ingin mengetahui masa depan. Sebagian orang begitu tak sabarnya menanti apa yang akan terjadi, karena itu mereka mulai mencari jasa dukun dan peramal. Saya punya peringatan bagi Anda mengenai para peramal: jangan percaya pada peramal yang miskin!

Para bhikkhu yang berlatih meditasi dianggap sebagai peramal yang hebat, tetapi biasanya mereka tidak gampang diajak bekerja sama.



Suatu hari, seorang umat yang telah lama menjadi murid Ajahn Chah meminta sang guru besar untuk meramal masa depannya. Ajahn Chah menolak: bhikkhu yang baik tidak ramal- meramal. Tetapi si murid bersikukuh. Dia mengingatkan Ajahn Chah berapa kali dia sudah berdana makanan, berapa banyak dana yang telah dia sumbangkan untuk viharanya, dan bagaimana dia menyopiri Ajahn Chah dengan mobil dan biaya darinya, mengabaikan keluarga dan pekerjaannya sendiri. Ajahn Chah melihat bahwa orang itu terus bersikeras meminta untuk diramal, jadi dia berkata untuk sekali ini saja dia akan membuat perkecualian terhadap peraturan bahwa bhikkhu tidak boleh meramal. "Mana tanganmu. Sini kulihat telapak tanganmu."

Si murid sangat senang. Ajahn Chah belum pernah membaca telapak tangan murid lainnya. Ini spesial. Lagi pula, Ajahn Chah dianggap sebagai orang suci yang punya kemampuan batin yang hebat. Apa pun yang dikatakan oleh Ajahn Chah akan terjadi, pasti akan terjadi.

Ajahn Chah menelusuri garis-garis telapak tangan si murid dengan jarinya. Setiap beberapa saat, dia bicara sendiri, "Ooh, ini menarik" atau "Ya, ya, ya" atau "Luar biasa". Si murid yang malang itu risau dalam penantian.

Ketika Ajahn Chah selesai, dia melepaskan tangan si murid dan berkata kepadanya, "Murid, berikut ini adalah keadaan masa depanmu."

"Ya, ya," kata si murid dengan cepat.

"Dan saya tak pernah salah," tambah Ajahn Chah.

"Saya tahu, saya tahu. Jadi, bagaimana nasib masa depan saya?" tanya si murid dengan penasaran memuncak.

"Masa depanmu akan tak pasti," kata Ajahn Chah. Dan dia tidak salah!

Cukup Bersikap Baik!


Nasehat Buddha adalah :

Berbuat Kebajikan, Jauhi Kejahatan, dan Sucikan Pikiran.  

Dalam istilah praktis sehari-hari, ini berarti pelaksanaan Dana, Sila dan Bhavana.


Apa makna dari Dana? 
Secara sederhana, ia bermakna ‘memberi’ atau berderma atau membantu yang lainnya. Ini dapat diamalkan dengan beragam cara. Anda dapat melakukannya melalui ucapan dengan menggunakan kata-kata yang baik dan yang memberi semangat kepada orang lain. Bahkan memberikan sesuatu semudah sebuah senyuman dapat membantu yang lain jika hal itu memberikan hiburan dan mencerahkan hari-hari mereka.
Anda dapat senantiasa memberi tangan kepada siapapun yang membutuhkan bantuan. Anda dapat menyumbangkan tenaga atau kepunyaan anda kepada mereka yang kurang beruntung. Anda dapat juga berbagi ajaran Buddha kepada siapapun yang tertarik kepadanya. Itu adalah pemberian tertinggi dari semuanya.
Akan tetapi, usahakan untuk melakukan semuanya ini dengan tanpa penyesalan, diskriminasi atau dengan maksud tersembunyi. Amalkan Dana dengan kebaikan, belas kasih dan empati.

Apa makna dari Sila?
Ia bermakna ‘Moralitas’ dan Buddha menasehati kita untuk mengamalkan Lima Unsur dalam pelaksanaan Sila :
1.  Menghindari pembunuhan makhluk hidup manapun.
2.  Menghindari pengambilan sesuatu yang tidak diberikan.
3.  Menghindari tindakan perzinahan.
4.  Menghindari bohong dan ucapan salah.
5.  Menghindari konsumsi minuman memabukkan/obat terlarang.
Sila-sila ini bukanlah perintah tetapi peraturan yang diamalkan oleh umat Buddha sebagai bagian dari pelatihan diri.  Sila-sila diamalkan bukan karena rasa takut akan hukuman tetapi karena kita menyadari bahwa tindakan tersebut merugikan yang lainnya beserta diri kita sendiri.
Misalnya, sebagaimana diri kita sendiri tidak ingin dibunuh atau dilukai, kita menyadari bahwa semua makhluk yang lain juga tidak ingin dibunuh atau dilukai. Sama halnya dengan diri kita yang tidak ingin menjadi korban dari pencurian, perzinahan, bohong dan fitnah, kita harus menghindari diri dari tindakan tersebut terhadap orang lain.
Buddha juga dengan tegas menganjurkan untuk menghindari sesuatu yang memabukkan dan obat-obat terlarang. Sebab apabila anda berada di bawah pengaruh alkohol dan obat-obat terlarang, anda mampu melakukan tindakan yang mungkin tidak akan anda lakukan sebelumnya.
Apabila anda melanggar Sila, cara Buddhis adalah dengan sepenuhnya menyadari bahwa anda telah melakukannya, berusaha sebaik mungkin untuk mengoreksi diri, dan kemudian berketetapan hati untuk berusaha lebih keras lagi kedepannya.
Moralitas adalah fondasi penyanggah bagi segala hal. Oleh sebab itu cukup baik untuk menghafal lima Sila supaya anda dapat memperhatikannya setiap saat.
Dan ketika pengamalan lima Sila telah dengan sendirinya menjadi bagian dari sikap anda, pengembangan aspek-aspek positifnya akan menjadi mudah dan alami, yakni :
1.  Pengamalan Cinta-kasih dan Belas kasih.2.  Pengamalan Kebaikan dan Kemurahan hati.
3.  Pengamalan Kesetiaan dan Tanggung-jawab.
4.  Pengamalan Kejujuran dan Ucapan yang menyenangkan.
5.  Pengamalan Pengendalian diri dan Kewaspadaan.
  
Apa makna dari Bhavana?
Bhavana adalah pelatihan dari ‘Pengembangan Pikiran’ atau sederhananya, meditasi. Meditasi dapat dikatakan untuk menyucikan pikiran dengan memudahkannya dalam mengembangkan Kemurahan hati dan Belas kasih, dan pada akhirnya menumbuhkan kebijaksanaan.

Meditasi Buddhis biasanya dikelompokkan menjadi dua bagian – Vipassana atau meditasi Pandangan terang, dan Samatha atau meditasi Konsentrasi. Terdapat beragam jenis meditasi Samatha, dan Metta atau meditasi Cinta-Kasih adalah salah satu jenis meditasi yang banyak dipraktekkan. Semua jenis meditasi memiliki manfaat-manfaatnya.
Akan tetapi, pada umumnya dikenal bahwa melalui praktek Vipassana atau meditasi Pandangan terang kita dapat mengenali diri kita yang sebenarnya. Dan melalui hal ini kita mampu menyadari dengan lebih baik dan memahami ajaran Buddha dan melihat segala sesuatu seperti apa adanya.
Meditasi dapat dikatakan sebagai latihan Buddhis yang paling tinggi sebagaimana Buddha sendiri mencapai Pencerahan melalui meditasi.
Anda tidak membutuhkan meditasi sesi panjang untuk memulainya. Bahkan sesi pendek 10 sampai 20 menit setiap hari atau setiap hari yang lainnya dapat menakjubkan.



Apakah kita perlu memuja Buddha, secara rutin ke Vihara, atau melakukan persembahan atau pengorbanan?

Umat Buddha tidak memuja Buddha. Kita menganggap Beliau sebagai Guru kita dan demikianlah kita menghormati Beliau. Umat Buddha memberi penghormatan (menunduk) pada patung Buddha hanya semata-mata suatu cara dari kita dalam menunjukkan rasa hormat. Hal ini mirip dengan memberikan penghormatan pada bendera Negara, atau berdiri pada saat lagu kebangsaan diputar.
Juga tidak ada peraturan ketat yang mewajibkan kunjungan rutin ke Vihara. Akan tetapi, banyak umat Buddha yang melakukannya untuk berjumpa dengan sesama rekan umat Buddha atau belajar lebih banyak lagi ajaran Buddha. Juga tidak ada ketentuan apapun untuk melakukan persembahan dan umat Buddha sudah pasti tidak melakukan pengorbanan dalam bentuk apapun!
Buddha berkata bahwa cara terbaik untuk menghormati dirinya adalah dengan melaksanakan apa yang telah diajarkannya. Ini berarti latihan yang penuh perhatian dan yang konsisten, daripada kunjungan rutin ke Vihara setiap minggunya, namun kebanyakan waktu dipenuhi dengan sikap yang jahat.
Apa arti dari persembahan umat Buddha?

Secara tradisi, dupa, lilin, dan bunga adalah tiga jenis persembahan yang umum.  Umat Buddha yang berpengetahuan akan mengetahui bahwa barang-barang tersebut bukanlah ‘persembahan’ yang sesungguhnya, tetapi suatu simbolis peringatan saja.
Misalnya, dupa mengingatkan kita akan ‘harumnya’ ajaran Buddha yang menyelimuti dunia. Lilin mengibaratkan ajaran Buddha yang menerangi jalan kita di kegelapan. Dan bunga mengingatkan kita bahwa hidup kita adalah tidak kekal, serupa yang bunga yang kita persembahkan.
Bunga ketika bermekaran sangat indah dan berbau sedap, tetapi akan luntur dan layu hanya dalam beberapa hari saja. Sama halnya dengan kita semua yang pada akhirnya akan menjadi tua dan mati. Oleh sebab itu, bunga mengingatkan kita bahwa kita harus sebanyak mungkin menggunakan waktu kita untuk melakukan kebajikan terhadap orang lain, dan untuk mempraktekkan ajaran Buddha.
Jadi pada dasarnya kamma itu apa?

Kamma secara harafiah berarti ‘tindakan yang disertai kehendak’ dan ini merujuk kepada keyakinan umat Buddha akan hukum Sebab dan Akibat. Kita percaya bahwa setiap tindakan yang disengajai dapat memberi akibat baik dikehidupan saat ini maupun di kehidupan mendatang.
Hasil daripada kamma tidak seharusnya dipandang sebagai imbalan atau hukuman terhadap tindakan yang dilakukan, tetapi merupakan akibat dari sesuatu tindakan yang disengajai. Tindakan yang positif akan memberikan akibat yang positif, dan tindakan yang negative akan memberikan akibat yang negatif.
Dengan menggunakan akal pikiran yang sehat tentang hukum sebab dan akibat, ambillah contoh seseorang yang merokok, minum dan makan yang berlebihan, tanpa olahraga yang teratur. Sebagai akibat dari tindakannya, orang ini memiliki kemungkinan yang besar untuk menjadi lumpuh atau mengidap penyakit jantung dan pada saatnya mengalami banyak penderitaan. Di sisi lain, orang yang memperhatikan dietnya dan menjaga tubuhnya dengan baik biasanya dapat memiliki hidup yang sehat, bahkan di usia tuanya.
Oleh sebab itu, orang yang telah melakukan banyak kebajikan dan kemudian mengumpulkan banyak kamma positif akan menikmati hidup yang bahagia dan cenderung menuju alam manusia atau bahkan alam Surga di kelahiran yang berikutnya. Sebaliknya, orang yang telah melakukan banyak tindakan jahat dan mengumpulkan kamma negatif akan memiliki hidup yang dipenuhi dengan kesulitan, dan juga dilahirkan kembali di alam kehidupan yang rendah.
Kamma dapat juga dipandang sebagai bibit. Anda memiliki pilihan atas bibit yang ingin anda tumbuhkan. Oleh karenanya, tanamlah bibit yang baik sebanyak yang anda mampu!



Peran penting dari Kamma :
Kamma adalah satu-satunya milik kita, dan yang kita bawa serta dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.
Setiap tindakan yang disengajai dari jasmani, ucapan dan pikiran ibarat bibit yang ditanam; yang dapat berbuah ketika kondisi-kondisi mendukung. Apa yang anda tanam, itu juga yang anda panen.



Bagaimana seharusnya apabila kita telah melakukan banyak kejahatan? Dapatkah kita meminta Buddha untuk mengampuni kita?

Buddha dianggap sebagai Guru kita dan bukan seseorang tempat kita berdoa dan meminta pengampunan. Umat Buddha tidak percaya dengan perantara luar manapun yang darinya kita harus meminta ampun, atau memujanya untuk suatu pembebasan.
Jika umat Buddha harus meminta ampun, maka hal itu seharusnya ditujukan kepada orang yang telah kita lukai, dan bukan kepada pihak ketiga atau perantara luar. Apabila kita tidak mendapatkan ampun dari orang yang kita lukai atau untuk mengoreksi diri, maka kita harus merelakan hal itu, belajar darinya dan mengampuni diri kita sendiri, tentu saja dengan catatan bahwa kita tulus melakukannya.
Buddha mengajari bahwa setiap dari kita bertanggung jawab terhadap tindakan kita sendiri, dan setiap dari kita mampu menentukan nasib kita sendiri. Kita sepantasnya mempertimbangkan dengan hati-hati sebelum melakukan kejahatan apapun, dan sebaliknya berusaha melakukan kebajikan setiap saat.
Jika anda tidak yakin apabila suatu perbuatan benar atau salah, anda dapat mengaplikasikan peraturan yang sederhana ini seperti yang telah diajarkan Buddha : apabila tindakan tersebut merugikan baik diri anda sendiri atau yang lainnya, atau kedua-duanya; maka hindari tindakan tersebut. Apabila tidak, anda dapat melanjuti tindakan yang baik itu!
  
Abraham Lincoln :
“Ketika saya berbuat baik, saya merasa senang.

  Ketika saya berbuat jahat, saya merasa susah.

  itulah agama saya.”



Jadi apa yang dapat kita perbuat untuk mengatasi kamma negatif dari tindakan jahat yang telah kita lakukan?   

Menurut hukum Sebab dan Akibat, kamma negatif tidak dapat dengan semudah itu dihapus dengan kamma positif. Setiap tindakan yang disengajai akan memberikan akibat dalam waktu dekat atau di masa mendatang.
Buddha memberikan perumpamaan garam di sungai dalam menasehati kita tentang bagaimana caranya mengurangi pengaruh dari kamma negatif. Beliau berkata apabila satu sendok garam dapat membuat satu cangkir air terasa asinnya namun satu sendok yang sama ini hampir tidak memberikan pengaruh terhadap rasa air di suatu sungai.
Secara sederhana, kurangi kamma negatif yang anda miliki dengan mengumpulkan banyak kamma positif.
Dan kamma positif dikumpulkan dengan pelaksanaan Dana, Sila dan Bhavana.



Buddha :
“Jangan meremehkan kebajikan dengan berkata ia tidak berpengaruh
  bagi diriku.

  Bagaikan tetesan air yang memenuhi tempayan air.
  Begitu pula dengan orang bijak yang mengumpulkan sedikit demi sedikit,

  dia memenuhi dirinya dengan kebajikan.”





Sumber: http://www.justbegood.net

Dasar Ajaran Buddha


Buddha
Siddhattha Gotama dilahirkan di keluarga suku yang berkuasa sekitar 2500 tahun yang lalu. Ayahnya adalah kepala dari suku ini yang tinggal di India Utara berdekatan dengan perbatasan yang disebut Nepal sekarang ini. Sebagai satu-satunya putra dari kepala suku ini, dia menikmati kehidupan yang menyenangkan dan mewah dikelilingi oleh kekayaan dan wanita. Namun, bahkan sebagai seorang pemuda dia menyadari bahwa dirinya tidak akan mendapatkan kepuasan yang abadi dari cara hidup demikian.
Dia mulai melihat bahwa semua manusia tidak terlepas dari sasaran penyakit, penuaan dan kematian. Di usianya yang ke 29, dan terinspirasi oleh penglihatan sesosok petapa yang tenang dan bermartabat, dia memutuskan untuk melepaskan cara hidupnya yang mewah. Dia meninggalkan istri dan anak di dalam penjagaan keluarga bangsawannya untuk mencari jawaban dari kebahagiaan yang abadi. Setelah 6 tahun berkelana dan menjalani latihan pertapaan yang keras, dia menyadari bahwa bukan dengan cara hidup yang longgar maupun petapaan keras yang dapat membawanya pada jawaban yang dicarinya.
Dia memutuskan untuk menjalani ‘Jalan Tengah’ di antara kedua ekstrim ini. Dia kemudian duduk di bawah pohon Bodhi, menenangkan diri, makan yang baik dan berketetapan hati untuk tidak bangun sampai dia menemukan jawabannya. Setelah semalaman bermeditasi mendalam, pemahaman penuh muncul di dirinya. Dari sana, pangeran dikenal menjadi seorang Buddha yang secara harafiah berarti ‘Yang Tercerahkan’.
Buddha kemudian menghabiskan 45 tahun lamanya dari hidup Beliau untuk mengajari apa yang telah dipahaminya. Beliau membentuk komunitas para bhikkhu yang disebut Sangha, dan ajaran Buddha tersebar di seluruh India Utara. Raja, bangsawan, pedagang dan petani menjadi murid dan pengikutnya, dan bahkan sekarang, tak terhitung jumlah orang dimana saja yang mendapatkan manfaat dari ajarannya.
Beliau wafat dengan damai dalam Nibbana akhir di usia ke 80.



Empat Kebenaran Mulia

Pada saat pencerahan, Buddha menyadari Empat Kebenaran Mulia.   
  1. Semua makhluk adalah sasaran dari Dukkha.
    Dukkha biasanya diterjemahkan sebagai penderitaan tetapi sesungguhnya ia meliputi jangkauan luas dari perasaan negatif termasuk tekanan, ketidak-puasan dan penderitaan jasmani. Dukkha timbul sebab semua makhluk merupakan sasaran dari penyakit, berpisah dengan yang dicintai, tidak mendapatkan apa yang diinginkan, mengalami penuaan dan kematian. 
  2. Dukkha timbul dari hasrat dan keinginan.
    Semua makhluk menginginkan sensasi yang menyenangkan, dan juga berhasrat untuk menghindari sensasi yang tidak menyenangkan. Sensasi-sensasi ini dapat berupa jasmani maupun mental dan dukkha timbul ketika hasrat dan keinginan tidak dapat dipenuhi.
  3. Dukkha dapat diatasi dengan mengakhiri hasrat dan keinginan.
    Nibbana adalah suatu keadaan tenang dimana semua ketamakan, kebencian dan kebodohan, demikian dukkha, telah diakhiri. 
  4. Ada cara mengakhiri Dukkha, yakni Jalan Mulia Berunsur Delapan.
    Dukkha dapat dikurangi, dilemahkan dan akhirnya dilenyapkan dan Nibbana dicapai dengan mengikuti jalan yang telah diajari Buddha.
Ajaran Buddha terkadang dikritik terlalu pesimis karena kelihatannya berfokus pada penderitaan daripada kebahagiaan dan kesenangan. Tetapi semua kondisi dari kebahagiaan dan kesenangan adalah tidak kekal karena semua makhluk adalah sasaran dari penyakit, penuaan dan kematian, dan sebagai akibatnya, semua makhluk tanpa dapat menolak merupakan sasaran dari dukkha.
Sebaliknya, ajaran Buddha sebenarnya bersifat nyata karena Buddha telah mengajari kita bagaimana caranya untuk mengatasi atau mengurangi dukkha, dan bagaimana caranya mencapai kebahagiaan abadi dari Nibbana. Dengan mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan yang diajarkan Buddha, Nibbana dapat dialami bahkan di kehidupan saat ini.



Jalan Mulia Berunsur Delapan

  1. Pandangan Benar
    Memahami dan menerima Empat Kebenaran Mulia.
  2. Pikiran Benar
    Mengembangkan pikiran yang dermawan, cinta kasih dan belas kasih.
  3. Ucapan Benar
    Menghindari kebohongan, fitnah, ucapan kasar dan gossip. Untuk mengupayakan ucapan yang jujur, mendamaikan, yang baik dan bermanfaat.
  4. Perbuatan Benar
    Menghindari pembunuhan, pencurian dan perzinahan. Untuk mengupayakan cinta kasih, kejujuran dan kesetiaan.
  5. Penghidupan Benar
    Menghindari pekerjaan yang meliputi pembunuhan (manusia dan hewan), menjual daging hewan, perdagangan manusia, senjata, racun dan minuman yang memabukkan. Pekerjaan yang tidak etis, tidak bermoral dan tidak sesuai dengan hukum seharusnya juga dihindari.
  6. Usaha Benar
    Menerapkan disiplin mental dalam mencegah timbulnya pikiran jahat, dan untuk menghilangkan pikiran jahat yang telah timbul. Dalam mengembangkan pikiran baik, dan untuk mempertahankan pikiran baik yang telah timbul. 
  7. Perhatian Benar
    Memperhatikan tubuh, posisi tubuh dan sensasi. Memperhatikan pikiran dan bentuk-bentuk pemikiran, emosi dan perasaan.
  8. Konsentrasi Benar
    Mempraktekkan meditasi untuk melatih pikiran yang manunggal dan terarah dalam mengembangkan dan memperoleh kebijaksanaan.



Tiga Karateristik Kehidupan

Buddha juga menemukan bahwa semua kehidupan memiliki tiga karateristik.
Anicca
Segala sesuatu tidak kekal, dan segala sesuatu berada dalam proses perubahan menjadi sesuatu yang lainnya. Misalnya, kita semua berada dalam proses penuaan. Bahkan bintang dan galaxi juga dalam proses perubahan.
Dukkha
Karena segala sesuatu tidak kekal, kehidupan merupakan sasaran dari penderitaan. Selalu saja ada hasrat terhadap yang menyenangkan, dan juga penolakan terhadap yang tidak menyenangkan, yang dihasilkan dari sifat alami kehidupan yang terus berubah.
Anatta
Tidak ada diri yang kekal atau yang tidak berubah. ‘Diri’ yang keberadaannya kita percayai, tak lain hanya terdiri dari berbagai unsur mental dan jasmani, yang berada dalam keadaan yang terus berubah oleh proses Sebab dan Akibat.



Kelahiran Kembali

Karena tidak adanya diri yang kekal/tidak berubah, ajaran Buddha menolak keberadaan jiwa/roh yang kekal/tidak berubah yang berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya. Menurut ajaran Buddha, batin atau kesadaran bergerak dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.
Dalam paradoks yang nampak ini, orang yang berusia 70 tahun tidaklah berbeda ataupun serupa dengan orang semasa dia berusia 20 tahun. Perbedaan dan persamaan ini secara mental dan jasmani. Begitu juga, batin atau kesadaran yang bergerak dari satu kehidupan ke kehidupan yang berikutnya tidaklah berbeda ataupun serupa dengan yang ada di kehidupan sebelumnya.
Misalnya, jika nyala api dari satu lilin digunakan untuk menyalakan lilin yang lain, nyala api dari lilin kedua tidaklah serupa ataupun berbeda dari nyala api lilin pertama. Walaupun nyala api dari lilin kedua berasal dari lilin pertama.
Kamma dibawa serta oleh kesadaran menuju kehidupan yang berikutnya.
Konsep ini akan susah untuk dipahami pertama kalinya. Namun, dengan pengetahuan dan pemahaman, dan praktek meditasi pandangan terang, realisasi dan pengetahuan akhir akan timbul di dalam diri seorang praktisi.



Kumpulan Ajaran Buddha

Ajaran Buddha, yang juga dikenal sebagai Dhamma, disusun dalam tiga set buku secara terpisah. Buku-buku ini secara kolektif dikenal sebagai Tipitaka, atau Tiga Keranjang. Jumlah keseluruhan dari materinya sangat luas dan diperkirakan dua kali lebih dari Encyclopaedia Britannica.
Walaupun beberapa perubahan dan perbaikan di Tipitaka tidak terelakkan dalam masa 2500 tahun atau selama keberadaannya, diperkirakan sekitar 90% dari ajaran masih bertahan. Ini disebabkan pada saat pembacaan/pengulangan ajaran, hal itu dilakukan oleh beberapa ratus bhikkhu yang mengulangnya secara bersama-sama pada waktu yang bersamaan. Ketika pada akhirnya dilakukan dalam bentuk tulisan sekitar 80 BC, sekelompok besar para bhikkhu juga mengambil bagian dalam tugas ini dalam kesatuan. Hal ini membuat perubahan Tipitaka sangat sulit. Teks asli yang bertahan saat ini di simpan dengan baik di Sri Lanka.

Sutta Pitaka
Dibagi ke dalam lima kumpulan yang berbeda, Sutta Pitaka berisi semua kotbah-kotbah Buddha beserta beberapa kotbah dari siswa yang paling senior. Buddha sangat sukses dalam membabarkan ajarannya karena Beliau menggunakan bahasa umum yang dipakai orang-orang yang disebut Pali.
Beliau menyesuaikan sikap dan cara dari menyampaikan kotbah sehingga untuk orang biasa Beliau menggunakan konsep yang lebih sederhana, dan ide yang lebih rumit untuk pendengar yang terpelajar dan intelektual. Beliau mengajari semuanya mulai dari petani sampai raja.
Ajarannya berkisar dari panduan untuk keteladanan individu sampai komentar mendalam tentang filsafat politik dan sosial. Mereka bersifat pragmatis dan siap untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan walaupun diajari lebih dari 2500 tahun yang lalu, ajaran Beliau masih tepat guna sampai saat ini.
Vinaya Pitaka
Juga terbagi ke dalam lima buku, Vinaya Pitaka menetapkan peraturan dan panduan bagi Sangha atau komunitas bhikkhu dan bhikkhuni. Dengan setiap bhikkhu dan bhikkhuni yang memiliki hak yang sama, Sangha mungkin saja merupakan organisasi demokrat paling tua yang masih berfungsi sampai saat ini.
Abhidhamma Pitaka
Dikenal sebagai ajaran Buddha yang lebih tinggi, Abhidhamma Pitaka adalah pendekatan Dhamma yang bersifat penting dan sangat rumit dan juga sangat mendalam. Berisikan doktrin Buddhis yang disusun dan dikelompokkan secara sistematis menjadi tujuh set buku.
Walaupun secara tradisi dihubungkan dengan Buddha, banyak komentator sekarang menganggap Abhidhamma bagian dari tulisan bhikkhu-bhikkhu terpelajar yang mencampurnya ke dalam ajaran Buddha sehingga terbentuklah kumpulan yang menakjubkan ini.
Abhidhamma berhubungan dengan konsep kehidupan dan realitas. Menganalisa proses pemikiran manusia dan menyelidiki unsur dari pikiran dan bentuk-bentuk pikiran. Banyak konsep darinya berkenaan dengan realitas dan persepsi yang telah mengantisipasikan tugas dari pemikir modern dan ilmuwan.




Tradisi-tradisi umat Buddha

Mengapa terdapat bermacam-macam tradisi umat Buddha?
Ajaran Buddha ditemukan lebih dari 2500 tahun yang lalu, dan melalui perjalanan waktu yang panjang ini, telah berkembang tiga tradisi utama. Perkembangan ini terbentuk seiring dengan penyesuaian ajaran Buddha dengan kondisi dan kebudayaan dari berbagai negara dimana ajaran tersebut tersebar.
Akan tetapi, ajaran Buddha telah terbukti bertahan, sementara kulit luar mungkin berbeda, inti ajaran Buddha tetap sama untuk semua tradisi. Misalnya, persetujuan atas inti ajaran, atau “Titik yang menyatukan” di antara tradisi yang berbeda dengan resmi disahkan oleh Sidang Sangha Buddhis Sedunia di Sri Lanka pada tahun 1966.
Umat Buddha menerima dan menghargai perbedaan, dan menganggap bermacam-macam tradisi hanyalah sebagai jalur yang berbeda untuk tujuan yang sama. Pada umumnya, tradisi yang berbeda-beda ini membantu dan mendukung satu sama lain di sepanjang jalur ini.
Secara singkat, apa sebenarnya tradisi Buddhis yang bermacam-macam ini?

Tradisi Theravada adalah yang tertua dan yang paling konservatif. Ia paling dekat dengan ajaran murni/awal Buddhis seperti yang diajarkan oleh Buddha sendiri. Ia lebih sederhana dari tradisi lain dalam pendekatan, dengan sedikit upacara dan ritual, menekankan hanya pada disiplin dan moralitas dan praktek dari meditasi.
Tradisi Mahayana mulai berkembang di India sekitar 200 B.C. dan 100 A.D. Ia telah menyesuaikan diri dengan bermacam-macam kebudayaan Asia yang menyerap unsur ajaran Hindu dan ajaran Tao. Ajaran Buddhis Mahayana menekankan pada belas kasih dan keyakinan dengan tujuan membantu yang lainnya meraih pencerahan. Sekte Zen, Nichiren dan Tanah Suci tergolong dalam ajaran Buddhis Mahayana.
Tradisi Vajrayana atau Tibet muncul di India sekitar 700 A.D. ketika bhikkhu-bhikkhu Buddhis India membawa ke Tibet label ajaran Buddha dengan praktek Tantra. Ini dikombinasikan dengan unsur agama Bon setempat, memberikan Vajrayana beberapa latihan-latihan uniknya. Ia cenderung bersandaran lebih pada ritual, pembacaan mantra dan visualisasi. Tokoh Buddhis yang paling terkenal, Dalai Lama, adalah kepala spiritual dari tradisi Vajrayana.
Mengapa kata-kata yang sama dieja  secara berbeda dalam tradisi Buddhis yang berbeda-beda?

Di jaman Buddha, bahasa yang umumnya dipakai adalah Pali, berlawanan dengan Sansekerta yang digunakan terutama oleh Brahmin, pendeta ajaran Hindu. Buddha memilih untuk berbicara dan mengajar dalam Pali secara umumnya sebab Beliau menginginkan sebanyak mungkin orang untuk belajar dan mendapatkan manfaat dari ajarannya.
Sekolah Buddhis Theravada menggunakan ejaan dan pelafalan dalam Pali, dan sekolah Mahayana/Zen dan Tibet menggunakan Sansekerta pada umumnya. Contoh dari ejaan Pali adalah Dhamma, kamma dan Nibbana. Versi Sansekerta dari kata-kata ini adalah Dharma, karma dan nirvana.
Buku kecil ini menggunakan ejaan Pali sebab Pali adalah bahasa yang paling dekat dengan apa yang digunakan oleh Buddha sendiri.



Sumber: http://www.justbegood.net

Ajaran Buddha dan Mitos


Dalam ajaran Buddha, mengapa tidak ada kepercayaan terhadap Tuhan maha tinggi yang menciptakan semesta?
Umat Buddha cenderung bersikap cukup realitis dalam hal ini dan tidak mempercayai mitos penciptaan seperti alam semesta muncul dari telur kosmik, atau diciptakan oleh seorang pria tua dengan jenggot putihnya yang panjang. Jadi kita senantiasa percaya bahwa semesta selalu ada.
Apabila dikatakan bahwa makhluk yang maha kuasa atau ‘perancang terpandai’ yang menciptakan semesta, maka menimbulkan pertanyaan yang sangat jelas tentang siapa yang kemudian menciptakan atau ‘merancang’ makhluk itu? Dan apabila makhluk tersebut selalu ada, lalu bukankah lebih dapat dipercayai bahwa sebaliknya semesta selalu ada?
Dalam kasus apapun, umat Buddha tentu saja tidak percaya tentang makhluk maha kuasa dan maha tahu, dengan alasan apapun, yang mengijinkan ciptaannya sendiri untuk disiksa dalam neraka untuk selama-lamanya (sementara makhluk tersebut juga diciptakan). Dan apabila makhluk maha kuasa tersebut mengetahui sebelumnya bahwa kebanyakan dari ciptaannya ditakdirkan terbakar di neraka selama-lamanya, lalu mengapa masih saja menciptakan begitu banyak penderitaan? Juga sulit bagi umat Buddha untuk percaya bahwa makhluk maha tinggi yang penuh cinta kasih dan pemaaf ternyata juga bersikap pendendam, tidak adil, tak kenal ampun dan sadis.
Buddha menasehati kita untuk tidak memperhatikan spekulasi-spekulasi demikian, berhubung spekulasi-spekulasi ini pada akhirnya tidak bermanfaat. Beliau menyampaikan cerita tentang seseorang yang tertusuk oleh panah beracun, tidak ingin mencabut panahnya sampai dia mengetahui siapa yang menembak panah tersebut, mengapa dia tertembak, dan racun jenis apa yang ada di panahnya.
Serupa halnya dengan tugas seorang dokter yang mencabuti panah beracun tersebut dan mengobati lukanya, dan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan orang tersebut yang bukan pada waktunya; merupakan peranan Buddha dalam menunjukkan pada kita cara untuk membebaskan diri kita dari penderitaan dan tidak menjawab pertanyaan spekulatif tersebut. Oleh sebab itu, Beliau berkata kita harus lebih memikirkan dan fokus terhadap apa yang penting, yakni praktek ajaran Buddha.

Jadi ajaran Buddha tidak mengancam non-Buddhis dengan hukuman neraka yang selama-lamanya?

Tentu saja tidak! Ancaman tersebut mungkin saja dibutuhkan di jaman kuno untuk menjaga keberadaban manusia, dan juga dilakukan bersamaan dengan janji imbalan di surga. Pendekatan ini juga dilakukan  dalam menarik orang-orang untuk bergabung dengan kelompok keyakinan tertentu, dengan ancaman hukuman yang abadi dan pahala.
Umat Buddha tidak menerima konsep tentang seorang Tuhan pencemburu yang menghukumi ciptaannya sendiri hanya karena mereka memilih keyakinan yang berbeda. Secara praktis, semua bangsa yang beradab menghormati dan menjamin kebebasan berpikir dan praktek agama, seperti yang diabadikan dalam piagam PBB (Pasal 18). Penyiksaan lebih jauh lagi, dilarang oleh semua bangsa yang beradab di muka bumi. Jadi bagaimana mungkin Tuhan tertentu yang sewajarnya menciptakan kita semua, bisa jadi kurang beradab? Maka itu, umat Buddha menemukan ancaman siksaan selama-lamanya di neraka cukup sulit untuk dipercaya.
Sebagai contoh, makhluk mana yang akan mengirimkan atau mengijinkan makhluk lainnya untuk dibakar dalam neraka yang berapi-api untuk selama lamanya? Ambillah pengorek api biasa misalnya. Nyalakan di telapak tangan anda. Dapatkah anda menahan rasa sakit hanya untuk beberapa detik saja? Dapatkah anda menyalakan pengorek api tersebut di telapak tangan seseorang hanya untuk satu menit saja dan mengamati mereka berteriak dalam kesakitan? Dapatkah anda melakukan hal itu pada seseorang untuk selama-lamanya? Kekejaman tersebut di luar bayangan kita.
Lebih jauh lagi, jika dalam kuasa anda untuk menghentikan penderitaan yang sangat dan tanpa akhir itu, tidakkah akan anda lakukan? Akankah sesuatu makhluk yang sehat dan rasional tidak melakukannya? Tidak akan pernah ada pembenaran untuk kekejaman yang tak kenal ampun untuk alasan dan keadaan apapun yang memungkinkan.
Buddha tidak pernah menggunakan ancaman apapun, atau mencoba untuk memaksa siapapun dalam menerima ajarannya. Beliau percaya dengan kebebasan berpikir. Beliau mengenali bahwa tidak semua orang dapat menerima ajarannya, dan orang-orang mengalami kemajuan secara berbeda-beda dan akan memilih jalur yang berbeda untuk diri mereka sendiri. Beliau lebih menyenangi untuk menjelaskan ajarannya dengan cara yang logis dan masuk akal, dan ingin orang-orang untuk memahami dan menyadari ajarannya untuk diri mereka sendiri tanpa rasa takut akan hukuman dari dirinya.
Ajaran Buddha bukanlah mengenai ancaman atau imbalan, tetapi mengenai pengetahuan dan pemahaman.

Albert Einstein :
“Ajaran Buddha memiliki karakteristik dari apa yang dapat diharapkan
  dalam agama kosmik di masa mendatang : ia melampaui kepribadian
  Tuhan, melampaui ajaran agama dan teologi; ia melingkupi kealamian
  dan spiritual, dan ia berdasarkan pada pengertian religi, yang terwujud
  dari pengalaman akan segala hal, yang alami dan spiritual, sebagai
  kesatuan yang bermakna. Apabila ada ajaran yang dapat mengatasi
  kebutuhan pengetahuan modern, maka ajaran tersebut adalah ajaran
  Buddha.”




Sumber: http://www.justbegood.net